Damian Pinas, Petarung Suriname Di UFC

Piter Rudai 27/05/2026 4 min read
Damian Pinas, Petarung Suriname Di UFC

Jakarta – Di dunia MMA, ada petarung yang datang ke panggung besar dengan nama yang sudah lama dibicarakan, tetapi ada juga yang memaksa orang memperhatikan lewat kemenangan-kemenangan keras dan cara bertarung yang tidak setengah-setengah. Damian Pinas termasuk dalam kelompok kedua itu. Ia lahir pada 12 Maret 2002 di Paramaribo, Suriname, lalu tumbuh menjadi petarung kelas middleweight yang kini bernaung di UFC. Profil resminya menempatkannya dengan tinggi sekitar 185–186 cm, berat tanding 84 kg / 186 lbs, reach 79,5 inci, gaya bertarung orthodox, dan julukan “The Baba Yaga.” Sebuah informasi juga mencatat bahwa ia kini bertarung dari Aruba dan berafiliasi dengan Nova União.

Yang membuat Damian Pinas menarik sejak awal adalah bentuk kemenangannya. Ia digambarkan sebagai striker ortodoks dengan dasar boxing dan Muay Thai, data resmi UFC memang sangat mendukung identitas itu. Dari sembilan kemenangan profesionalnya, UFC mencatat delapan diraih lewat KO/TKO dan satu lewat submission, sementara beberapa sumber juga sama-sama menunjukkan rekor 9-1 dan gaya dasarnya sebagai striking. Itu berarti Pinas bukan petarung yang suka bertarung aman. Ia adalah petarung yang datang untuk menciptakan kerusakan, menekan lawan, dan mengakhiri laga secepat mungkin bila celah terbuka.

Titik balik terbesar dalam kariernya datang di Dana White’s Contender Series Season 9 Week 8 pada 30 September 2025, ketika ia menghadapi Vitor Costa. UFC menulis dengan jelas bahwa Pinas menang lewat TKO (right hand) pada menit 1:46 ronde pertama, dan hasil itu menjadi momen yang mengubah hidupnya. Bagi petarung middleweight, menang cepat di Contender Series selalu punya makna besar, tetapi kemenangan seperti ini punya bobot lebih karena datang sebagai main event dan memperlihatkan semua hal yang membuatnya berbahaya: timing, akurasi, dan kekuatan pukulan. Itu bukan kemenangan yang lahir dari keberuntungan. Itu adalah pernyataan.

Kemenangan atas Vitor Costa sangat penting dalam membaca siapa Damian Pinas sebenarnya. Ia tidak hanya lolos ke UFC; ia lolos dengan cara yang membuat orang langsung mengingat namanya. Dalam olahraga seperti MMA, banyak petarung menembus DWCS dengan kemenangan angka yang rapi. Pinas justru masuk lewat penyelesaian yang sangat tegas. Ia menunjukkan bahwa ketika momen itu datang, ia tidak membiarkan juri atau kontroversi menentukan nasibnya. Ia mengambil alih sendiri pertarungan itu dengan tangan kanannya.

Setelah itu, perhatian tertuju pada debut resminya di UFC. Dan di sinilah kisahnya menjadi semakin kuat. Pada 28 Februari 2026 di UFC Fight Night: Moreno vs. Kavanagh di Mexico City, Damian Pinas menghadapi Wes Schultz. Hasilnya sangat sesuai dengan reputasi yang ia bawa dari Contender Series: menang lewat TKO ronde pertama. Beberapa sumber, UFC, dan scorecard resmi UFC semuanya mencatat kemenangan itu, dengan UFC bahkan menyediakan video khusus berjudul bahwa Pinas meraih kemenangan TKO ronde pertama di debut UFC-nya. Debut semacam ini sangat penting, karena banyak petarung terlihat luar biasa di DWCS tetapi goyah saat naik ke panggung utama. Pinas justru membawa momentumnya langsung ke UFC.

Kemenangan atas Wes Schultz memberi penegasan bahwa Damian Pinas bukan sekadar petarung yang berhasil satu malam di Contender Series. Ia menunjukkan bahwa daya rusaknya nyata bahkan saat lampu menjadi lebih terang dan tekanannya lebih besar. Sebuah sumber menampilkan bahwa ia masuk ke laga itu dengan rekor 8-1 dan keluar dengan 9-1, sementara UFC scorecards menegaskan kemenangan resminya di Mexico City. Dalam konteks karier, ini sangat penting, karena debut UFC sering menjadi titik yang memisahkan prospek sungguhan dari hype semata. Pinas lulus ujian itu dengan sangat meyakinkan.

Yang juga menarik adalah bagaimana UFC mulai membingkai narasinya setelah kemenangan tersebut. Video wawancara pascalaga dari UFC menampilkan Pinas berbicara setelah kemenangan besar itu, dan laporan media mencatat bahwa ia mendedikasikan debut suksesnya sambil berharap perhatian Dana White semakin tertuju padanya. Ini memberi nuansa penting: Damian Pinas bukan petarung yang sekadar ingin bertahan di roster. Ia tampak seperti atlet yang sadar bahwa kemenangan besar di awal bisa menjadi fondasi untuk membangun reputasi lebih besar di divisi middleweight.

Secara teknik, daya tarik utama Damian Pinas jelas ada pada striking-nya. Data UFC yang mencatat delapan kemenangan KO dari sembilan kemenangan profesional menjelaskan semua itu. Tetapi ada satu detail lain yang juga menarik: ia punya satu kemenangan submission, yang berarti meskipun identitas utamanya tetap seorang striker, ia bukan petarung yang sepenuhnya satu dimensi. Untuk middleweight modern, ini penting. Lawan yang terlalu fokus menghindari pukulannya tetap harus berhati-hati jika pertarungan bergeser ke fase grappling. Namun secara keseluruhan, narasi tentang Pinas tetap sangat jelas: ia adalah petarung yang hidup dari tekanan, timing, dan pukulan yang mematikan.

Aspek yang paling menarik dari Damian Pinas mungkin justru ada pada timing kariernya. Ia masih sangat muda untuk ukuran middleweight, tetapi sudah punya cukup banyak penyelesaian dan satu debut UFC yang sangat kuat. Itu berarti ia berada di titik yang sangat menarik: cukup matang untuk dipercaya, tetapi masih cukup muda untuk terus berkembang. Dalam divisi middleweight UFC, kombinasi tinggi badan, reach yang panjang, dan striking eksplosif selalu memberi ruang bagi seorang petarung untuk naik cepat, asalkan ia mampu menjaga konsistensi. Dengan rekor 9-1 dan start UFC 1-0, Damian Pinas mulai terlihat sebagai nama yang patut diawasi lebih serius.

Kalau berbicara soal prestasi, Damian Pinas mungkin belum punya ranking resmi atau gelar besar di UFC. Namun fondasinya sudah sangat kuat. Ia berhasil menembus UFC lewat Dana White’s Contender Series, menang cepat di sana, lalu langsung memenangkan debut resminya di UFC lewat TKO ronde pertama. Di level profesional, itu sudah merupakan pencapaian besar. Tidak semua petarung bisa mengatakan bahwa mereka masuk UFC dengan cara seperti itu. Dan untuk petarung dari Suriname yang bertarung dari Aruba, pencapaian itu terasa lebih besar lagi karena datang dari jalur yang tidak biasa.

Pada akhirnya, Damian Pinas adalah kisah tentang petarung yang membangun namanya melalui ledakan. Ia lahir di Paramaribo pada 12 Maret 2002, datang dari Suriname, bertarung dari Aruba, berlatih di Nova União, dan membawa gaya ortodoks yang sangat berbahaya ke UFC. Rekornya kini 9 kemenangan dan 1 kekalahan, dengan hampir seluruh kemenangannya lahir lewat penyelesaian. Ia belum menjadi bintang besar, tetapi semua tanda awal menunjukkan bahwa ia bukan nama biasa. Dan justru karena karier UFC-nya baru dimulai dengan sangat tajam, kisah terbaik Damian Pinas tampaknya masih ada di depan.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...