Fritz Biagtan: Petarung Filipina Di ONE Championship

Piter Rudai 11/06/2026 4 min read
Fritz Biagtan: Petarung Filipina Di ONE Championship

Jakarta – Di dunia MMA Asia, ada petarung yang lahir dari sorotan besar, dan ada pula yang membangun nama mereka lewat jalur yang lebih keras: bertarung dari panggung regional, menelan jatuh bangun, lalu perlahan memaksa publik memberi perhatian. Fritz Aldin Biagtan termasuk dalam kelompok kedua. Ia adalah petarung asal Dagupan City, Pangasinan, Filipina, lahir pada 25 Juli 1995, dan dikenal dengan julukan “Kid Tornado.” Data menempatkannya sebagai petarung dengan tinggi sekitar 168 cm, bertarung di bantamweight 135 lbs / 61,2 kg, bukan flyweight, dan memiliki rekor profesional 8 kemenangan dan 3 kekalahan.

Ia adalah petarung yang hidup dari striking, terutama pukulan-pukulan keras yang bisa mengubah arah pertarungan kapan saja. Dari delapan kemenangan profesional yang tercatat, enam di antaranya datang lewat KO/TKO, angka yang menegaskan bahwa identitas utamanya memang dibangun dari daya rusak di atas kaki. Ia bukan petarung yang nyaman hidup terlalu lama di area abu-abu. Saat ritmenya terbentuk, ia lebih suka memaksa lawan menghadapi badai serangan.

Yang membuat kisah Fritz Biagtan menarik adalah bahwa ia bukan pendatang baru di dunia tarung. Ia sudah lama aktif, dan bahkan pernah tampil di panggung lintas disiplin seperti RIZIN 15 pada April 2019 melawan Tenshin Nasukawa dalam laga kickboxing. Walau laga itu berakhir dengan kekalahan, fakta bahwa Biagtan pernah berdiri di panggung seperti itu menunjukkan bahwa ia sudah terbiasa dengan atmosfer pertarungan besar dan lawan-lawan berkelas. Itu juga memperlihatkan satu hal: jalur kariernya tidak sempit. Ia dibentuk oleh berbagai pengalaman bertarung, bukan hanya satu promotor atau satu gaya kompetisi.

Sebelum semakin dikenal di ONE Championship, Fritz Biagtan lebih dulu membangun reputasi di sirkuit regional Filipina. Data dan jejak event lama menunjukkan ia pernah menang atas Garie Tang lewat split decision di Singapore FC 1 pada 2014, lalu terus bertarung di panggung-panggung Asia Tenggara sebelum membangun identitas yang lebih kuat sebagai finisher. Ini penting, karena memperlihatkan bahwa Biagtan tidak datang ke ONE sebagai produk instan. Ia tumbuh dari pertandingan-pertandingan nyata, dari lawan-lawan keras, dan dari kebutuhan untuk terus membuktikan dirinya.

Salah satu momen yang benar-benar membantu mengangkat namanya di orbit ONE datang pada ONE Friday Fights 38 tanggal 27 Oktober 2023, saat ia menghadapi Deepak Bhardwaj. Hasilnya sangat tegas: Biagtan menang lewat TKO akibat knees to the body and punches hanya dalam 1:13 ronde pertama. Sebuah sumber mencatat hasil ini dengan jelas. Kemenangan seperti ini punya arti besar, karena memperlihatkan bahwa Biagtan bukan hanya striker dengan pukulan keras, tetapi petarung yang mampu menyelesaikan laga secara eksplosif dan cepat saat melihat celah.

Kemenangan atas Deepak Bhardwaj itu juga terasa seperti ringkasan kecil dari siapa Fritz Biagtan sebenarnya. Ia datang dengan tekanan, menyerang tanpa ragu, dan ketika lawan mulai kehilangan struktur, ia tidak membiarkan kesempatan itu pergi. Dalam MMA, terutama di panggung seperti ONE Friday Fights, kemenangan cepat selalu meninggalkan kesan kuat. Bagi Biagtan, itu menjadi semacam pernyataan bahwa ia layak diperhitungkan lebih serius.

Setelah itu, perjalanan Biagtan di ONE terus bergerak. Salah satu penampilan penting berikutnya datang di ONE Friday Fights 86 pada 8 November 2024, saat ia menghadapi Sayedali Asli. Sebuah sumber mencatat bahwa Biagtan keluar sebagai pemenang dalam duel bantamweight 135 lbs itu. Meski cuplikan hasil pencarian yang saya buka tidak menampilkan metode kemenangan secara lengkap, hasil tersebut tetap penting karena menunjukkan bahwa ia mampu menjaga momentumnya dan menambah kemenangan di panggung ONE.

Lalu sampailah kita pada salah satu ujian terberat dalam fase terbarunya, yakni ONE Friday Fights 103 pada 4 April 2025 melawan Edson Machavane. Beberapa sumber sama-sama menunjukkan bahwa Biagtan kalah dalam laga itu. Sebuah sumber bahkan merinci hasilnya sebagai TKO (doctor stoppage) pada ronde kedua. Kekalahan seperti ini tentu pahit, tetapi justru di sinilah cerita seorang petarung menjadi lebih hidup. Biagtan bukan petarung yang dibangun dari rekor steril. Ia adalah petarung yang naik lewat benturan, dan kekalahan semacam ini menjadi bagian dari proses pembentukan itu.

Kalau melihat keseluruhan gambarannya, Fritz Biagtan terasa seperti petarung yang sangat cocok dengan julukan “Kid Tornado.” Ia mungkin tidak selalu tampil rapi atau konservatif, tetapi justru itulah daya tariknya. Banyak petarung bisa mengumpulkan kemenangan dengan aman. Biagtan lebih sering terlihat seperti orang yang ingin menabrak pertarungan dan mengubahnya menjadi sesuatu yang gaduh, cepat, dan berbahaya. Dengan 6 kemenangan KO/TKO dari 8 kemenangan profesional, identitas itu sangat nyata, bukan sekadar citra.

Aspek lain yang juga menarik dari Fritz Biagtan adalah latar Filipinanya. Petarung dari Filipina sering datang dengan mentalitas bertarung yang keras dan keinginan besar untuk menghibur. Biagtan tampak membawa karakter itu dengan sangat jelas. Ia bukan petarung yang ingin menang diam-diam. Ia lebih terasa seperti petarung yang ingin meninggalkan bekas pada penonton dan lawan. Dalam olahraga seperti MMA, petarung dengan energi seperti itu hampir selalu punya tempat khusus di mata penggemar. Kesannya mungkin tidak selalu sempurna, tetapi nyaris tidak pernah membosankan.

Kalau berbicara soal prestasi, mungkin Fritz Biagtan belum memegang sabuk besar di ONE Championship. Namun fondasi kariernya tetap sangat layak dihargai. Ia memiliki rekor profesional 8-3, pernah tampil di RIZIN, membangun kemenangan penting di ONE Friday Fights, dan dikenal sebagai petarung dengan persentase penyelesaian KO/TKO yang tinggi. Untuk petarung yang datang dari jalur regional Asia Tenggara, pencapaian itu jelas bukan hal kecil. Ia telah membuktikan bahwa dirinya bukan hanya petarung lokal, tetapi atlet yang sanggup hidup di panggung internasional.

Pada akhirnya, Fritz Biagtan adalah kisah tentang petarung Filipina yang meniti jalannya dengan cara yang keras dan jujur. Ia lahir di Dagupan City pada 25 Juli 1995, tumbuh sebagai striker berbahaya dengan julukan “Kid Tornado,” lalu membangun kariernya lewat kemenangan-kemenangan KO/TKO yang membentuk identitasnya. Fritz Biagtan adalah petarung yang selalu membawa ancaman ketika naik ke arena. Dan justru karena jalannya tidak dibungkus terlalu rapi, kisahnya terasa lebih nyata dan lebih menarik untuk diikuti.

(PR/timKB).

Sumber foto: onefc.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...