Alberto Montes: Petarung Dengan Anaconda Choke Di UFC

Piter Rudai 15/06/2026 5 min read
Alberto Montes: Petarung Dengan Anaconda Choke Di UFC

Jakarta – Di dunia MMA, tidak semua petarung tiba di UFC lewat jalan yang mulus dan cepat. Ada yang harus menunggu, menahan diri, menelan jeda panjang, lalu tetap percaya bahwa waktunya akan datang. Alberto Montes adalah salah satu petarung yang dibentuk oleh proses seperti itu. Ia lahir pada 31 Mei 1994 di Barquisimeto, Lara, Venezuela, dan kini dikenal sebagai petarung featherweight UFC dengan julukan “The Promise.” Profil resmi UFC dan sumber lain sama-sama menegaskan identitas dasarnya: petarung Venezuela, tinggi sekitar 170 cm, berat tanding 145,5 lbs / 66 kg, dan berafiliasi dengan The Goat Shed.

Yang membuat Alberto Montes menarik bukan sekadar angka itu, melainkan bentuk dari kemenangannya. Ia jelas bukan petarung yang hidup dari satu jenis ancaman saja, tetapi identitas utamanya tetap sangat kuat sebagai grappler dengan fokus submission. ESPN mencatat bahwa dari 12 kemenangan profesionalnya, tujuh diraih lewat submission. UFC juga menyorot bahwa sebelum debut pada Maret 2026, ia datang dengan tiga kemenangan beruntun, dan tiga laga terakhir itu semuanya dimenangkan lewat anaconda choke di ronde kedua. Itu bukan statistik biasa. Itu adalah tanda tangan teknik yang sangat jelas.

Kalau membaca kisah Alberto Montes secara naratif, ia terasa seperti petarung yang dibangun bukan oleh sensasi, melainkan oleh ketekunan. Artikel resmi UFC berjudul “Alberto Montes | Worth The Wait” menegaskan hal itu dengan sangat jelas: Montes harus menunggu lama untuk akhirnya tiba di UFC. Ia memulai karier profesional pada 2012, lalu sempat melewati fase naik turun, jeda, dan proses panjang sebelum akhirnya benar-benar mendapat panggung di organisasi terbesar dunia. Dalam olahraga seperti MMA, kisah seperti ini sering justru lebih kuat daripada cerita prospek instan.

Asal-usulnya dari Barquisimeto, Venezuela, juga memberi warna penting pada ceritanya. Ia bukan petarung yang datang dari pusat MMA tradisional seperti Las Vegas atau São Paulo. Ia membawa akar Venezuela, lalu berkembang menjadi atlet yang kini bertarung dari Miami, Florida. Perpindahan itu terasa logis bagi petarung Amerika Latin yang ingin naik level: ia membawa ketangguhan dan identitas negaranya, tetapi juga membangun karier di lingkungan latihan yang lebih kompetitif di Amerika Serikat.

Afiliasinya dengan The Goat Shed juga penting. Nama gym ini muncul konsisten di beberapa sumber dan UFC. Dalam MMA modern, tim latihan sangat menentukan bagaimana seorang petarung berkembang, terutama untuk atlet yang punya gaya sejelas Montes. Grappler submission seperti dirinya membutuhkan sistem yang kuat, bukan hanya untuk menyerang di bawah, tetapi juga untuk menyiapkan entri takedown, transisi, dan striking pendukung agar submission tidak menjadi satu-satunya ancaman yang bisa dibaca lawan. Bahwa Montes datang dari The Goat Shed memberi gambaran bahwa ia dibentuk dalam lingkungan yang serius dan teknis.

Salah satu aspek paling menarik dari Alberto Montes adalah bagaimana ia menjadikan submission bukan sekadar alat menang, tetapi identitas. Banyak grappler menang lewat rear-naked choke atau guillotine yang cukup umum. Montes justru dalam beberapa laga terakhirnya membangun reputasi lewat anaconda choke, teknik yang menuntut timing, transisi, dan kontrol posisi yang sangat baik. Artikel UFC versi Jepang bahkan secara khusus menulis bahwa tiga pertarungan terakhirnya sebelum debut UFC semuanya berakhir dengan anaconda choke di ronde kedua. Itu membuatnya berbeda. Ia bukan hanya grappler efektif, tetapi grappler dengan ciri khas.

Momentum terbesar dalam hidupnya datang pada UFC 326: Holloway vs Oliveira 2 di Las Vegas, 7 Maret 2026, saat ia akhirnya menjalani debut resmi UFC melawan Ricky Turcios. Ini adalah bab yang sangat penting, karena banyak petarung bisa menunggu lama, tetapi tidak semua mampu menjawab kesempatan itu dengan penampilan besar. Montes justru melakukan hal yang sebaliknya. UFC mencatat bahwa ia menang lewat submission (anaconda choke) pada ronde kedua, 0:40, dan bonus resmi UFC kemudian menobatkannya sebagai salah satu penerima Performance of the Night.

Kemenangan atas Ricky Turcios itu terasa seperti ringkasan sempurna tentang siapa Alberto Montes sebenarnya. Ia datang ke UFC membawa reputasi submission, lalu benar-benar menang dengan submission. Ia tidak perlu waktu lama untuk membuat orang mengingat namanya. Artikel hasil prelim UFC 326 bahkan menulis dengan nada tegas, “What a debut for Alberto Montes!” dan menekankan betapa cepat ia mengamankan anaconda choke di ronde kedua. Di momen seperti itu, seorang petarung tidak hanya mendapatkan kemenangan, tetapi juga identitas. Montes mendapatkan keduanya.

Yang membuat kemenangan itu lebih penting lagi adalah konteksnya. Ricky Turcios bukan lawan yang mudah untuk debutan. Ia dikenal awkward, bergerak liar, dan tidak mudah dibaca. Menang submission atas petarung seperti itu menunjukkan bahwa Montes bukan grappler satu nada yang hanya efektif ketika lawan bermain rapi. Ia justru mampu menang ketika ritme pertarungan terasa kacau, sesuatu yang sering membedakan grappler bagus dari grappler elite. Ini membuat debutnya terasa sangat menjanjikan untuk kelas featherweight yang sangat padat.

Dari sisi gaya bertarung, deskripsinya tentang grappler dengan fokus submission sangat tepat. Menurut sebuah data, Montes bertarung dengan stance orthodox, bukan sekadar petarung bawah tanpa struktur berdiri. Artinya, walau submission adalah senjata utamanya, ia tetap punya kerangka striking dan stance yang cukup mapan untuk membangun serangan, menjaga jarak, dan menutup ruang sebelum transisi ke grappling. Ini penting, karena di UFC modern hampir tidak ada petarung yang bisa hidup hanya dari satu dimensi.

Aspek lain yang membuat kisahnya menarik adalah timing kariernya. Lahir pada 1994, Alberto Montes masuk ke UFC bukan sebagai remaja prospektif, melainkan sebagai petarung yang sudah matang, yang datang setelah menunggu lama. Itu memberi nuansa berbeda pada kariernya. Ia tidak datang untuk belajar dari nol. Ia datang untuk memaksimalkan jendela yang akhirnya terbuka. Petarung seperti ini sering kali terasa lebih berbahaya, karena mereka tahu bahwa setiap peluang sangat berharga. Artikel UFC “Worth The Wait” sangat menekankan lapisan emosional ini.

Kalau berbicara soal prestasi, mungkin Montes baru memulai ceritanya di UFC. Namun fondasinya sudah sangat kuat. Ia datang dengan rekor sekitar 12-1, membawa identitas submission yang khas, dan langsung memenangkan debutnya dengan anaconda choke sambil meraih Performance of the Night. Untuk petarung featherweight baru, itu adalah awal yang nyaris ideal. Ia belum menjadi penantang utama, tetapi semua tanda awal menunjukkan bahwa ia bukan sekadar tambahan roster biasa.

Pada akhirnya, Alberto Montes adalah kisah tentang petarung yang menolak terburu-buru menyerah pada mimpinya. Ia lahir di Barquisimeto, berkembang menjadi spesialis submission, berlatih di The Goat Shed, lalu menunggu cukup lama sampai UFC akhirnya datang. Dan ketika kesempatan itu benar-benar hadir, ia tidak menyia-nyiakannya. Ia menang dengan cara yang paling mencerminkan dirinya sendiri. Dalam MMA, itu adalah tanda yang sangat kuat. Karena sering kali, petarung yang datang “terlambat” justru adalah mereka yang paling siap saat waktunya tiba.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...