Jakarta – Di dunia MMA, ada petarung yang tumbuh pelan-pelan tanpa banyak sorotan, lalu ada juga yang datang membawa aura bintang bahkan sebelum benar-benar menginjak panggung terbesar. Tommy McMillen berada di antara dua dunia itu. Ia bukan nama yang sejak awal diperlakukan seperti superstar mapan, tetapi begitu jalannya mulai terbuka, ia bergerak dengan cara yang sangat sulit diabaikan. Ia lahir pada 15 Desember 1997 di Great Falls, Montana, Amerika Serikat, dan kini resmi menjadi bagian dari divisi featherweight UFC. Profil resmi UFC menempatkannya sebagai petarung berjuluk “Gun”, bertarung di kelas featherweight, dengan tinggi sekitar 6 kaki atau 183 cm, berat tanding sekitar 145 lbs / 65–66 kg, dan rekor profesional yang kini sudah mencapai 10 kemenangan tanpa kekalahan.
Ia bukan petarung yang datang ke UFC setelah menelan banyak kekalahan lalu mencoba memulai ulang. Sebaliknya, ia datang sebagai petarung yang membangun momentum dengan sangat kuat, sambil tetap membawa dasar teknik yang cukup jelas. Sebuah sumber menuliskan fondasi utamanya sebagai wrestling, sementara hasil-hasil pertarungannya menunjukkan bahwa ia bukan grappler pasif. Ia adalah petarung yang bisa bergulat, bisa menekan, lalu menyelesaikan lawan dengan striking. Ini membuat profilnya terasa sangat modern: dasar gulat memberi kontrol, tetapi finishing instinct-nya datang dari keberanian menyerang.
Yang paling menarik dari Tommy McMillen adalah bentuk dari kemenangannya. Jika melihat riwayat pertarungan yang tersedia di ESPN, jalur kariernya memperlihatkan keseimbangan yang sangat menjanjikan. Ia pernah menang lewat submission atas J. Wright dan G. Penagos, menang lagi lewat rear-naked choke atas D. Roa, lalu juga menunjukkan kemampuan bertarung penuh dengan kemenangan majority decision di Dana White’s Contender Series melawan D. Mgoyan. Ini berarti McMillen bukan petarung satu dimensi. Ia tidak hanya bisa merusak lawan dengan striking, tetapi juga bisa memanfaatkan grappling untuk menutup pertarungan. Dan ketika dibutuhkan, ia juga mampu menang dalam laga yang berjalan sampai penuh tiga ronde.
Perjalanan Tommy McMillen menuju UFC tidak datang dari satu malam besar saja. Ia lebih dulu membangun dirinya di sirkuit regional. Salah satu jejak penting datang pada Fusion Fight League, ketika ia mengalahkan J. Wright lewat guillotine choke dan kemudian menang atas G. Penagos lewat guillotine lagi. Kemenangan-kemenangan ini sangat penting, karena menunjukkan bahwa sebelum dikenal sebagai striker atraktif di mata banyak penonton UFC, McMillen sudah punya fondasi submission yang rapi. Jalur seperti ini sering kali menjadi penanda petarung yang benar-benar dibangun secara lengkap, bukan sekadar dipoles dari satu atribut utama.
Lalu datanglah salah satu momen paling penting dalam hidupnya, yaitu Dana White’s Contender Series: Season 9, Week 4. Pada 3 September 2025, Tommy McMillen menghadapi D. Mgoyan dan keluar sebagai pemenang lewat majority decision. Ini mungkin bukan hasil yang paling spektakuler dibanding kemenangan KO, tetapi justru sangat penting secara naratif. Mengapa? Karena kemenangan seperti ini menunjukkan bahwa McMillen tidak hanya bagus saat segalanya berjalan mudah. Ia juga bisa menang dalam laga yang menguji ketahanan, kesabaran, dan kemampuan berpikir di bawah tekanan. Dan di Contender Series, kualitas seperti itu tetap sangat bernilai.
UFC sendiri kemudian menangkap potensi itu. Artikel resmi “The Tommy McMillen Show Is Just Getting Started” menulis bahwa McMillen masuk ke UFC dalam keadaan tak terkalahkan, dan bahwa ia adalah petarung yang sejak awal sudah dipandang sebagai sosok menarik untuk diperhatikan. Artikel itu juga menyorot kedekatannya dengan Sean O’Malley, sesuatu yang memberi lapisan tambahan pada ceritanya. Di satu sisi, kedekatan itu memberi keuntungan dari segi lingkungan latihan dan eksposur. Tetapi di sisi lain, itu juga berarti McMillen harus hidup dengan ekspektasi yang lebih besar.
Ketika waktu debut UFC akhirnya datang, Tommy McMillen tidak menyia-nyiakannya. Pada 4 April 2026 di UFC Fight Night: Moicano vs Duncan, ia menghadapi petarung Italia Manolo Zecchini. Hasilnya sangat meyakinkan. UFC mencatat bahwa McMillen menang lewat TKO pada ronde pertama menit 3:57, dan video resmi UFC juga mengabadikan momen tersebut. Artikel hasil utama UFC menulis bahwa ia membuka karier UFC-nya dengan kemenangan stoppage ronde pertama, sementara liputan bonus resmi UFC menegaskan bahwa ia “lived up to the hype” dalam penampilan perdananya.
Kemenangan atas Manolo Zecchini itu sangat penting, bukan hanya karena memberi debut manis, tetapi karena cara menangnya memperlihatkan siapa Tommy McMillen sebenarnya. Ia tidak masuk ke Oktagon untuk bertahan aman. Ia datang untuk menyerang. Liputan MMAFighting sesudah laga menulis bahwa McMillen bahkan menganggap dirinya berada di jalur yang lebih cepat menuju perebutan gelar daripada yang dibayangkan banyak orang. Itu menunjukkan satu hal penting: selain punya kemampuan fisik dan teknik, McMillen juga membawa rasa percaya diri yang sangat besar. Kadang itu bisa berbahaya. Tetapi dalam olahraga seperti MMA, kepercayaan diri seperti ini juga sering menjadi bahan bakar utama untuk naik ke level lebih tinggi.
Yang membuat Tommy McMillen semakin menarik adalah perpaduan antara persona dan fondasi tekniknya. Dari luar, ia bisa dibaca sebagai petarung atraktif, dekat dengan O’Malley, punya karisma, dan suka tampil meledak-ledak. Tetapi bila melihat riwayat pertandingannya lebih dekat, terlihat bahwa fondasinya cukup serius. Ia punya submission game, punya wrestling base, dan juga sanggup bertarung penuh tiga ronde ketika dibutuhkan. Kombinasi ini membuatnya jauh lebih berbahaya daripada sekadar petarung highlight. Ia punya potensi untuk berkembang menjadi sosok yang lebih komplet jika pembinaannya berjalan konsisten.
Ada pula aspek menarik dari identitas geografisnya. Ia lahir di Great Falls, Montana, wilayah yang tidak identik sebagai pusat utama MMA seperti Las Vegas, Miami, atau California Selatan. Tetapi justru dari latar seperti inilah sering lahir petarung dengan mentalitas keras dan rasa lapar tinggi. Dalam banyak kasus, petarung yang datang dari jalur seperti ini tidak terlalu sibuk dengan citra. Mereka lebih fokus pada kerja, pada latihan, dan pada kesempatan ketika akhirnya panggung besar datang. McMillen tampak membawa karakter itu, hanya saja dibalut dengan persona yang lebih mencolok.
Kalau berbicara soal prestasi, Tommy McMillen memang masih sangat awal dalam kisah UFC-nya. Namun fondasinya sudah sangat layak diperhitungkan. Ia masuk ke UFC dengan rekor tak terkalahkan, lolos dari Dana White’s Contender Series, lalu memenangkan debutnya dengan TKO ronde pertama. FightMatrix juga menempatkannya dengan UFC record 1-0, sementara sumber lain bahkan sudah memuat laga berikutnya yang dijadwalkan melawan Alberto Montes pada 18 Juli 2026. Itu menunjukkan bahwa UFC tidak membiarkannya lama menghilang setelah debut, tanda bahwa mereka melihat nilai nyata dalam dirinya.
Pada akhirnya, Tommy McMillen adalah kisah tentang petarung Amerika yang datang ke UFC dengan paket yang sangat menarik: dasar gulat, ancaman submission, striking yang berkembang, aura percaya diri tinggi, dan kemampuan tampil besar di momen besar. Ia lahir pada 15 Desember 1997 di Great Falls, Montana, dan kini menapaki divisi featherweight dengan nama yang mulai diperhatikan banyak orang. Tommy McMillen bukan petarung yang sedang mencoba bertahan di UFC. Ia terlihat seperti petarung yang benar-benar percaya bahwa dirinya bisa naik cepat. Dan dalam olahraga seperti ini, keyakinan seperti itu selalu layak ditonton.
(PR/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda