Di kelas heavyweight, banyak petarung datang membawa tubuh besar dan tenaga besar. Namun hanya sedikit yang benar-benar mampu membuat orang langsung berhenti, menoleh, lalu bertanya: siapa dia? Guilherme Pat adalah salah satu nama yang mulai memunculkan reaksi seperti itu. Ia adalah petarung MMA asal Brasil, bertarung di divisi heavyweight UFC, dan dikenal dengan julukan “Kong.” Profil resmi UFC menempatkannya sebagai atlet kelas berat asal Brasil, sedangkan beberapa sumber lainnya sama-sama mencatat bahwa ia kini memiliki rekor profesional 6 kemenangan dan 1 kekalahan.
Meski begitu, inti dari sosok Guilherme Pat tetap sangat jelas. Ia adalah petarung kelas berat Brasil yang dibangun dari kekuatan pukulan, agresi, dan naluri untuk mengakhiri pertarungan lebih cepat daripada lawan sempat merasa aman. Sebuah sumber mencatat bahwa dari enam kemenangan profesionalnya, empat diraih lewat KO/TKO dan dua lainnya lewat keputusan juri, tanpa kemenangan submission. Itu memberi gambaran yang sangat tegas: wajah utama Guilherme Pat adalah wajah seorang striker yang percaya diri dengan daya rusaknya.
Yang membuat kisah Guilherme Pat menarik adalah kecepatannya tumbuh. Ia bukan petarung yang sudah sangat lama dikenal di UFC. Sebaliknya, ia tampak seperti sosok yang naik cukup cepat dari panggung regional menuju organisasi terbesar di dunia. Jejak publik di salah satu sumber menunjukkan debut profesionalnya baru terjadi pada September 2022 saat ia menang TKO atas Igor Malvadao. Artinya, dalam rentang waktu yang relatif singkat, ia berhasil mengubah dirinya dari petarung baru menjadi atlet UFC. Untuk kelas heavyweight, laju seperti ini cukup mencolok.
Dalam banyak kasus, petarung kelas berat membutuhkan waktu lebih lama untuk matang. Divisi ini brutal, dan kesalahan kecil sering dibayar sangat mahal. Tetapi Guilherme Pat tampak tumbuh dengan kepercayaan diri yang kuat. Julukannya, “Kong,” terasa pas untuk jenis petarung seperti ini. Julukan itu memberi kesan kekuatan, tekanan, dan ancaman fisik yang langsung terasa begitu pertarungan dimulai. Dan bila melihat bentuk kemenangan-kemenangannya, julukan itu bukan sekadar tempelan pemasaran. Ia benar-benar membangun identitas dari kekuatan dan tekanan itu.
Bab penting dalam kisahnya mulai benar-benar terasa ketika ia masuk ke UFC. Debut resminya di organisasi ini datang pada 13 Desember 2025, saat ia menghadapi Allen Frye Jr. Hasilnya sangat positif. UFC mencatat bahwa Guilherme Pat menang lewat unanimous decision dengan skor 30-27, 30-27, 30-27. Ini menarik, karena kemenangan debut itu tidak datang lewat KO cepat seperti yang mungkin banyak orang perkirakan dari sosok heavyweight agresif. Ia justru menunjukkan bahwa dirinya juga bisa mengelola tiga ronde penuh dengan cukup disiplin dan dominan.
Kemenangan atas Allen Frye Jr. memberi lapisan penting pada profil Guilherme Pat. Ia tidak hanya tampil sebagai pemukul keras, tetapi juga sebagai petarung yang cukup tenang untuk membawa laga sampai akhir dan tetap mengontrol hasilnya. Untuk petarung heavyweight, kualitas seperti ini sangat penting. Banyak kelas berat bisa berbahaya dalam satu atau dua menit pertama. Tidak semua bisa tetap efektif bila pertarungan berlangsung lebih lama. Guilherme Pat menunjukkan bahwa ia setidaknya punya fondasi untuk menang dengan cara yang lebih sabar.
Namun, seperti banyak petarung lain, jalan Guilherme Pat di UFC tidak sepenuhnya lurus. Pada 4 April 2026, ia menghadapi Thomas Petersen di UFC Fight Night: Moicano vs Duncan. Kali ini hasilnya berbalik. UFC mencatat bahwa Thomas Petersen menang lewat majority decision, dengan skor 28-28, 29-27, 29-27. Laporan hasil prelim resmi UFC dan halaman official scorecards sama-sama menegaskan hasil tersebut. Kekalahan ini menjadi kekalahan pertama Guilherme Pat di UFC sekaligus kekalahan pertama yang tercatat luas pada fase terbarunya sebagai petarung kelas berat papan atas.
Kekalahan dari Thomas Petersen justru memberi warna yang lebih hidup pada kisahnya. Ia menunjukkan bahwa Guilherme Pat bukan petarung yang berjalan di dunia yang terlalu sempurna. Ia sudah merasakan bagaimana menang meyakinkan di debut, lalu juga merasakan kerasnya pertarungan rapat yang tidak berpihak kepadanya. Dalam olahraga seperti MMA, pengalaman seperti ini sering jauh lebih membentuk daripada kemenangan mudah beruntun. Seorang petarung kelas berat bisa terlihat menakutkan saat segalanya berjalan baik. Tetapi ketika harus menelan kekalahan, di situlah karakter yang sebenarnya mulai terlihat.
Dari sisi gaya, Guilherme Pat tetap terasa sangat jelas. Ia adalah petarung yang hidup dari striking. Empat kemenangan KO/TKO dari enam kemenangan profesionalnya menunjukkan bahwa saat ia menemukan ritme dan jarak, ia bisa menjadi sangat berbahaya. Ia mungkin belum menunjukkan permainan bawah yang lengkap seperti grappler murni, tetapi justru karena identitas utamanya sangat tegas, ia mudah dibaca sebagai petarung yang datang untuk menekan, merusak, dan menguji daya tahan lawan sejak awal pertarungan.
Aspek lain yang menarik adalah waktu kariernya saat ini. Guilherme Pat masih berada pada fase yang relatif dini dalam perjalanan UFC-nya. Ia baru menjalani dua penampilan di organisasi tersebut, dengan hasil 1 menang dan 1 kalah di UFC menurut sebuah sumber. Itu berarti cerita besarnya masih jauh dari selesai. Ia belum menjadi penantang utama, tetapi juga belum tersingkir. Ia masih berada di wilayah yang sangat menarik: cukup baru untuk terus berkembang, tetapi sudah cukup teruji untuk memperlihatkan kekuatan dan kelemahan dasarnya.
Bahkan, sumber publik terbaru menunjukkan bahwa Guilherme Pat sudah memiliki laga berikutnya yang dijadwalkan. Beberapa sumber sama-sama menampilkan bahwa ia akan menghadapi Steven Asplund pada 8 Agustus 2026 di UFC Fight Night 284. Fakta bahwa UFC kembali memberinya panggung setelah kekalahan dari Petersen menunjukkan bahwa organisasi itu masih melihat nilai dalam dirinya. Untuk petarung heavyweight, kesempatan kedua dan ketiga seperti ini sangat penting, karena satu kemenangan kuat bisa langsung mengubah arah karier.
Kalau berbicara soal prestasi, mungkin Guilherme Pat belum punya sabuk besar atau status bintang utama. Namun fondasinya tetap sangat layak diperhatikan. Ia sudah menembus UFC, mencatat kemenangan debut yang meyakinkan atas petarung tak terkalahkan lain, lalu tetap cukup relevan untuk segera diberi pertarungan berikutnya setelah kekalahan pertamanya di organisasi. Dengan rekor profesional 6-1, identitas knockout yang kuat, dan divisi heavyweight yang selalu terbuka bagi sosok baru, Guilherme Pat masih merupakan nama yang menarik untuk diikuti.
Pada akhirnya, Guilherme Pat adalah kisah tentang petarung Brasil yang sedang menulis bab-bab awal karier UFC-nya dengan cara yang tidak sepenuhnya mulus, tetapi justru karena itu terasa nyata. Ia datang sebagai heavyweight yang kuat, agresif, dan berbahaya, lalu menunjukkan bahwa dirinya bisa menang dengan keputusan dan bisa kalah dalam duel yang rapat. Ia belum selesai dibentuk, dan justru di situlah daya tariknya. Dalam kelas heavyweight, petarung seperti Guilherme Pat selalu layak diawasi, karena satu kemenangan besar saja bisa langsung mengubah semuanya.
(PR/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda