Jakarta – Di era modern UFC, hanya sedikit petarung yang mampu mendominasi divisinya dengan konsistensi luar biasa. Salah satunya adalah Islam Ramazanovich Makhachev, petarung asal Dagestan, Rusia, yang lahir pada 27 Oktober 1991. Dengan tinggi 178 sentimeter dan berat bertanding 70 kilogram, Makhachev telah berkembang menjadi salah satu atlet paling komplet dalam sejarah UFC. Berbekal dasar Combat Sambo, stance southpaw, serta kemampuan grappling kelas dunia, ia berhasil membangun rekor profesional impresif 28 kemenangan dan hanya 1 kekalahan, dengan rincian 5 kemenangan KO/TKO, 13 submission, dan 10 kemenangan melalui keputusan juri. Setelah mendominasi divisi lightweight selama beberapa tahun, Makhachev kemudian naik ke kelas welterweight dan berhasil merebut gelar juara dunia, memperkuat posisinya sebagai salah satu petarung pound-for-pound terbaik di dunia. Kariernya semakin matang sejak bergabung dengan American Kickboxing Academy (AKA) di San Jose, California, tempat ia mengembangkan kemampuan striking bersama sejumlah petarung elite dunia.
Makhachev tumbuh di Dagestan, sebuah wilayah di Rusia yang dikenal sebagai salah satu pusat lahirnya atlet bela diri terbaik dunia. Lingkungan tempat ia dibesarkan memiliki budaya olahraga tarung yang sangat kuat. Sejak kecil, ia terbiasa melihat gulat, sambo, dan berbagai disiplin bela diri menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ketertarikannya terhadap olahraga ini muncul sejak usia dini ketika ia mulai mengikuti latihan di bawah bimbingan pelatih legendaris Abdulmanap Nurmagomedov, sosok yang juga membentuk karier Khabib Nurmagomedov. Di bawah arahan Abdulmanap, Makhachev tidak hanya belajar teknik bertarung, tetapi juga disiplin, kerja keras, dan pentingnya menjaga karakter di luar arena.
Combat Sambo menjadi fondasi utama perkembangan kemampuannya. Cabang olahraga tersebut mengajarkan perpaduan antara teknik gulat, judo, submission, dan striking yang kemudian menjadi ciri khas gaya bertarung Makhachev di MMA. Berbagai gelar nasional dan internasional di cabang Combat Sambo menjadi bekal berharga sebelum ia memutuskan beralih ke dunia mixed martial arts profesional.
Karier profesionalnya dimulai di berbagai organisasi MMA Rusia. Di sana, Makhachev menunjukkan kualitas yang berbeda dibandingkan petarung lain seusianya. Ia mampu mendominasi lawan melalui kontrol grappling yang luar biasa, transisi ground game yang halus, serta kemampuan membaca situasi dengan sangat tenang. Rentetan kemenangan tersebut menarik perhatian UFC yang kemudian merekrutnya pada tahun 2015.
Debut Makhachev di UFC terjadi pada 23 Mei 2015 melawan Leo Kuntz. Dalam laga tersebut, ia langsung memperlihatkan kemampuan yang membuat banyak pengamat terkesan. Dengan kontrol penuh sepanjang pertandingan, Makhachev meraih kemenangan melalui keputusan mutlak. Penampilan itu menjadi sinyal bahwa UFC telah mendapatkan calon bintang baru.
Meski demikian, perjalanan menuju puncak tidak selalu berjalan mulus. Pada laga keduanya di UFC, ia mengalami satu-satunya kekalahan dalam karier profesionalnya ketika dikalahkan Adriano Martins melalui knockout. Kekalahan tersebut menjadi titik balik yang membentuk mentalitasnya. Alih-alih kehilangan kepercayaan diri, Makhachev justru menjadikan pengalaman itu sebagai motivasi untuk berkembang lebih jauh. Sejak saat itu, ia memulai salah satu rentetan kemenangan paling mengesankan dalam sejarah UFC.
Dalam beberapa tahun berikutnya, Makhachev terus menunjukkan peningkatan di semua aspek permainan. Jika sebelumnya ia lebih dikenal sebagai spesialis grappling, latihan intensif di American Kickboxing Academy membuat kemampuan striking-nya berkembang pesat. Ia menjadi lebih nyaman bertarung dalam posisi berdiri, memiliki pukulan yang lebih akurat, serta tendangan yang efektif untuk membuka jalan menuju takedown.
Salah satu momen terbesar dalam kariernya datang ketika menghadapi Charles Oliveira pada UFC 280 untuk memperebutkan gelar juara lightweight UFC. Dalam pertandingan tersebut, Makhachev tampil sangat dominan. Ia berhasil mengendalikan tempo pertandingan sebelum mengakhiri duel melalui arm-triangle choke pada ronde kedua dan merebut sabuk juara dunia. Kemenangan itu menjadi puncak perjalanan panjang yang dibangun melalui kerja keras selama bertahun-tahun.
Status juara kemudian ia buktikan dengan menghadapi lawan-lawan elite, termasuk Alexander Volkanovski, juara featherweight yang saat itu naik kelas untuk menantang gelarnya. Pertemuan pertama mereka berlangsung sangat kompetitif dan dianggap sebagai salah satu pertandingan terbaik dalam sejarah divisi lightweight. Makhachev berhasil mempertahankan gelarnya melalui keputusan mutlak setelah pertarungan lima ronde yang menguras tenaga. Pada pertemuan kedua, ia tampil lebih impresif dengan meraih kemenangan KO spektakuler pada ronde pertama, kemenangan yang semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu petarung terbaik dunia.
Selain Volkanovski dan Oliveira, Makhachev juga mencatat kemenangan penting atas sejumlah nama besar seperti Arman Tsarukyan, Dan Hooker, Bobby Green, Drew Dober, Thiago Moisés, dan Dustin Poirier. Kemenangan atas Poirier melalui submission pada UFC 302 menjadi salah satu pertahanan gelar paling berkesan dalam kariernya sekaligus memperlihatkan kemampuan adaptasinya menghadapi petarung elite dengan gaya bertarung yang berbeda.
Setelah sukses mendominasi divisi lightweight melalui beberapa kali pertahanan gelar, Makhachev memutuskan menerima tantangan baru dengan naik ke kelas welterweight. Keputusan tersebut sempat memunculkan berbagai perdebatan karena ia meninggalkan divisi yang telah dikuasainya. Namun, Makhachev kembali membuktikan kualitasnya ketika berhasil mengalahkan Jack Della Maddalena melalui keputusan mutlak untuk merebut gelar juara dunia welterweight UFC. Prestasi itu menjadikannya salah satu petarung langka yang mampu meraih gelar UFC di dua divisi berbeda sekaligus memperkokoh statusnya sebagai petarung nomor satu pound-for-pound.
Hingga kini, rekor profesionalnya mencapai 28 kemenangan dan hanya 1 kekalahan. Dari jumlah tersebut, 13 kemenangan diraih melalui submission, membuktikan kualitas ground game yang menjadi senjata utamanya. Lima kemenangan melalui KO/TKO menunjukkan perkembangan striking yang semakin matang, sedangkan sepuluh kemenangan melalui keputusan mencerminkan konsistensinya mengendalikan pertandingan selama ronde penuh.
Filosofi bertarung Makhachev sangat dipengaruhi oleh pendidikan yang diterimanya di Dagestan. Ia percaya bahwa disiplin, kesabaran, dan kerja keras akan selalu mengalahkan bakat yang tidak diasah. Prinsip tersebut terlihat dalam setiap penampilannya. Ia tidak pernah terburu-buru mencari penyelesaian, tetapi memilih membangun dominasi secara sistematis hingga lawan kehilangan pilihan.
Rutinitas latihannya terkenal sangat berat. Bersama tim American Kickboxing Academy, ia menjalani latihan gulat, sambo, Brazilian Jiu-Jitsu, striking, strength and conditioning, hingga simulasi pertandingan dengan intensitas tinggi. Latihan fisik dipadukan dengan penguatan mental membuatnya mampu tampil tenang bahkan dalam situasi paling sulit sekalipun.
Salah satu kekuatan terbesar Makhachev adalah kecerdasannya membaca pertandingan. Ia jarang membuang energi dengan serangan yang tidak perlu. Sebaliknya, ia menunggu momen yang tepat sebelum melakukan takedown, mengontrol posisi, lalu mencari submission atau ground and pound yang efektif. Pendekatan ini membuat banyak lawan kesulitan menemukan celah untuk mengembangkan permainan mereka.
Kini, setelah sukses menjadi juara di dua divisi UFC, Islam Makhachev telah menempatkan dirinya sebagai salah satu petarung terbaik dalam sejarah organisasi tersebut. Dominasinya di kelas lightweight, keberhasilannya menaklukkan kelas welterweight, serta konsistensinya menghadapi lawan-lawan elite menjadikannya simbol evolusi petarung MMA modern. Dengan teknik yang matang, kecerdasan taktik, disiplin tinggi, dan mental juara, Makhachev terus menjadi inspirasi bagi generasi baru petarung dari Dagestan maupun seluruh dunia.
(PR/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda