Mackenzie Dern: “Princess of Jiu-Jitsu” Yang Menaklukkan UFC

Piter Rudai 10/07/2026 4 min read
Mackenzie Dern: “Princess of Jiu-Jitsu” Yang Menaklukkan UFC

Jakarta – Di antara deretan petarung wanita elite di UFC, nama Mackenzie Lynne Dern memiliki tempat yang istimewa. Lahir di Phoenix, Arizona, Amerika Serikat, pada 24 Maret 1993, Dern dikenal sebagai salah satu praktisi Brazilian Jiu-Jitsu (BJJ) terbaik yang pernah beralih ke dunia mixed martial arts. Dengan tinggi 163 sentimeter, berat bertanding 52 kilogram, dan jangkauan 160 sentimeter, ia berkompetisi di divisi strawweight UFC. Julukan “Princess of Jiu-Jitsu” bukan sekadar identitas, melainkan cerminan prestasinya sebagai juara dunia BJJ sebelum akhirnya sukses membangun karier di MMA. Hingga kini ia membukukan rekor profesional 16 kemenangan dan 5 kekalahan, terdiri atas 1 kemenangan KO/TKO, 8 submission, dan 7 kemenangan melalui keputusan juri. Berlatih di Checkmat RVCA bersama pelatih striking ternama Jason Parillo, Dern berkembang menjadi petarung yang jauh lebih komplet dibandingkan saat pertama kali memasuki oktagon.

Bela diri sudah menjadi bagian dari hidup Dern sejak masa kanak-kanak. Ia merupakan putri dari legenda Brazilian Jiu-Jitsu, Wellington “Megaton” Dias, sehingga tumbuh di lingkungan yang menjadikan latihan sebagai rutinitas sehari-hari. Sejak usia dini, ia sudah akrab dengan matras dan teknik-teknik grappling. Bagi Dern, Brazilian Jiu-Jitsu bukan sekadar olahraga, tetapi juga warisan keluarga yang membentuk karakter, kedisiplinan, serta mental kompetitifnya. Berkat bimbingan sang ayah, bakatnya berkembang sangat cepat hingga mampu bersaing dengan atlet-atlet senior ketika usianya masih belia.

Sebelum terjun ke MMA, Dern lebih dahulu membangun reputasi sebagai salah satu atlet Brazilian Jiu-Jitsu terbaik di dunia. Ia menjuarai berbagai turnamen bergengsi, termasuk IBJJF World Championship, ADCC, dan sejumlah kejuaraan internasional lainnya. Kemampuannya dalam mengendalikan lawan di atas matras membuatnya disegani di komunitas grappling dunia. Berbagai prestasi tersebut menjadikannya salah satu atlet wanita paling sukses dalam sejarah Brazilian Jiu-Jitsu modern.

Meski telah mencapai hampir semua target di dunia BJJ, Dern merasa membutuhkan tantangan baru. Ketertarikannya terhadap MMA muncul karena ingin membuktikan bahwa kemampuan grappling tingkat dunia dapat diterapkan secara efektif di dalam oktagon. Ia mulai mempelajari tinju, Muay Thai, wrestling, hingga aspek fisik yang jauh lebih kompleks dibandingkan kompetisi grappling murni. Perpaduan kemampuan tersebut menjadi fondasi awal perjalanannya sebagai petarung MMA profesional.

Karier profesionalnya dimulai pada 2016 bersama Legacy Fighting Alliance (LFA) yang saat itu masih dikenal sebagai Legacy FC. Debut tersebut langsung memperlihatkan kualitas grappling yang luar biasa. Dern mampu mengontrol jalannya pertandingan dan memanfaatkan setiap peluang untuk membawa lawan ke bawah. Serangkaian kemenangan di organisasi regional membuat namanya cepat dikenal sebagai salah satu prospek terbaik di divisi strawweight.

Performa impresif itu membuka pintu menuju UFC. Pada Maret 2018, Dern menjalani debut di organisasi terbesar dunia dengan menghadapi Ashley Yoder. Dalam laga tersebut, ia berhasil meraih kemenangan melalui keputusan juri setelah memperlihatkan dominasi grappling sepanjang pertandingan. Debut yang sukses menjadi awal perjalanan panjangnya di divisi strawweight UFC.

Namun, langkah Dern menuju papan atas tidak selalu mulus. Selain harus menghadapi lawan-lawan yang semakin tangguh, ia juga mengalami tantangan di luar arena, termasuk proses menjadi seorang ibu. Setelah melahirkan putrinya, Dern harus bekerja keras mengembalikan kondisi fisik sekaligus menyesuaikan kembali ritme latihan. Banyak yang meragukan kemampuannya untuk kembali bersaing di level elite, tetapi ia justru membuktikan bahwa pengalaman tersebut membuat mentalnya semakin kuat.

Dalam beberapa tahun berikutnya, Dern terus berkembang sebagai petarung yang lebih komplet. Jika sebelumnya ia hampir sepenuhnya mengandalkan Brazilian Jiu-Jitsu, kini kemampuan striking-nya meningkat pesat berkat latihan bersama Jason Parillo, pelatih yang juga dikenal sukses membentuk banyak striker elite UFC. Kombinasi pukulan yang lebih tajam dengan grappling kelas dunia membuat Dern menjadi ancaman di semua area pertarungan.

Sepanjang kariernya di UFC, Dern mencatat kemenangan penting atas sejumlah nama besar seperti Randa Markos, Virna Jandiroba, Nina Nunes, Tecia Pennington, Angela Hill, dan Amanda Ribas. Sebagian besar kemenangan tersebut diraih melalui submission, membuktikan bahwa Brazilian Jiu-Jitsu tetap menjadi senjata paling mematikan dalam permainannya. Kemampuannya mengunci armbar, rear-naked choke, maupun berbagai transisi submission membuat banyak lawan kesulitan bertahan ketika pertarungan memasuki ground.

Puncak karier Dern datang pada 2025 ketika ia menghadapi Virna Jandiroba dalam perebutan gelar juara strawweight UFC di Abu Dhabi. Pertarungan yang mempertemukan dua spesialis Brazilian Jiu-Jitsu tersebut berlangsung sangat teknis. Dern tampil disiplin, memadukan striking yang semakin matang dengan kontrol grappling yang efektif hingga akhirnya keluar sebagai pemenang dan resmi menyandang status Juara Dunia UFC Strawweight. Gelar tersebut menjadi pencapaian terbesar dalam kariernya sekaligus melengkapi koleksi prestasi yang sebelumnya telah ia raih di dunia Brazilian Jiu-Jitsu.

Hingga saat ini, Dern memiliki rekor profesional 16 kemenangan dan 5 kekalahan. Delapan kemenangan melalui submission menunjukkan identitasnya sebagai salah satu grappler terbaik di UFC, sementara kemenangan melalui KO/TKO dan keputusan membuktikan bahwa ia telah berkembang menjadi petarung serbabisa yang mampu menyesuaikan strategi sesuai karakter lawan.

Filosofi bertarung Dern berakar pada prinsip Brazilian Jiu-Jitsu, yaitu kesabaran, efisiensi, dan kemampuan memanfaatkan kesalahan sekecil apa pun. Ia percaya bahwa kemenangan tidak selalu diperoleh melalui kekuatan terbesar, melainkan melalui teknik yang tepat dan keputusan yang cerdas. Prinsip tersebut tercermin dalam gaya bertarungnya yang tenang namun sangat berbahaya ketika pertarungan memasuki matras.

Program latihannya mengombinasikan Brazilian Jiu-Jitsu, wrestling, tinju, Muay Thai, strength and conditioning, serta latihan daya tahan. Ia juga memberi perhatian besar pada pemulihan fisik dan kesiapan mental agar mampu tampil maksimal di setiap pertandingan. Rutinitas latihan yang disiplin membuat kualitas permainannya terus meningkat dari tahun ke tahun.

Mackenzie Dern telah membuktikan bahwa seorang juara dunia Brazilian Jiu-Jitsu juga mampu mencapai puncak di dunia MMA. Dari matras grappling hingga oktagon UFC, ia menunjukkan bahwa kerja keras, ketekunan, dan kemauan untuk terus berkembang mampu mengubah seorang spesialis submission menjadi juara dunia yang komplet. Julukan “Princess of Jiu-Jitsu” kini tidak hanya menggambarkan kejayaannya di dunia grappling, tetapi juga menjadi simbol keberhasilannya menaklukkan panggung terbesar MMA dunia.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...