Jakarta – Di dunia kickboxing modern, hanya sedikit petarung yang mampu memadukan kecepatan, kecerdasan bertarung, dan teknik sepresisi Jonathan Giovanni Di Bella. Lahir pada 18 Agustus 1996 di Montreal, Quebec, Kanada, petarung berdarah Italia ini tumbuh menjadi salah satu striker paling komplet di divisi ONE Strawweight Kickboxing. Dengan tinggi 175 sentimeter, berat bertanding 57 kilogram, dan jangkauan 173 sentimeter, Di Bella dikenal sebagai petarung bertipe southpaw yang mengandalkan kombinasi tinju cepat, footwork lincah, dan kemampuan membaca ritme lawan. Berlatih di Di Bella Kickboxing di bawah bimbingan ayahnya, Angelo Di Bella, ia kini mengoleksi rekor profesional 15 kemenangan dan 1 kekalahan. Pencapaian terbesarnya adalah menjadi Juara Dunia ONE Strawweight Kickboxing sebanyak dua kali, menjadikannya salah satu atlet kickboxing paling sukses yang pernah dilahirkan Kanada.
Perjalanan Di Bella menuju puncak dimulai jauh sebelum ia mengenal dunia profesional. Ia sudah berada di dalam gym sejak usia dua tahun karena sang ayah merupakan mantan juara dunia kickboxing dua kali sekaligus pendiri Di Bella Kickboxing. Lingkungan keluarga yang sangat dekat dengan bela diri membuat Jonathan tumbuh bersama ring, sarung tinju, dan sesi latihan yang disiplin. Saat berusia sepuluh tahun, ia menjalani pertandingan amatir pertamanya dan sejak saat itu terus berkembang sebagai salah satu talenta muda paling menjanjikan di Kanada. Bagi Di Bella, bela diri bukan sekadar olahraga, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari yang membentuk karakter, kedisiplinan, dan mental juara.
Setelah mengukir prestasi di level amatir, Di Bella memutuskan menjadi petarung profesional pada 2015, ketika usianya menginjak 19 tahun. Langkah tersebut menjadi awal perjalanan panjang yang penuh konsistensi. Ia tampil di berbagai ajang kickboxing di Amerika Utara, termasuk beberapa pertandingan bergengsi di Madison Square Garden. Berkat teknik bertarung yang matang dan disiplin tinggi, ia berhasil mempertahankan rekor sempurna 10-0 sebelum bergabung dengan ONE Championship. Selain sukses di kickboxing, Di Bella juga sempat mencatatkan hasil sempurna di dunia tinju profesional, menunjukkan kualitas pukulan dan koordinasi tangan yang menjadi salah satu kekuatan utamanya.
Kesempatan berkarier di panggung internasional datang ketika ONE Championship merekrutnya. Debutnya berlangsung pada ONE 162 di Kuala Lumpur pada 21 Oktober 2022, menghadapi bintang muda Tiongkok Zhang Peimian dalam perebutan gelar dunia strawweight kickboxing yang masih lowong. Banyak pihak memperkirakan pertandingan akan berlangsung ketat mengingat Zhang dikenal sebagai striker agresif dengan pukulan keras. Namun Di Bella tampil sangat tenang. Dengan footwork yang rapi, kombinasi tinju cepat, serta kontrol jarak yang luar biasa, ia mendominasi sebagian besar jalannya pertandingan dan akhirnya menang melalui keputusan bulat. Kemenangan tersebut langsung mengantarkannya menjadi Juara Dunia ONE Strawweight Kickboxing pada penampilan pertamanya di organisasi itu.
Status juara berhasil dipertahankan pada Oktober 2023 ketika ia menghadapi Danial Williams. Dalam laga tersebut, Di Bella kembali menunjukkan kualitas tekniknya dengan mengontrol tempo pertandingan selama lima ronde dan mempertahankan sabuk juara melalui kemenangan angka mutlak. Penampilannya semakin memperkuat reputasinya sebagai salah satu striker paling teknis di ONE Championship.
Namun perjalanan seorang juara tidak selalu berjalan mulus. Pada 2024, Di Bella mengalami ujian terbesar dalam kariernya. Menjelang laga mempertahankan gelar melawan Prajanchai PK Saenchai, ia jatuh sakit dan gagal memenuhi persyaratan hidrasi ONE Championship. Akibatnya, status juaranya dicabut sebelum pertandingan berlangsung. Ketika akhirnya mereka bertemu di atas ring beberapa bulan kemudian, Di Bella harus mengakui keunggulan Prajanchai melalui keputusan juri. Kekalahan tersebut menjadi satu-satunya kekalahan dalam karier profesionalnya sekaligus pengalaman berharga yang menguji mentalitasnya sebagai seorang atlet elite.
Alih-alih terpuruk, Di Bella bangkit dengan cara yang luar biasa. Pada Maret 2025, ia menghadapi legenda Muay Thai Sam-A Gaiyanghadao dalam perebutan gelar interim ONE Strawweight Kickboxing. Dengan disiplin taktik dan keunggulan teknik, Di Bella meraih kemenangan melalui keputusan bulat. Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada ONE Fight Night 36 bulan Oktober 2025, ia kembali bertemu Prajanchai dalam laga penyatuan gelar. Kali ini Di Bella tampil lebih matang dan berhasil membalas kekalahan sebelumnya lewat kemenangan angka mutlak, sekaligus merebut kembali sabuk juara dunia dan resmi menjadi Juara Dunia ONE Strawweight Kickboxing dua kali. Keberhasilan tersebut menjadi salah satu kisah penebusan paling mengesankan dalam sejarah ONE Championship.
Hingga pertengahan 2026, Di Bella membukukan rekor profesional 15 kemenangan dan 1 kekalahan. Menariknya, sebagian besar kemenangan diraih melalui keputusan juri. Hal ini mencerminkan gaya bertarungnya yang lebih mengutamakan efektivitas dibanding mengejar knockout. Ia dikenal memiliki jab cepat, straight kiri yang akurat, kombinasi pukulan yang mengalir, serta tendangan rendah yang mampu mengganggu keseimbangan lawan. Ditambah footwork yang sangat aktif, Di Bella sering kali membuat lawannya kesulitan menemukan jarak ideal untuk menyerang.
Filosofi bertarung Di Bella diwariskan langsung oleh sang ayah. Ia percaya bahwa teknik yang benar akan selalu lebih berharga daripada kekuatan semata. Karena itu, setiap sesi latihan di Di Bella Kickboxing berfokus pada penyempurnaan detail, mulai dari keseimbangan tubuh, akurasi pukulan, pengaturan napas, hingga kemampuan membaca pola serangan lawan. Latihan fisik dipadukan dengan analisis video pertandingan membuatnya terus berkembang sebagai petarung yang sulit diprediksi.
Mentalitas kompetitif menjadi kekuatan lain yang dimiliki Di Bella. Kekalahan dari Prajanchai tidak membuatnya kehilangan kepercayaan diri, justru menjadi bahan evaluasi untuk kembali lebih kuat. Semangat pantang menyerah tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika ia merebut kembali gelar dunia. Baginya, menjadi juara bukan hanya soal memiliki sabuk, tetapi juga kemampuan untuk bangkit setelah mengalami kegagalan.
Jonathan Di Bella telah membuktikan bahwa teknik, disiplin, dan kecerdasan bertarung mampu membawa seorang atlet menuju puncak dunia. Dari gym keluarga di Montreal hingga menjadi juara dunia dua kali di ONE Championship, perjalanannya menjadi inspirasi bagi banyak petarung muda. Dengan usia yang masih berada di masa emas dan kemampuan yang terus berkembang, Di Bella berpeluang mempertahankan dominasinya sebagai salah satu kickboxer terbaik di dunia selama bertahun-tahun ke depan.
(PR/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda