Sebelum dikenal di dunia Power Slap, Franciska Szabo telah lama menjalani kehidupan yang dekat dengan olahraga dan kebugaran. Sejak muda, ia memiliki minat besar terhadap aktivitas fisik, mulai dari latihan kekuatan, kebugaran, hingga berbagai cabang bela diri. Latar belakang tersebut membentuk fondasi fisik yang kuat sekaligus mental kompetitif yang kemudian menjadi modal penting ketika memasuki dunia slap fighting. Berbeda dengan banyak atlet lain yang berasal dari olahraga tinju atau MMA, Bathory membangun kariernya melalui kombinasi latihan kekuatan, disiplin kebugaran, dan teknik yang terus diasah secara khusus untuk Power Slap.
Keputusan pindah ke Amerika Serikat menjadi salah satu titik balik dalam hidupnya. Bermukim di Boca Raton, Florida, ia memperoleh akses terhadap fasilitas latihan yang lebih lengkap serta komunitas atlet profesional yang membantunya mengembangkan kemampuan. Di sana ia mulai mempelajari teknik slap fighting secara lebih serius, mulai dari mekanika pukulan, keseimbangan tubuh, hingga cara menyerap benturan ketika menerima pukulan lawan. Baginya, olahraga ini bukan sekadar mengandalkan tenaga, melainkan juga presisi, timing, dan ketahanan mental.
Kesempatan besar datang ketika Dana White memperkenalkan Power Slap League sebagai organisasi profesional. Bathory melihat peluang untuk menjadi bagian dari sejarah sejak awal perkembangan divisi wanita. Berbekal persiapan matang dan kepercayaan diri tinggi, ia akhirnya mendapatkan kesempatan tampil di Power Slap 5 pada Oktober 2023.
Debut tersebut langsung menjadi momen yang mengubah kariernya. Menghadapi Christine Wolmarans, Bathory tampil tanpa rasa gugup. Sejak awal pertandingan ia menunjukkan ketenangan dan teknik yang rapi sebelum akhirnya melepaskan pukulan keras yang menghasilkan kemenangan KO. Keberhasilan itu menjadikannya wanita pertama yang mencetak kemenangan KO di Power Slap, sebuah pencapaian bersejarah yang langsung mengangkat namanya ke perhatian publik.
Momentum tersebut berlanjut pada Power Slap 6, ketika ia menghadapi Jackie Cataline. Kali ini Bathory menunjukkan sisi lain dari permainannya. Ia tidak hanya mengandalkan kekuatan, tetapi juga kemampuan menjaga ritme pertandingan hingga akhirnya meraih kemenangan melalui keputusan juri. Penampilan tersebut membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar pemukul keras, melainkan atlet yang mampu beradaptasi dengan berbagai situasi pertandingan.
Karier Bathory terus berkembang seiring meningkatnya popularitas Power Slap. Salah satu laga penting lainnya hadir pada Power Slap 17, saat ia menghadapi Wereshchuk. Pertandingan berlangsung ketat, tetapi Bathory kembali menunjukkan mental juara dengan mempertahankan rekor tak terkalahkannya. Kemenangan itu semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu wajah utama divisi wanita.
Hingga kini, rekor profesional Bathory tetap bersih dengan lima kemenangan tanpa kekalahan. Dua kemenangan diraih melalui KO/TKO, sementara kemenangan lainnya diperoleh lewat keputusan juri maupun diskualifikasi lawan. Meski jumlah pertandingannya belum sebanyak atlet pria, konsistensinya membuat banyak pengamat menilai Bathory sebagai standar baru dalam perkembangan divisi wanita Power Slap.
Keberhasilannya melahirkan berbagai pencapaian bersejarah. Ia menjadi wanita pertama yang mencetak KO di Power Slap, sekaligus menjadi petarung wanita pertama yang tampil sebagai co-main event dalam ajang tersebut. Prestasi-prestasi itu membuat banyak media menjulukinya sebagai “Ronda Rousey-nya Power Slap”. Julukan tersebut bukan berarti gaya bertarungnya sama dengan mantan juara UFC tersebut, melainkan karena Bathory dianggap sebagai figur yang membuka jalan bagi berkembangnya kompetisi wanita di Power Slap.
Gaya bertarung Bathory sangat khas. Ia mengandalkan posisi tubuh yang stabil, rotasi pinggul yang maksimal, serta ayunan lengan yang efisien untuk menghasilkan tenaga besar. Pukulannya dikenal mampu membuat lawan kehilangan keseimbangan bahkan terpental beberapa langkah setelah menerima benturan. Namun di balik kekuatan tersebut terdapat teknik yang terus diasah melalui latihan berulang agar setiap pukulan dilepaskan dengan akurasi maksimal.
Rutinitas latihannya berfokus pada penguatan bahu, leher, lengan, dan otot inti tubuh. Selain latihan beban, ia juga menjalani latihan koordinasi, keseimbangan, serta simulasi pertandingan untuk membiasakan diri menghadapi tekanan kompetisi. Persiapan mental juga menjadi bagian penting karena dalam Power Slap, seorang atlet harus mampu tetap tenang saat menerima pukulan keras sebelum membalas serangan.
Bagi Bathory, kemenangan bukan hanya tentang menjatuhkan lawan, tetapi juga membuktikan bahwa atlet wanita mampu tampil menarik dan kompetitif di olahraga yang selama ini didominasi pria. Filosofi tersebut membuatnya selalu tampil percaya diri tanpa kehilangan rasa hormat kepada lawan. Ia percaya bahwa disiplin, keberanian, dan konsistensi adalah kunci untuk mempertahankan performa di level tertinggi.
Meski perjalanan Power Slap masih tergolong muda, Sheena Bathory telah menempatkan dirinya sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah organisasi. Dengan rekor sempurna, sederet pencapaian bersejarah, dan status sebagai pelopor divisi wanita, “Hungarian Hurricane” tidak hanya dikenal karena kekuatan pukulannya, tetapi juga karena keberaniannya membuka jalan bagi generasi atlet wanita berikutnya. Jika mampu mempertahankan konsistensinya, Bathory berpeluang menjadi salah satu ikon terbesar dalam sejarah Power Slap.