Jakarta – 28 Juli 1995, Mongkolpetch Petchyindee, nama asli Somsuk Pansarapoom, lahir di Provinsi Roi Et, Thailand, dari keluarga petani yang sederhana. Jauh sebelum dikenal di ONE Championship, ia tumbuh dalam lingkungan yang membuat olahraga tarung terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketertarikannya bermula dari sang kakak yang lebih dahulu menyukai tinju. Mongkolpetch kerap diam-diam mengikuti sang kakak berlatih hingga akhirnya ikut merasakan sendiri kerasnya latihan Muay Thai. Pada usia sekitar 10 tahun, ia menjalani pertandingan pertamanya. Bayaran dari laga tersebut bahkan ia berikan kepada orang tuanya untuk membantu keluarga. Dari titik itulah olahraga yang awalnya menjadi jalan untuk membantu keluarga perlahan berubah menjadi profesi.
Mongkolpetch memulai perjalanan profesionalnya dengan nama ring Mongkoldetlek Wor.Panyawai, sebelum kemudian menggunakan nama Mongkoldetlek Kesa Gym. Ia bergabung dengan Kesa Gym pada 2014 setelah dibeli dari kamp sebelumnya dengan nilai sekitar 200.000 baht. Di sana performanya berkembang dan membawanya tampil dalam pertandingan-pertandingan bergengsi di Lumpinee Stadium melalui promotor Kiatpetch. Salah satu fase penting datang pada 2017. Setelah mengalahkan sejumlah lawan kuat di sirkuit Thailand, ia merebut gelar Lumpinee Stadium 130 pound dengan kemenangan angka atas Suakim Sor Jor Thongprajin pada 9 Juni 2017. Pada tahun yang sama, pertarungannya melawan Nawaphol Lookpachrist juga membantunya meraih penghargaan Channel 7 Stadium Fight of the Year.
Kariernya kemudian memasuki babak baru ketika Kesa Gym mengalami masalah finansial dan harus tutup. Pada 2018, Mongkolpetch bergabung dengan Petchyindee Academy, salah satu kamp Muay Thai paling terkenal di Thailand. Perpindahan tersebut juga membawa perubahan nama ring menjadi Mongkolpetch Petchyindee Academy. Tidak lama setelah bergabung, ia kembali menunjukkan kualitasnya dengan memenangkan Toyota Marathon Tournament 140 pound pada 2018. Gelar tersebut memperlihatkan kemampuan Mongkolpetch untuk bertarung pada bobot lebih tinggi dan menghadapi lawan dengan karakter berbeda. Tahun 2019 kemudian menjadi salah satu periode produktifnya, termasuk kemenangan atas Chanasuek Kor Kampanat melalui KO dan kemenangan atas Alexi Serepisos dalam debutnya di ONE Championship.
Mongkolpetch resmi memasuki panggung ONE Championship pada 19 Januari 2019 di ONE: Eternal Glory, ketika menghadapi Alexi Serepisos di Jakarta dan menang melalui keputusan mutlak. Setelah itu ia menghadapi Joseph Lasiri dan meraih kemenangan keputusan mayoritas. Perjalanan tersebut berlanjut pada 2020 ketika ia mengalahkan Sok Thy melalui keputusan mutlak. Salah satu penampilan terpentingnya datang pada Juni 2021 dalam ONE: Full Blast II. Menghadapi petarung Aljazair Elias Mahmoudi, yang ketika itu merupakan salah satu nama penting di peringkat flyweight Muay Thai ONE, Mongkolpetch menang melalui keputusan mayoritas. Kemenangan tersebut memperkuat statusnya sebagai teknisi Muay Thai yang mampu menghadapi striker dengan gaya berbeda.
Ujian terbesar berikutnya datang pada Februari 2022 ketika ia menghadapi Jonathan Haggerty di ONE: Bad Blood. Haggerty mampu mengontrol pertandingan dan Mongkolpetch akhirnya kalah melalui keputusan mutlak. Setelah itu, hubungannya dengan ONE ikut terpengaruh oleh perselisihan antara Petchyindee Academy dan organisasi tersebut, yang membuat para petarung dari gym itu keluar dari roster ONE. Mongkolpetch kemudian melanjutkan kariernya di berbagai panggung Thailand dan Asia. Ia sempat bertanding di Rajadamnern World Series serta menghadapi Zhao Chongyang di Wu Lin Feng. Periode tersebut menunjukkan bahwa kariernya tidak berhenti hanya karena keluar dari ONE; ia tetap aktif menguji kemampuan melawan generasi petarung yang lebih muda.
Kembali ke ONE pada 2026, Mongkolpetch memperlihatkan bahwa pengalaman panjang masih memiliki nilai besar. Pada 29 Mei 2026, ia mengalahkan Ruslan Tuktarov melalui keputusan mutlak di ONE Friday Fights 156. ONE menggambarkannya sebagai counter-striker dengan tendangan tajam, timing presisi dan kemampuan clinch yang kuat. Dua bulan kemudian, pada 24 Juli 2026, ia menghadapi Utkirzhon Khamidov di ONE Friday Fights 163 dan menang melalui TKO ronde kedua. Hasil tersebut menjadi salah satu comeback paling menarik bagi veteran yang telah berkarier selama lebih dari satu dekade.
Secara teknis, Mongkolpetch bukan tipe petarung yang hanya mengandalkan kekuatan mentah. Ia dikenal sebagai counter-striker yang sabar membaca serangan lawan sebelum membalas dengan tendangan, kombinasi pukulan, lutut, dan permainan clinch. Tingginya sekitar 167 cm, dengan reach sekitar 178 cm, dan ia bertarung dalam stance orthodox. Pengalaman lebih dari 170 pertandingan yang tercatat dalam berbagai sumber membuatnya memiliki kemampuan membaca tempo dan jarak yang sangat matang. Ia juga menunjukkan mentalitas kompetitif yang kuat: kekalahan tidak membuatnya meninggalkan ring, melainkan menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk terus beradaptasi.
Kini, Mongkolpetch memasuki fase karier yang berbeda. Ia bukan lagi prospek muda yang mengejar pengakuan di Lumpinee, melainkan veteran dengan pengalaman menghadapi banyak generasi petarung. Rekor yang tersedia di basis data saat ini mencatat 125 kemenangan, 50 kekalahan, dan 1 seri, termasuk enam kemenangan KO/TKO, sementara sumber lain menggunakan pencatatan karier yang lebih luas dan menghasilkan angka berbeda. Yang tidak terbantahkan adalah pencapaiannya: mantan juara Lumpinee 130 pound, pemenang Toyota Marathon 140 pound, peraih penghargaan Fight of the Year Channel 7, serta pemenang atas nama-nama seperti Elias Mahmoudi dan Ruslan Tuktarov. Kemenangan TKO atas Khamidov pada Juli 2026 menjadi bukti terbaru bahwa Mongkolpetch Petchyindee belum selesai.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda