Jakarta – Di dunia MMA, perjalanan menuju UFC tidak selalu dimulai dari jalur yang lurus. Ollie Schmid adalah salah satu contohnya. Petarung berjuluk “The Hungarian Stallion” ini tumbuh dengan bela diri sebagai bagian dari kehidupannya sejak kecil. Profil resmi UFC mencatat bahwa Schmid mulai berlatih taekwondo sejak usia delapan tahun setelah diperkenalkan oleh sang ayah untuk belajar mempertahankan diri. Ia kemudian mulai menekuni MMA pada usia 15 tahun. Taekwondo menjadi fondasi penting dalam perkembangannya dan mengantarkannya meraih sabuk hitam, sementara perjalanan di Brazilian jiu-jitsu membawanya hingga sabuk biru. UFC mencatat New York sebagai tempat kelahirannya, sementara sejumlah database MMA mencatat ia lahir dan bertanding dari Selandia Baru; yang jelas, Schmid berkembang sebagai bagian dari komunitas MMA Selandia Baru dan berlatih di City Kickboxing di Auckland.
Sebelum menjadi petarung profesional, Schmid juga sempat bekerja di bidang konstruksi. Namun, kecintaannya terhadap olahraga tarung membuat latihan menjadi bagian utama kehidupannya. Ia membangun pengalaman amatir yang dilaporkan mencapai 8-3, sebelum memasuki karier profesional pada Mei 2023. Debutnya berlangsung di Eternal MMA 75, tetapi bukan dalam kelas featherweight yang kemudian menjadi rumahnya. Karena tidak tersedia lawan featherweight, ia naik ke lightweight untuk menghadapi Harry Webb, prospek yang saat itu belum terkalahkan. Schmid akhirnya kalah melalui rear-naked choke pada ronde ketiga. Kekalahan tersebut menjadi pelajaran awal dalam karier profesionalnya.
Kebangkitan mulai terlihat pada 2024. Setelah kembali ke featherweight, Schmid mencatat kemenangan profesional pertamanya dengan KO atas Dane Edge di HEX Fight Series 30. Ia mengakhiri pertarungan hanya dalam 1 menit 15 detik ronde pertama melalui spinning backfist—teknik yang kemudian menjadi salah satu ciri khas striking-nya. Namun, perjalanan tidak langsung mulus. Dua bulan kemudian, ia menghadapi Dimps Gillies di Eternal MMA 86 dan dihentikan lewat pukulan pada ronde ketiga. Kekalahan itu membuat rekornya menjadi 1-2, sebuah fase yang berpotensi menghentikan karier banyak prospek muda. Bagi Schmid, justru periode tersebut menjadi titik untuk membangun kembali dirinya.
Schmid kemudian menjawab tekanan tersebut dengan tiga kemenangan beruntun. Pada Maret 2025, ia mengalahkan Saynarvat Srisawat melalui unanimous decision dalam tiga ronde di Shuriken Fight Series 20. Empat bulan kemudian, ia tampil sebagai main event SFC: Rivalry melawan Ford Gerbes dan kembali menang lewat TKO ronde pertama dengan pukulan kanan. Momentum itu mencapai puncaknya pada Maret 2026 ketika Schmid menghadapi Jeffrey Mesa di Shuriken Fight Series 23. Hanya 15 detik setelah pertandingan dimulai, sebuah spinning backfist mengakhiri laga dan menghasilkan kemenangan KO tercepat dalam karier profesionalnya. Rangkaian tiga kemenangan tersebut—termasuk dua KO ronde pertama—membawanya ke pintu UFC.
Kesempatan itu datang secara cepat. Pada 2 Mei 2026, Schmid melakukan debut UFC di Perth menghadapi Marwan Rahiki. Pertarungan tersebut menjadi ujian besar karena Rahiki memasuki laga dengan reputasi sebagai finisher muda yang berbahaya. Schmid akhirnya dihentikan melalui pukulan pada menit 2:47 ronde pertama. Statistik UFC mencatat Schmid mendaratkan 9 dari 30 significant strikes, sementara Rahiki mengenai 22 dari 40 dan mencatat satu knockdown. Hasil tersebut membuat rekor UFC Schmid menjadi 0-1, sedangkan rekor profesional keseluruhannya menjadi 4-3.
Meski hasil debutnya tidak sesuai harapan, gaya bertarung Schmid tetap mudah dikenali. UFC mengategorikannya sebagai striker, dengan postur sekitar 183 cm, reach 71 inci, dan bertanding di kelas featherweight 145 pound atau sekitar 65,8 kg. Tiga dari empat kemenangan profesionalnya diraih melalui KO/TKO dan semuanya terjadi pada ronde pertama. Senjata seperti straight one-two dan spinning backfist menjadi bagian penting dari permainan striking-nya. Menariknya, ia juga memiliki kemampuan grappling yang terus dikembangkan, termasuk flying armbar sebagai salah satu teknik favoritnya.
Mentalitas Schmid juga tercermin dari cara ia memandang latihan. Ia berlatih di City Kickboxing di bawah lingkungan yang dikenal menghasilkan banyak petarung elite, termasuk bersama Dan Hooker dan Ron Zhou. Di luar aktivitas sebagai petarung, Schmid juga menjadi co-founder serta head coach Unity MMA di Albany, Auckland. Dengan demikian, ia tidak hanya menjalani latihan sebagai atlet, tetapi juga menghabiskan waktu mengajar generasi baru praktisi MMA. Dalam wawancara UFC, ia menyebut UFC sebagai impian yang telah ia miliki sejak usia delapan tahun, sementara motivasinya bukan semata-mata gelar atau uang, melainkan kecintaannya terhadap olahraga dan keinginan mengubah kehidupan keluarganya.
Kini, perjalanan Schmid memasuki babak baru. Setelah kekalahan dalam debut UFC, ia dijadwalkan kembali bertanding menghadapi Keiichiro Nakamura pada 7 November 2026 di UFC Fight Night di Las Vegas. Pertarungan tersebut akan menjadi kesempatan baginya untuk kembali menunjukkan kemampuan setelah mendapatkan pengalaman langsung di Octagon. Terlepas dari hasil yang akan datang, perjalanan Schmid memperlihatkan karakter seorang petarung yang dibentuk oleh taekwondo sejak kecil, ditempa oleh kekalahan, kemudian bangkit melalui kerja keras dan kemenangan-kemenangan spektakuler. Dengan gaya striking agresif, kemampuan menyelesaikan pertarungan dengan cepat, serta pengalaman sebagai atlet sekaligus pelatih, The Hungarian Stallion masih memiliki babak panjang untuk ditulis di UFC.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda