Jakarta – Di balik tubuh berotot dan gaya bertarung agresif Suablack Tor Pran49, tersimpan perjalanan hidup yang jauh dari kata mudah. Lahir pada 6 Juni 1996 di Provinsi Phetchaburi, Thailand, Suablack berasal dari komunitas Karen Pga K’Nyau di Pa Deng, Kaeng Krachan. Keluarganya bekerja sebagai petani, sementara masa kecilnya diwarnai keterbatasan ekonomi. Dalam kondisi tersebut, Muay Thai bukan sekadar olahraga, melainkan salah satu jalan untuk membantu keluarga. Ia mulai berlatih dan bertanding ketika baru berusia tujuh tahun, mengikuti jejak kakaknya yang lebih dahulu mengenal ring.
Ketika berusia 12 tahun, Suablack mengikuti kakaknya menuju Bangkok untuk mencoba peruntungan sebagai petarung. Namun, jalan menuju kesuksesan tidak langsung terbuka. Ia mengalami lebih banyak kekalahan daripada kemenangan pada fase awal kariernya di ibu kota. Cedera dan semakin sedikitnya kesempatan bertanding bahkan membuatnya sempat mempertimbangkan untuk meninggalkan dunia Muay Thai. Di titik terendah itu, dukungan istrinya menjadi salah satu alasan penting yang membuat Suablack kembali berlatih dan mengejar kariernya.
Kesempatan besar mulai datang ketika panggung ONE Friday Fights dibuka pada 2023. Suablack memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sempurna. Ia melakukan debut di ONE Friday Fights 20 pada Juni 2023 menghadapi Thanungern FA Group dan menang KO ronde kedua. Setelah itu, ia kembali menghentikan Lenny Blasi dan Shinji Suzuki sebelum menaklukkan Craig Coakley melalui TKO pada ONE Friday Fights 46. Empat kemenangan beruntun, seluruhnya berakhir sebelum bel terakhir, membuat namanya semakin diperhitungkan dan membawanya mendapatkan kontrak enam digit senilai US$100.000 dari ONE Championship.
Setelah memperoleh kontrak, perjalanan Suablack memasuki fase yang lebih berat. Ia mengalahkan Vladimir Kuzmin melalui keputusan mutlak pada ONE Fight Night 21, tetapi kemudian mengalami kekalahan beruntun dari Kiamran Nabati, Kulabdam Sor Jor Piek Uthai, dan Dmitrii Kovtun. Kekalahan tersebut menjadi ujian besar karena Suablack sebelumnya dikenal sebagai salah satu finisher paling berbahaya di ONE. Alih-alih mundur, ia berusaha mengembangkan permainannya dan menerima pertarungan dengan karakter lawan serta aturan yang berbeda.
Kebangkitan itu terlihat pada 2025. Suablack mengalahkan Sangarthit Looksaikongdin melalui keputusan mutlak pada ONE Friday Fights 114, kemudian membuat salah satu kemenangan paling berkesan dalam kariernya dengan menundukkan veteran Thailand Seksan Or Kwanmuang melalui keputusan mutlak pada September. Dua kemenangan tersebut menunjukkan bahwa ia tidak hanya bergantung pada kekuatan untuk mencari KO, tetapi mampu bertarung tiga ronde dan mengelola pertandingan dengan lebih matang.
Suablack kemudian menghadapi tantangan baru pada 2026. Ia mencoba kickboxing dan bertemu petarung Jepang Hyu pada ONE Fight Night 41. Pertarungan tersebut berakhir dengan kekalahan TKO ronde pertama, memperlihatkan betapa sulitnya beradaptasi dari Muay Thai ke kickboxing yang memiliki perbedaan aturan dan ritme. Namun, ia kembali ke Muay Thai dengan perubahan kelas ke flyweight dan menghadapi Stephen “El Matador” Irvine pada ONE Fight Night 45. Sempat dijatuhkan oleh pukulan keras Irvine, Suablack bangkit dan menyelesaikan lawannya dengan KO melalui serangan siku pada ronde kedua. Comeback tersebut memberinya bonus penampilan US$50.000.
Secara gaya, Suablack adalah petarung southpaw dengan pendekatan menyerang yang mengandalkan tekanan, kekuatan pukulan dan tendangan, serta kemampuan memanfaatkan serangan jarak dekat. ONE menggambarkannya sebagai petarung yang memiliki kekuatan teknik sekaligus fisik, sementara kemampuan tendangan dan serangan siku menjadi bagian penting dari arsenalnya. Ia bukan tipe petarung yang sekadar menunggu kesalahan lawan; Suablack lebih nyaman memaksa lawannya bekerja di bawah tekanan.
Mentalitas tersebut terbentuk dari perjalanan panjangnya. Ia pernah merasakan kekalahan, cedera, minimnya pertandingan, hingga hampir meninggalkan Muay Thai. Karena itu, karier Suablack bukan hanya kisah tentang kemenangan KO, melainkan tentang kemampuan untuk kembali berdiri setelah mengalami kemunduran. Latihannya pun sangat menekankan pembangunan fisik dan kekuatan kaki yang menjadi salah satu ciri khasnya. Di luar pertandingan, ia juga diketahui mengembangkan NP Suablack Muay Thai sebagai lingkungan latihan bagi para petarung.
Hingga kemenangan atas Irvine pada Juli 2026, ONE mencatat Suablack memiliki rekor 9 kemenangan dan 5 kekalahan dalam 14 pertandingan di ONE Championship, dengan lima kemenangan melalui KO/TKO. Sementara catatan Muay Thai Records mencatat keseluruhan karier yang terlacak sebesar 13-5-0, termasuk pertandingan di luar ONE. Ia memiliki tinggi sekitar 170 cm dan kini berkompetisi di kelas flyweight Muay Thai 61,2 kg setelah sebelumnya banyak bertanding di bantamweight.
Perjalanan Suablack belum selesai. Pada 12 September 2026, ia dijadwalkan menghadapi Shimon Yoshinari dalam pertarungan Muay Thai kelas flyweight di ONE SAMURAI 3, Yokohama, Jepang. Pertandingan tersebut menjadi kesempatan baginya untuk melanjutkan momentum setelah kemenangan dramatis atas Irvine sekaligus membuktikan bahwa kelas flyweight mungkin menjadi panggung terbaik untuk babak berikutnya dalam kariernya. Dari anak petani di Phetchaburi yang mulai bertinju pada usia tujuh tahun hingga petarung internasional di ONE Championship, Suablack menunjukkan satu hal yang konsisten: karier seorang petarung tidak hanya dibangun oleh kemenangan, tetapi juga oleh keberanian untuk terus kembali ketika semuanya terasa berakhir.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda