Depresi Psikotik: Definisi, Gejala, Penyebab Dan Cara Mengatasinya

Eva Amelia 16/01/2024 4 min read
Depresi Psikotik: Definisi, Gejala, Penyebab Dan Cara Mengatasinya

Depresi psikotik merupakan salah satu bentuk gangguan mood yang serius dan kompleks. Dalam artikel ini, kita akan membahas secara mendalam tentang depresi psikotik, mulai dari definisi, gejala, penyebab, hingga cara pengobatannya.

Definisi Depresi Psikotik

Depresi psikotik adalah jenis depresi mayor yang juga melibatkan beberapa bentuk psikosis. Psikosis sendiri merupakan keadaan mental di mana seseorang kehilangan kontak dengan realitas. Orang dengan depresi psikotik mungkin mengalami halusinasi (melihat atau mendengar hal-hal yang tidak ada) dan delusi (kepercayaan palsu yang kuat terhadap hal-hal yang tidak benar).

Seseorang yang mengalami psikosis dapat mengalami halusinasi atau delusi, atau kombinasi keduanya.

Gejala psikosis (kadang-kadang digambarkan sebagai episode psikotik) umumnya merupakan bagian dari kondisi yang lebih besar, seperti skizofrenia, depresi, atau penyakit Parkinson.

Psikosis juga dapat terjadi akibat obat-obatan tertentu, penggunaan narkoba, atau masalah kesehatan lainnya.

Gejala Depresi Psikotik

Gejala depresi ini meliputi semua gejala depresi mayor, seperti:

• Perasaan sedih yang mendalam
• Kehilangan minat atau kesenangan dalam kegiatan
• Perubahan berat badan atau nafsu makan
• Insomnia atau hipersomnia
• Kelelahan atau kehilangan energi
• Perasaan tidak berharga atau rasa bersalah yang berlebihan
• Kesulitan berkonsentrasi atau mengambil keputusan
• Pikiran tentang kematian atau bunuh diri

Gejala psikotik dapat mencakup:

• Halusinasi, seperti mendengar suara
• Delusi, termasuk kepercayaan paranoid atau perasaan diri sendiri berdosa atau buruk
• Pemikiran atau ucapan yang kacau

Penyebab Depresi Psikotik

Tidak diketahui secara pasti apa yang menyebabkan depresi, termasuk apa yang menyebabkan depresi psikotik. Penelitian mengenai depresi membuat para ilmuwan percaya bahwa depresi disebabkan oleh kombinasi faktor genetik, biologis, lingkungan, dan psikologis.

Depresi memiliki banyak segi dan dapat memengaruhi siapa saja. Hal ini membuat sulit untuk menentukan penyebab pasti.

Sebaliknya, penelitian berfokus pada korelasi, bukan sebab akibat. Meskipun para peneliti belum menentukan apakah faktor risiko ini menyebabkan depresi, mereka mencatat bahwa ada kesamaan di antara orang-orang yang mengalami depresi.

Saat ini, faktor risiko depresi mayor diterapkan sebagai faktor risiko depresi psikotik. Hal ini dapat berubah ketika depresi psikotik dipelajari lebih lanjut.

Faktor Risiko

Faktor risiko depresi meliputi:

• Kimiawi otak: Perubahan dan kelainan pada otak dan kimiawi otak, seperti kadar neurotransmiter.
• Genetika: Memiliki anggota keluarga yang mengalami depresi.
• Trauma masa kecil: Termasuk pelecehan atau pengabaian.
• Peristiwa kehidupan: Termasuk stres, kematian orang yang dicintai, peristiwa yang mengecewakan, isolasi, dan kurangnya dukungan.
• Kondisi medis: Kondisi kesehatan yang serius, seperti kanker dan penyakit jantung, serta sakit atau penyakit kronis.
• Pengobatan: Efek samping obat-obatan, obat-obatan rekreasional, dan alkohol.
• Kepribadian: Karakteristik seperti mudah kewalahan atau mengalami kesulitan untuk mengatasinya.

Sebuah penelitian selama empat tahun menunjukkan faktor risiko lain untuk depresi mayor, mungkin termasuk:

• Orang dewasa yang lebih muda
• Berjenis kelamin perempuan
• Janda, berpisah, atau bercerai
• Memiliki status sosial ekonomi yang rendah
• Memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah
• Tinggal di daerah dengan tingkat pengangguran yang tinggi

Diagnosis Depresi Psikotik

Diagnosis depresi psikotik biasanya melibatkan evaluasi menyeluruh yang mencakup:

• Wawancara medis dan psikiatri
• Penilaian gejala
• Riwayat medis dan psikiatri
• Pemeriksaan fisik dan tes laboratorium untuk mengecualikan penyebab medis lainnya

Pengobatan Depresi Psikotik

Pengobatan depresi psikotik sering kali melibatkan pendekatan kombinasi yang mencakup:

• Obat antidepresan dan antipsikotik
• Psikoterapi, seperti terapi kognitif perilaku (CBT)
• Dalam kasus yang parah, ECT (electroconvulsive therapy) atau terapi kejut listrik mungkin direkomendasikan

Mengatasi Depresi Psikotik

Mengatasi depresi psikotik memerlukan dukungan medis, terapi, dan sering kali perubahan gaya hidup. Beberapa langkah yang dapat membantu mencakup:

• Membangun sistem dukungan yang kuat
• Mengembangkan strategi pengelolaan stres
• Berlatihlah mindfulness dan relaksasi: Yoga, latihan pernapasan, tai chi, meditasi, dan latihan relaksasi lainnya dapat membantu mengurangi stres.
• Lakukan kegiatan yang Anda sukai: Temukan hobi, bertemu dengan teman, pergi ke bioskop, atau melakukan apa pun yang membuat Anda senang.
• Belajarlah untuk mengenali pemicu Anda: Membuat buku harian dan berbicara dengan teman dan keluarga dapat membantu Anda mempelajari apa yang terjadi sebelum dan selama episode psikotik. Melihat pola dapat membantu Anda mengelola atau menghindari pemicu dan mencari bantuan sebelum Anda mampu.
• Kembangkan dan pelihara kebiasaan sehat: Olahraga teratur, diet sehat, dan tidur yang cukup dapat sangat membantu Anda mengatasi gejala depresi psikotik dan merasa sehat secara keseluruhan.
• Melakukan aktifitas di luar: Baik mendaki di alam terbuka atau duduk di teras rumah, menghabiskan waktu di luar dapat meningkatkan suasana hati.
• Hindari obat-obatan rekreasional dan alkohol: Hal ini dapat memperburuk gejala depresi psikotik dan dapat mengganggu pengobatan.
• Buatlah rencana krisis: Rencanakan dan tuliskan apa yang Anda butuhkan ketika Anda berada dalam krisis jika Anda tidak dapat memberi tahu orang lain pada saat itu.
• Tetapkan tujuan yang realistis: Tujuan yang lebih kecil dan dapat dicapai dapat memotivasi dan menambah perubahan positif yang lebih besar.

Depresi psikotik adalah kondisi serius yang memerlukan perhatian medis dan pendekatan pengobatan holistik. Dengan pemahaman yang tepat, dukungan yang kuat, dan pengobatan yang efektif, orang dengan depresi psikotik dapat mengelola gejala mereka dan memperbaiki kualitas hidup mereka. Penting bagi mereka yang mengalami gejala untuk mencari bantuan segera dari profesional kesehatan mental.

(EA/timKB).

Sumber foto: priorygroup.com

Loading next article...