Jakarta – Marcello Lippi adalah salah satu nama yang paling dihormati dan ikonik dalam sejarah kepelatihan sepak bola. Pria berdarah Tuscan ini, dengan ciri khasnya berupa janggut perak dan cerutu yang menenangkan, dikenal sebagai seorang maestro taktik yang berhasil menaklukkan puncak kejayaan baik di level klub maupun internasional. Kariernya adalah sebuah narasi tentang otoritas yang tenang, inovasi taktis, dan koleksi trofi yang nyaris tak tertandingi, berpuncak pada kejayaan Piala Dunia yang tak terlupakan.
Masa Awal dan Transisi ke Allenatore
Marcello Romeo Lippi lahir di Viareggio, Italia, pada 11 April 1948. Karier bermainnya dimulai pada akhir 1960-an sebagai seorang Libero (posisi sweeper atau gelandang bertahan) yang cerdas, menghabiskan sebagian besar waktu di lapangan bersama Sampdoria dari tahun 1970 hingga 1978. Meskipun karier bermainnya solid, namun tidak terlalu gemilang, tidak pernah mencapai level tim nasional senior.
Namun, pengalaman di lapangan menjadi fondasi yang kokoh bagi kariernya sebagai pelatih, atau yang dikenal di Italia sebagai allenatore. Lippi memulai perjalanannya dari bawah, melatih tim junior Sampdoria pada tahun 1982 sebelum meniti tangga melalui klub-klub kecil Serie C dan Serie B seperti Pontedera, Siena, Pistoiese, dan Carrarese.
Titik balik datang di Serie A. Setelah menukangi Cesena dan Lucchese, Lippi menarik perhatian klub-klub besar ketika ia berhasil menyelamatkan Atalanta dan kemudian memimpin Napoli yang sedang dilanda krisis finansial pasca-Diego Maradona untuk mengamankan tempat di Piala UEFA pada musim 1993–1994. Kepiawaiannya mengelola krisis dan membentuk tim yang kohesif inilah yang membuatnya dilirik oleh raksasa Turin.
Dinasti Juventus: Puncak Kejayaan Klub
Pada tahun 1994, Lippi ditunjuk sebagai pelatih kepala Juventus, sebuah klub yang saat itu haus gelar setelah periode kekeringan di kancah Eropa. Kedatangan Lippi menandai dimulainya era dominasi Bianconeri baik di Italia maupun Eropa.
Periode Emas Pertama (1994–1999)
Di musim pertamanya, Lippi segera memberikan dampak instan, memenangkan Serie A dan Coppa Italia pada musim 1994–1995. Namun, puncak dari periode pertamanya adalah kemenangan dramatis di Liga Champions UEFA 1995–1996, mengalahkan Ajax Amsterdam melalui adu penalti. Ini adalah gelar Eropa pertama Juve setelah sebelas tahun.
Di bawah Lippi, Juventus menjadi kekuatan yang menakutkan, konsisten mencapai final Liga Champions dalam tiga musim berturut-turut (1996, 1997, 1998), meskipun dua final berikutnya berakhir dengan kekalahan. Lippi adalah sosok yang tidak takut mengambil keputusan besar, seperti menjual legenda klub, Roberto Baggio, untuk memberikan ruang bagi bakat-bakat baru seperti Alessandro Del Piero dan membangun tim yang berpusat pada kreativitas Zinedine Zidane.
Kembali ke Turin (2001–2004)
Setelah periode singkat yang kurang sukses di Inter Milan, Lippi kembali ke Juventus pada tahun 2001 dan melanjutkan kejayaan domestik, menambahkan dua gelar Serie A lagi. Secara total, Lippi mempersembahkan lima gelar Serie A, satu Liga Champions, satu Piala Interkontinental, dan berbagai piala domestik lainnya untuk Juventus. Filosofi kepelatihannya di Turin menjadi cetak biru bagi kesuksesan klub selama satu dekade.
Puncak Dunia: Piala Dunia FIFA 2006
Puncak absolut karier Marcello Lippi datang saat ia ditunjuk melatih Tim Nasional Italia pada tahun 2004. Ia mengambil alih Gli Azzurri di tengah ekspektasi tinggi namun juga skeptisisme.
Pada Piala Dunia FIFA 2006 di Jerman, Lippi menghadapi tantangan terbesarnya. Timnya dihantam oleh skandal pengaturan skor Calciopoli yang mengguncang sepak bola Italia tepat sebelum turnamen dimulai. Lippi dengan tenang mengisolasi timnya dari gejolak di dalam negeri, menanamkan rasa persatuan dan fokus yang tak tergoyahkan.
Menggunakan formasi fleksibel yang mengandalkan soliditas pertahanan yang dipimpin oleh Fabio Cannavaro dan kreativitas lini tengah dari Andrea Pirlo, Lippi membangun skuad yang sangat kohesif. Italia Lippi bermain pragmatis, disiplin, namun mampu melepaskan serangan balik mematikan. Perjalanan mereka ke final melawan Prancis adalah kisah ketahanan dan kecerdikan taktis. Kemenangan Italia melalui adu penalti di Berlin mengamankan trofi Piala Dunia keempat negara itu dan mengukuhkan status Lippi sebagai pahlawan nasional. Ia menjadi pelatih pertama yang memenangkan Piala Dunia dan Liga Champions UEFA.
Warisan Asia dan Pengakuan Global
Setelah sempat kembali melatih Timnas Italia di Piala Dunia 2010 (dengan hasil yang mengecewakan), Lippi mengejutkan dunia sepak bola dengan menerima tawaran melatih Guangzhou Evergrande di Tiongkok pada tahun 2012.
Di Asia, Lippi sekali lagi membuktikan sentuhan emasnya, mengubah Guangzhou menjadi kekuatan dominan di Tiongkok dan Asia. Ia memenangkan tiga gelar Liga Super Tiongkok berturut-turut dan, yang paling monumental, Liga Champions AFC pada tahun 2013. Kemenangan ini mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai satu-satunya pelatih yang pernah memenangkan Liga Champions Eropa dan Liga Champions Asia.
Lippi mengakhiri karier kepelatihannya setelah sempat menukangi Tim Nasional Tiongkok dalam dua periode. Secara keseluruhan, gaya kepelatihannya dicirikan oleh otoritas yang kuat, kemampuan adaptasi taktis, dan kecerdasan psikologis dalam membangun loyalitas pemain. Ia dikenal mampu menyeimbangkan pemain bintang dengan kebutuhan tim.
Marcello Lippi telah dinobatkan sebagai Pelatih Terbaik Dunia oleh IFFHS (Federasi Internasional Sejarah dan Statistik Sepak Bola) beberapa kali, baik di tingkat klub maupun tim nasional. Ia adalah legenda sejati yang tidak hanya memenangkan trofi, tetapi juga membentuk generasi pemain dan meninggalkan warisan filosofi sepak bola yang abadi.
(EA/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda