“The Daddies”: Standar Emas Profesionalisme Atlet Indonesia

Eva Amelia 22/02/2026 4 min read
“The Daddies”: Standar Emas Profesionalisme Atlet Indonesia

Jakarta – Dalam dunia olahraga yang menuntut kecepatan, kekuatan fisik yang prima, dan stamina luar biasa, usia sering kali dianggap sebagai musuh utama. Namun, bagi pasangan ganda putra Indonesia, Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan, usia hanyalah deretan angka yang tidak mampu membendung kejeniusan mereka di atas lapangan. Dijuluki sebagai “The Daddies”, pasangan ini telah bertransformasi dari sekadar atlet senior menjadi ikon global yang dicintai karena prestasi, sikap rendah hati, dan gaya main yang elegan.

Awal Mula Terbentuknya Sang Raksasa

Perjalanan The Daddies tidak dimulai sejak mereka remaja. Hendra Setiawan sebelumnya telah meraih masa kejayaan bersama almarhum Markis Kido, termasuk meraih emas Olimpiade Beijing 2008. Sementara itu, Mohammad Ahsan sedang merintis jalan bersama Bona Septano. Barulah pada akhir tahun 2012, pelatih ganda putra saat itu melihat potensi besar jika keduanya disatukan.

Keputusan tersebut terbukti jenius. Meski keduanya sudah tidak lagi berada di usia “hijau” untuk ukuran atlet, chemistry mereka langsung menyatu. Hendra dengan ketenangan luar biasa di depan net (sering dijuluki The Silent Killer) dan Ahsan dengan smes keras serta kelincahannya di area belakang, menciptakan kombinasi yang mematikan. Hanya dalam waktu singkat, mereka berhasil memenangkan Kejuaraan Dunia pertama mereka sebagai pasangan pada tahun 2013 di Guangzhou, China.

Gaya Main: “Chess on Court”

Apa yang membuat The Daddies begitu istimewa dibandingkan pasangan muda yang lebih bertenaga seperti “The Minions” (Kevin/Gideon) atau pasangan papan atas lainnya? Jawabannya terletak pada efisiensi.

The Daddies tidak lagi mengandalkan adu fisik atau reli-reli panjang yang menguras tenaga. Mereka bermain bulu tangkis layaknya bermain catur. Hendra Setiawan dikenal memiliki penempatan bola yang sangat akurat dan tak terduga. Ia mampu membaca arah serangan lawan bahkan sebelum lawan mengayunkan raket. Di sisi lain, Ahsan adalah mesin penggerak yang penuh energi, namun tetap mampu mengimbangi ketenangan Hendra dengan permainan taktis yang cerdas.

Gaya main ini sering disebut sebagai permainan yang “elegan.” Mereka jarang terlihat terengah-engah, namun lawan sering kali dibuat frustrasi karena bola selalu kembali ke area yang sulit dijangkau. Inilah yang membuat mereka tetap mampu bersaing di level tertinggi (Top 10 dunia) meski sudah memasuki usia kepala tiga, bahkan mendekati kepala empat.

Prestasi yang Tak Lekang oleh Waktu

Daftar prestasi The Daddies adalah impian bagi setiap atlet bulu tangkis. Sepanjang karier bersama, mereka telah mengoleksi tiga gelar Kejuaraan Dunia (2013, 2015, dan 2019). Kemenangan mereka di tahun 2019 sangatlah monumental, karena diraih saat banyak pihak meragukan kemampuan mereka untuk kembali naik ke podium tertinggi.

Selain Kejuaraan Dunia, mereka juga pernah mencicipi gelar All England, Asian Games, serta berbagai gelar World Tour lainnya. Namun, di luar medali emas, keberhasilan mereka untuk tetap konsisten menembus babak final di turnamen-turnamen besar meski harus menghadapi pemain yang usianya terpaut 10 hingga 15 tahun adalah prestasi tersendiri yang sulit disamai oleh siapapun.

Mengapa Mereka Begitu Dicintai?

Julukan “The Daddies” bukan hanya karena mereka adalah sosok ayah di kehidupan nyata, tetapi juga karena peran mereka sebagai “ayah” atau mentor bagi para pemain muda di pelatnas PBSI maupun pemain internasional lainnya. Ada beberapa alasan mengapa mereka memiliki basis penggemar yang sangat loyal, tidak hanya di Indonesia tapi juga di China, Jepang, hingga Eropa:

  1. Sportivitas Tinggi: Mereka jarang sekali terlibat konfrontasi dengan wasit atau lawan. Ketenangan mereka adalah teladan bagi atlet muda.
  2. Rendah Hati: Meski berstatus legenda hidup, Hendra dan Ahsan selalu terlihat membumi. Mereka menghormati setiap lawan, baik senior maupun junior.
  3. Inspirasi Tanpa Batas: Mereka membuktikan bahwa dedikasi dan pola hidup profesional bisa memperpanjang karier seorang atlet melampaui batas-batas biologis yang umum.
  4. Keluarga: Interaksi mereka dengan anak-anak dan istri di media sosial memberikan sisi humanis yang membuat penggemar merasa dekat dengan mereka secara personal.

Tantangan di Masa Senja Karier

Saat ini, di tengah persaingan ganda putra dunia yang semakin kompetitif dan didominasi oleh kecepatan pemain muda, The Daddies tetap menjadi sosok yang disegani. Walaupun intensitas turnamen mereka mulai dikurangi dan kemenangan tidak datang sesering dulu, kehadiran mereka di lapangan tetap menjadi daya tarik utama setiap turnamen.

Banyak pengamat menyebut bahwa The Daddies adalah “standar emas” profesionalisme. Mereka menjaga asupan nutrisi, pola istirahat, dan yang paling penting, semangat berkompetisi yang tidak pernah padam. Mereka tidak sekadar bermain untuk uang atau ketenaran, tetapi karena kecintaan yang mendalam pada bulu tangkis.

Warisan yang Abadi

Pada akhirnya, sejarah akan mencatat Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan bukan hanya sebagai pasangan ganda putra yang hebat, tetapi sebagai fenomena dalam dunia olahraga. Mereka mengajarkan kita bahwa kejayaan tidak selalu dicapai dengan kekuatan otot semata, melainkan dengan kecerdasan, kesabaran, dan ketenangan jiwa.

Warisan terbesar The Daddies bukanlah deretan piala yang ada di lemari mereka, melainkan inspirasi bagi jutaan orang bahwa selama ada kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi, usia tidak akan pernah menjadi penghalang untuk mencapai puncak dunia. Selama raket masih di tangan dan sepatu masih terikat, The Daddies akan terus melangkah maju, memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana cara menjadi sang juara sejati—baik di dalam maupun di luar lapangan.

(EA/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...