Jakarta – Ada petarung Muay Thai yang membuat pertarungan terasa seperti benturan, keras, rapat, penuh tukar serangan. Tapi ada juga petarung yang membuat pertarungan terasa seperti permainan jarak: lawan dipaksa mengejar bayangan, masuk satu langkah, kena tendang; masuk lagi, kena jab; mencoba merapat, malah disambut siku. Katsuki Kitano berada di kelompok kedua, petarung yang memenangi banyak momen lewat jarak sebelum memenanginya lewat damage.
Kitano adalah petarung asal Jepang, lahir 26 Mei 1996 (usia 29 tahun) dengan tinggi 177 cm. Ia berkompetisi di ONE Championship dalam disiplin Muay Thai dan dikenal bertarung dengan stance ortodoks, mengandalkan kicking game yang dinamis, tendangan panjang, perubahan ritme, serta kombinasi yang rapi untuk menjaga lawan tetap di ujung jangkauannya. ONE mencatat profilnya dengan tinggi 177 cm dan usia 29 tahun, serta menuliskan latar kisahnya: Kitano memilih jalan striking, lalu “menemukan panggilan” di Muay Thai.
Namun, kisahnya menjadi lebih menarik karena jalur masuknya ke panggung global bukan kebetulan. Ia menjuarai Road to ONE: Japan 2022, turnamen yang memberinya kontrak dan mengubah statusnya, dari petarung Jepang berprestasi menjadi nama yang harus diuji di panggung internasional. ONE juga menegaskan ia pernah meraih gelar domestik seperti WBC Japan Championship dan WPMF Title.
Profil singkat
-
- Nama: Katsuki Kitano
- Tanggal lahir: 26 Mei 1996 (usia 29 tahun)
- Negara: Jepang
- Tinggi: 177 cm
- Disiplin: Muay Thai (ONE Championship)
- Stance: Ortodoks
- Gelar penting: WBC Japan Championship, WPMF Title
- Jalur kontrak ONE: Juara Road to ONE: Japan 2022
- Debut ONE: menang atas Halil Kutukcu (ONE Friday Fights 38, 27 Okt 2023)
- Laga besar berikutnya: kalah UD dari Stefan Korodi (ONE Fight Night 29, 7 Mar 202)
Awal perjalanan: memilih striking, lalu “jatuh cinta” pada Muay Thai
Di Jepang, banyak atlet bela diri dibentuk oleh tradisi grappling seperti judo dan gulat. Tapi ONE menulis Kitano memilih jalan berbeda: ia “condong” ke seni striking dan akhirnya menemukan rumah sejatinya dalam Muay Thai. Muay Thai bukan cuma tentang memukul dan menendang. Muay Thai adalah bahasa ritme: kapan menahan, kapan mendorong, kapan memancing, kapan menutup. Petarung yang cocok dengan Muay Thai biasanya punya dua kualitas: ketelitian dan kesabaran. Kitano mengembangkan itu di kancah domestik—hingga mencapai gelar seperti WBC Japan dan WPMF, semacam stempel bahwa ia bukan sekadar “bisa bertarung”, melainkan bisa menang dalam ekosistem yang disiplin dan kompetitif.
Road to ONE: Japan 2022—titik balik yang mengubah hidup
Banyak petarung hebat “tertahan” di level nasional karena tidak mendapat jalur yang tepat ke panggung internasional. Road to ONE: Japan menjadi jalan itu bagi Kitano. Menang di turnamen seperti ini artinya lebih dari sekadar menang satu malam. Itu berarti:
-
- kamu menang dalam tekanan “harus lolos”,
- kamu mengelola energi dan saraf,
- kamu bisa tampil rapi saat semua orang menonton masa depanmu.
ONE menempatkan kemenangan Road to ONE: Japan sebagai pijakan utama yang mengantarnya ke kontrak ONE Championship. Sejak momen itulah identitasnya sebagai “petarung jarak” terasa makin jelas: ia tidak perlu memulai perang jarak dekat sejak menit pertama—ia membangun pertarungan lewat tendangan, memaksa lawan masuk dengan risiko, lalu mengumpulkan poin dan damage dari situ.
Debut ONE: ONE Friday Fights 38, 27 Oktober 2023—perkenalan yang rapi
Debut di ONE selalu ujian identitas. Banyak petarung domestik yang hebat terlihat “biasa” ketika naik level karena tempo lawan berbeda, sorotan lebih besar, dan kesalahan kecil lebih mahal. Kitano justru memperkenalkan dirinya dengan cara yang “sesuai buku”: ia mengalahkan Halil Kutukcu lewat unanimous decision di ONE Friday Fights 38 (27 Oktober 2023).
Yang membuat debut ini semakin melekat adalah momen highlight yang dirilis ONE: Kitano sempat menjatuhkan Kutukcu dengan siku kilat.
Momen itu penting karena menunjukkan “lapisan kedua” dari gaya Kitano. Ia memang petarung jarak, tetapi ketika lawan nekat merapat, ia punya respons cepat—seperti pintu yang tiba-tiba menutup dengan keras. Di sinilah “kicking game” Kitano benar-benar terasa sebagai sistem:
-
- tendangan menjaga jarak dan mengganggu ritme,
- jab/straight menghubungkan jarak,
- lalu siku (atau serangan jarak dekat lain) menjadi hukuman saat lawan memaksa entry.
Ujian besar: Stefan Korodi, ONE Fight Night 29—ketika detail menentukan
Setelah debut yang meyakinkan, ujian sesungguhnya di panggung global adalah konsistensi: bisakah kamu tetap menang ketika lawan sudah punya data, sudah menyiapkan rencana, dan tidak mudah “terpancing” permainan jarak? Pada ONE Fight Night 29 (7 Maret 2025), Kitano bertemu Stefan Korodi dan kalah lewat unanimous decision.
ONE menulis kemenangan itu menjadi kemenangan pertama Korodi di ONE sekaligus memutus momentum Kitano sebagai pemenang Road to ONE: Japan. Laga itu juga tercatat berlangsung di 148 lbs catchweight Muay Thai, sebuah detail yang menegaskan dinamika Friday Fights/Fight Night yang kadang memakai bobot catchweight.
Kekalahan keputusan seperti ini biasanya bukan cerita tentang “kalah jauh.” Ini cerita tentang:
-
- siapa yang lebih konsisten mencetak poin bersih,
- siapa yang lebih kuat menutup ronde,
- siapa yang lebih piawai mengubah tempo saat lawan mulai membaca pola.
Bagi petarung jarak seperti Kitano, pertanyaan besarnya setelah laga semacam ini sering berputar di tiga hal:
-
- bagaimana membuat tendangan tetap “terlihat dominan” di mata juri ketika lawan menekan,
- bagaimana mencuri momentum ronde ketika pertarungan ketat,
- bagaimana menambah variasi agar permainan jarak tidak terbaca.
Dan justru di sinilah nilai sebuah kekalahan: ia memberi peta perbaikan yang konkret.
Gaya bertarung
Kitano punya tinggi 177 cm—angka yang memberi keuntungan leverage dan jangkauan untuk kelas
bantamweight Muay Thai.
Dengan stance ortodoks, “kicking game” biasanya menjadi senjata utama untuk:
-
- teep dan tendangan panjang sebagai pagar,
- body kick untuk menguras napas,
- low kick untuk merusak ritme langkah.
Namun yang membuatnya terasa “dinamis” bukan hanya jenis tendangan, melainkan cara ia mengubah tempo. Petarung jarak yang baik tidak selalu menendang keras; kadang ia menendang untuk mengatur—membuat lawan tidak tahu kapan harus masuk.
Kitano juga sudah menunjukkan bahwa ia bukan petarung satu jarak: ketika kesempatan datang, ia bisa masuk ke jarak siku, seperti yang terlihat pada highlight debutnya.
Prestasi dan aspek menarik yang membuat Kitano patut dipantau
-
- Jalur prestasi yang “terbukti” sebelum ONE. WBC Japan dan WPMF Title menunjukkan Kitano menang di sistem yang disiplin dan kompetitif.
- Lulus turnamen Road to ONE. Turnamen ini menegaskan mental kompetitifnya—menang di bawah tekanan.
- Debut ONE yang tidak sekadar menang, tapi meninggalkan momen. Menang UD atas Kutukcu + highlight elbow memberi “tanda tangan” awal.
- Sudah merasakan ujian level Fight Night. Kekalahan dari Korodi adalah pengalaman penting untuk naik level—terutama bagi petarung yang ingin bersaing di divisi paling padat.
Katsuki Kitano sudah punya sesuatu yang tidak bisa diajarkan dalam semalam: identitas. Ia tahu bagaimana ia ingin bertarung—menguasai jarak, memaksa lawan masuk ke risiko, lalu memanen hasil lewat tendangan dan kombinasi. Kini, setelah menang di debut dan lalu diuji di ONE Fight Night, tantangannya naik satu tingkat: membuat permainan jarak itu lebih sulit dibaca, lebih kuat menutup ronde, dan lebih efektif ketika lawan menekan. Karena di level ONE Championship, perbedaan antara “prospek kuat” dan “penantang serius” sering bukan soal keberanian—melainkan soal detail kecil yang menang di ronde-ronde tipis.
(PR/timKB).
Sumber foto: onefc.com
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda