Su Mudaerji: The Tibetan Eagle, Penyerang Mematikan dari Atap Dunia

Piter Rudai 25/07/2026 4 min read
Su Mudaerji: The Tibetan Eagle, Penyerang Mematikan dari Atap Dunia

Jakarta – Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok semakin diperhitungkan sebagai salah satu kekuatan baru dalam dunia Mixed Martial Arts (MMA). Di antara deretan petarung yang berhasil menembus UFC, nama Su Mudaerji menempati posisi yang istimewa. Dijuluki “The Tibetan Eagle”, ia dikenal sebagai striker eksplosif dengan jangkauan luar biasa dan kemampuan knockout yang mematikan. Lahir pada 20 Januari 1996 di Provinsi Sichuan, Tiongkok, Su memiliki tinggi 173 sentimeter, berat bertanding di kisaran 57 kilogram untuk divisi flyweight, serta jangkauan mencapai 183 sentimeter—angka yang sangat panjang untuk kelasnya. Hingga pertengahan 2026, ia mencatat rekor profesional 19 kemenangan, 7 kekalahan, dan 1 no contest, dengan 13 kemenangan melalui KO/TKO, satu submission, dan lima kemenangan lewat keputusan juri.

Meski lahir di Sichuan, Su berasal dari etnis Tibet yang tumbuh dalam lingkungan sederhana. Sejak kecil, ia terbiasa menjalani kehidupan yang keras sehingga memiliki daya tahan fisik dan mental yang kuat. Ketertarikannya terhadap bela diri muncul ketika masih remaja. Awalnya ia mempelajari Sanda, seni bela diri modern Tiongkok yang menggabungkan teknik tinju, tendangan, dan lemparan. Latihan Sanda membentuk fondasi striking yang kemudian menjadi identitasnya sepanjang karier profesional.

Bakatnya berkembang pesat ketika bergabung dengan Enbo Fight Club, salah satu pusat pelatihan MMA terbaik di Tiongkok yang dikenal melahirkan banyak atlet UFC. Di bawah bimbingan pelatih-pelatih berpengalaman, Su mulai mempelajari berbagai aspek MMA, mulai dari wrestling hingga Brazilian Jiu-Jitsu. Walaupun grappling bukan keunggulan utamanya, ia memahami bahwa untuk bersaing di level dunia ia harus menjadi petarung yang komplet. Demi meningkatkan kualitas teknik, Su juga sempat menjalani pemusatan latihan bersama Team Alpha Male dan American Top Team di Amerika Serikat, pengalaman yang memperkaya kemampuannya menghadapi lawan dengan gaya bertarung berbeda.

Karier profesional Su dimulai di berbagai organisasi regional Asia. Sejak awal ia dikenal sebagai petarung yang gemar mengakhiri pertarungan lebih cepat. Kombinasi jab tajam, straight kiri yang keras, dan tendangan cepat membuat banyak lawan kesulitan mendekatinya. Berkat serangkaian kemenangan impresif, ia akhirnya memperoleh kesempatan bergabung dengan UFC pada 2018.

Debutnya berlangsung pada 24 November 2018 menghadapi Louis Smolka. Meski tampil penuh semangat, Su harus mengakui keunggulan lawannya melalui submission. Kekalahan tersebut menunjukkan bahwa aspek grappling masih menjadi pekerjaan rumah. Namun, alih-alih kehilangan kepercayaan diri, ia justru menjadikan pengalaman itu sebagai motivasi untuk berkembang.

Perbaikan tersebut mulai terlihat dalam pertandingan berikutnya. Su bangkit dengan kemenangan atas Andre Soukhamthath, menampilkan striking yang lebih matang dan disiplin. Setelah itu ia kembali meraih kemenangan atas Malcolm Gordon melalui KO ronde pertama pada 2021. Penampilan dominan tersebut membuatnya meraih bonus Performance of the Night, penghargaan yang diberikan kepada petarung dengan penyelesaian paling mengesankan pada malam pertandingan.

Nama Su semakin dikenal ketika menghadapi Zarrukh Adashev. Dalam pertarungan itu ia kembali menunjukkan kualitas sebagai striker elite dengan kemenangan KO yang mempertegas reputasinya sebagai salah satu pemukul paling keras di divisi flyweight. Berkat serangkaian kemenangan tersebut, posisinya perlahan naik ke jajaran petarung papan atas.

Salah satu pertandingan paling berkesan dalam kariernya terjadi saat menghadapi Matt Schnell. Duel tersebut berlangsung sangat sengit dengan kedua petarung saling bertukar serangan sejak ronde pertama. Meski akhirnya kalah melalui submission, penampilan Su mendapat apresiasi luas dan pertandingan itu dianugerahi bonus Fight of the Night, membuktikan kualitas hiburan yang selalu ia hadirkan di dalam oktagon.

Perjalanan Su di UFC memang tidak selalu mulus. Dari tujuh kekalahan yang dialaminya, sebagian besar terjadi melalui submission. Fakta tersebut menunjukkan bahwa pertahanan grappling masih menjadi tantangan terbesar dalam kariernya. Namun setiap kekalahan selalu diikuti dengan peningkatan kemampuan. Ia terus memperbaiki teknik bertahan di ground tanpa mengurangi agresivitas striking yang menjadi kekuatan utamanya.

Hingga Juli 2026, Su Mudaerji berada di peringkat ke-12 divisi flyweight UFC, sebuah pencapaian yang mencerminkan konsistensinya menghadapi lawan-lawan elite. Dengan 13 kemenangan KO/TKO, ia menjadi salah satu petarung paling berbahaya dalam divisi yang umumnya didominasi kemenangan melalui keputusan.

Filosofi bertarung Su sangat dipengaruhi oleh latar belakang Sanda. Ia percaya bahwa pertarungan harus dikendalikan melalui kecepatan, akurasi, dan keberanian mengambil inisiatif. Karena memiliki jangkauan lebih panjang dibanding sebagian besar lawannya, ia selalu berusaha menjaga jarak ideal sebelum melepaskan kombinasi pukulan yang cepat dan presisi. Gaya bertarungnya sering memaksa lawan bermain mengikuti ritme yang ia ciptakan.

Rutinitas latihannya terkenal sangat disiplin. Selain memperdalam striking, ia menghabiskan banyak waktu untuk meningkatkan wrestling defensif, Brazilian Jiu-Jitsu, kekuatan inti tubuh, serta latihan daya tahan. Pengalaman berlatih di Team Alpha Male dan American Top Team membuat pendekatan latihannya menjadi lebih modern dan menyeluruh.

Di luar arena, Su dikenal sebagai pribadi yang rendah hati dan pekerja keras. Ia sering menyatakan bahwa dirinya ingin membawa nama komunitas Tibet dan memperkenalkan lebih banyak atlet Tiongkok ke panggung dunia. Baginya, setiap kemenangan bukan hanya pencapaian pribadi, tetapi juga kebanggaan bagi masyarakat yang mendukungnya sejak awal.

Perjalanan Su Mudaerji masih jauh dari selesai. Di usia yang masih berada dalam masa emas seorang atlet, ia terus berkembang sebagai petarung yang semakin lengkap. Dengan striking eksplosif, jangkauan yang luar biasa, serta semangat pantang menyerah, “The Tibetan Eagle” tetap menjadi salah satu ancaman terbesar di divisi flyweight UFC dan simbol kebangkitan MMA Tiongkok di level internasional.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...