Jakarta – Di dunia UFC, hanya sedikit petarung yang mampu membangun reputasi bukan semata karena jumlah kemenangan, melainkan karena keberanian mereka menerima pertarungan melawan siapa pun. Salah satu nama yang masuk dalam kategori tersebut adalah Dan Hooker, petarung asal Selandia Baru yang dikenal dengan julukan “The Hangman.” Lahir dengan nama Daniel Preston Hooker pada 13 Februari 1990 di Auckland, Selandia Baru, Hooker telah menjelma menjadi salah satu sosok paling disegani di divisi lightweight berkat kombinasi kemampuan striking, daya tahan luar biasa, dan mentalitas pantang menyerah. Dengan tinggi 183 cm dan berat bertanding sekitar 70 kg, ia menjadi lawan yang sulit diprediksi karena jangkauan pukulannya yang panjang serta keberanian bertukar serangan hingga detik terakhir.
Perjalanan Hooker menuju panggung terbesar MMA dimulai sejak usia remaja. Ketertarikannya terhadap bela diri berawal dari keinginannya mempelajari cara membela diri, sebelum akhirnya jatuh cinta pada kickboxing. Olahraga tersebut membentuk fondasi teknik bertarungnya yang agresif dan efektif. Seiring waktu, ia mulai memperluas kemampuannya dengan mempelajari Brazilian Jiu-Jitsu, hingga akhirnya berhasil meraih sabuk hitam. Perpaduan striking dan kemampuan grappling inilah yang membuat Hooker berkembang menjadi petarung MMA yang komplet. Perjalanannya semakin matang setelah bergabung dengan City Kickboxing, gym ternama di Auckland yang juga melahirkan juara UFC seperti Israel Adesanya dan Alexander Volkanovski yang sempat menjalani pemusatan latihan di sana. Di bawah bimbingan pelatih Eugene Bareman, Hooker mengasah teknik sekaligus membangun disiplin sebagai atlet profesional.
Sebelum bergabung dengan UFC, Hooker mengumpulkan pengalaman melalui berbagai promotor regional di Selandia Baru dan Australia. Ia membangun reputasi sebagai petarung yang gemar mengakhiri laga sebelum waktu habis. Penampilannya yang konsisten akhirnya membuka jalan menuju Ultimate Fighting Championship (UFC) pada 2014. Debutnya memang tidak berjalan mulus karena kalah dari Ian Entwistle melalui submission. Namun kekalahan tersebut justru menjadi titik balik yang membentuk karakter Hooker. Ia memperbaiki kelemahan di permainan bawah, meningkatkan pertahanan grappling, dan perlahan menunjukkan perkembangan signifikan setiap kali tampil di oktagon.
Awalnya Hooker bertarung di divisi featherweight, tetapi hasil yang kurang konsisten membuatnya memutuskan naik ke divisi lightweight. Keputusan tersebut terbukti menjadi langkah yang mengubah kariernya. Dengan kondisi fisik yang lebih prima karena tidak lagi menjalani pemotongan berat badan secara ekstrem, performanya meningkat drastis. Hooker mencatat kemenangan beruntun atas nama-nama seperti Ross Pearson, Marc Diakiese, Jim Miller, Gilbert Burns, hingga James Vick. Rangkaian hasil impresif itu mengangkat posisinya sebagai salah satu penantang serius di divisi yang dikenal sebagai divisi paling kompetitif di UFC.
Karier Hooker kemudian memasuki fase yang lebih menantang ketika berhadapan dengan para elite lightweight dunia. Salah satu pertarungan terbaiknya terjadi pada Juni 2020 melawan Dustin Poirier. Meski kalah melalui keputusan mutlak setelah lima ronde, duel tersebut dianggap sebagai salah satu pertarungan terbaik tahun itu karena kedua petarung saling melancarkan serangan tanpa henti. Hooker menunjukkan ketangguhan luar biasa dengan tetap menyerang meski menerima banyak pukulan keras. Penampilan heroiknya diganjar bonus Fight of the Night, mempertegas reputasinya sebagai petarung yang selalu menghadirkan tontonan menarik.
Setelah itu, Hooker menghadapi lawan-lawan kelas dunia seperti Michael Chandler dan Islam Makhachev. Ia harus mengakui keunggulan Chandler lewat KO pada ronde pertama dan kemudian kalah melalui submission dari Makhachev, yang kelak menjadi juara UFC. Meski hasilnya tidak selalu berpihak kepadanya, Hooker tetap mendapat respek karena tidak pernah menghindari tantangan. Ia juga beberapa kali meraih Performance of the Night berkat kemenangan impresif yang diselesaikan melalui KO maupun submission. Hingga pertengahan 2026, rekor profesional Hooker tercatat 24 kemenangan dan 14 kekalahan, dengan rincian 11 kemenangan melalui KO/TKO, 7 submission, dan 6 kemenangan lewat keputusan juri.
Di dalam oktagon, Hooker dikenal sebagai striker agresif yang mengandalkan dasar kickboxing. Ia memanfaatkan jangkauan tubuhnya untuk menjaga jarak melalui jab, tendangan rendah, dan kombinasi pukulan lurus yang presisi. Namun ketika pertarungan beralih ke bawah, kemampuan Brazilian Jiu-Jitsu miliknya membuatnya tetap berbahaya. Filosofi bertarung Hooker sederhana tetapi kuat: selalu siap menghadapi siapa pun dan terus berkembang setelah setiap kekalahan. Mentalitas kompetitif itu membuatnya tetap bertahan di level tertinggi meski harus berkali-kali menghadapi lawan yang lebih diunggulkan. Latihan keras di City Kickboxing yang menitikberatkan pada simulasi pertarungan nyata, pengembangan teknik striking modern, serta peningkatan daya tahan fisik menjadi fondasi kesuksesannya. Hingga kini, Dan Hooker tetap menjadi simbol keberanian di UFC—seorang petarung yang mungkin tidak selalu pulang membawa kemenangan, tetapi hampir selalu meninggalkan pertarungan yang layak dikenang oleh para penggemar MMA.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda