Jakarta – Di tengah persaingan ketat divisi welterweight ONE Championship, muncul sosok petarung asal Australia yang perlahan membangun namanya melalui kombinasi disiplin, ketangguhan, dan teknik striking yang terus berkembang. Dialah Sarmad Jahanara, petarung berjuluk “The Immortal” yang lahir pada tahun 1995. Dengan tinggi badan 187 cm dan bertarung di kelas welterweight (83 kg), Jahanara dikenal sebagai striker ortodoks yang mengandalkan ketepatan pukulan, kontrol jarak, serta ketenangan dalam mengambil keputusan di dalam arena. Rekor profesionalnya yang terdiri dari enam kemenangan dan hanya satu kekalahan menjadi bukti bahwa ia merupakan salah satu prospek menarik yang patut diperhitungkan di ONE Championship.
Perjalanan Jahanara menuju panggung internasional tidak terjadi dalam semalam. Ia tumbuh di Australia dengan ketertarikan besar terhadap olahraga bela diri sejak usia muda. Ketika banyak anak seusianya menghabiskan waktu untuk olahraga konvensional, Jahanara justru terpikat pada seni bertarung yang mengajarkan disiplin, rasa hormat, dan kemampuan mengendalikan diri. Minat tersebut perlahan berkembang menjadi ambisi untuk meniti karier sebagai atlet profesional. Berbagai latihan dasar bela diri ia jalani sebelum akhirnya memutuskan menekuni mixed martial arts (MMA), cabang olahraga yang menggabungkan berbagai disiplin seperti tinju, kickboxing, gulat, dan Brazilian Jiu-Jitsu.
Kariernya semakin berkembang setelah bergabung dengan Absolute MMA, salah satu sasana bela diri paling bergengsi di Australia. Gym tersebut dikenal telah melahirkan sejumlah petarung papan atas yang sukses di berbagai organisasi MMA dunia. Berlatih bersama atlet-atlet elite membuat kemampuan Jahanara berkembang pesat, baik dari sisi teknik maupun mental. Ia tidak hanya mempertajam kemampuan striking, tetapi juga memperkuat aspek grappling dan pertahanan bawah agar mampu bersaing di level profesional.
Memulai karier profesional di ajang regional Australia, Jahanara perlahan mengumpulkan pengalaman melalui berbagai pertandingan yang menguji kemampuannya menghadapi lawan dengan gaya bertarung berbeda. Berbekal postur tinggi dan jangkauan yang lebih panjang dibanding banyak petarung di kelasnya, ia mampu mengendalikan tempo pertandingan melalui jab akurat, kombinasi pukulan lurus, serta tendangan yang efektif menjaga jarak. Seiring waktu, kualitasnya semakin terlihat hingga berhasil mengumpulkan enam kemenangan profesional, dua di antaranya diraih melalui knockout atau technical knockout, satu kemenangan lewat submission, serta tiga kemenangan melalui keputusan juri. Satu-satunya kekalahan dalam rekornya justru menjadi pelajaran penting yang membentuk kedewasaan bertarungnya.
Kesempatan terbesar dalam kariernya datang ketika resmi bergabung dengan ONE Championship pada tahun 2023. Bergabung dengan organisasi bela diri terbesar di Asia merupakan langkah penting bagi Jahanara untuk membuktikan kualitasnya di hadapan lawan-lawan kelas dunia. Debut di ONE menjadi pengalaman yang menuntut adaptasi lebih tinggi karena kualitas kompetisi jauh lebih ketat dibandingkan level regional. Namun, ia menunjukkan bahwa dirinya layak berada di panggung tersebut dengan penampilan disiplin dan penuh determinasi.
Perjalanan di ONE Championship juga memperlihatkan perkembangan gaya bertarungnya. Meski dikenal sebagai striker ortodoks, Jahanara tidak hanya mengandalkan kekuatan pukulan semata. Ia mampu mengombinasikan footwork yang rapi, kontrol jarak, serta kemampuan membaca pergerakan lawan. Ketika peluang terbuka, ia tidak ragu meningkatkan intensitas serangan melalui kombinasi pukulan beruntun yang dapat mengubah jalannya pertarungan. Di sisi lain, latihan grappling yang ia jalani di Absolute MMA membuatnya lebih percaya diri saat menghadapi ancaman takedown maupun pertarungan di bawah.
Julukan “The Immortal” bukan sekadar identitas di atas poster pertandingan. Julukan tersebut mencerminkan filosofi hidup Jahanara yang percaya bahwa seorang petarung harus mampu bangkit dari setiap kegagalan. Baginya, kemenangan memang penting, tetapi proses belajar dari kekalahan jauh lebih berharga dalam membangun karier jangka panjang. Mentalitas seperti inilah yang membuatnya tetap konsisten berkembang setiap kali memasuki kamp pelatihan baru.
Dalam kesehariannya, metode latihan Jahanara dikenal sangat terstruktur. Ia membagi sesi latihan menjadi beberapa aspek, mulai dari striking, wrestling, Brazilian Jiu-Jitsu, latihan fisik, hingga pemulihan kondisi tubuh. Selain meningkatkan kekuatan dan daya tahan, ia juga memberi perhatian besar terhadap analisis video pertandingan lawan untuk memahami pola serangan dan mencari celah yang dapat dimanfaatkan. Pendekatan ilmiah terhadap latihan menjadi salah satu faktor yang membuat performanya terus meningkat dari waktu ke waktu.
Tantangan terbesar dalam kariernya tentu datang dari ketatnya persaingan divisi welterweight ONE Championship, yang dihuni banyak petarung berpengalaman dari berbagai negara. Setiap pertandingan menghadirkan karakter lawan yang berbeda, mulai dari spesialis gulat, striker eksplosif, hingga ahli submission. Kondisi tersebut memaksanya terus beradaptasi dan memperluas kemampuan agar tidak mudah ditebak oleh lawan.
Meski baru memulai perjalanan di panggung internasional, prospek karier Sarmad Jahanara masih sangat terbuka. Dengan usia yang masih berada pada fase matang sebagai atlet, pengalaman bertanding yang terus bertambah, serta dukungan lingkungan latihan berkualitas di Absolute MMA, ia memiliki peluang untuk berkembang menjadi salah satu penantang serius di divisi welterweight ONE Championship. Rekor profesional 6 kemenangan dan 1 kekalahan hanyalah awal dari perjalanan seorang petarung yang terus berusaha membuktikan bahwa kerja keras, disiplin, dan semangat pantang menyerah dapat mengantarkannya menuju level tertinggi dalam dunia mixed martial arts.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda