Jakarta – Payton Talbott adalah gambaran petarung generasi baru UFC yang datang dengan latar belakang tidak biasa. Lahir di Las Vegas, Amerika Serikat, pada 9 September 1998 dan tumbuh di Reno, Nevada, Talbott lebih dahulu mengenal olahraga melalui gulat. Ia berlatih wrestling sejak sekolah menengah hingga SMA, sebelum pada usia 18 tahun masuk ke sebuah sasana MMA dan menemukan dunia yang kemudian mengubah arah hidupnya. Menariknya, Talbott mengaku sebelum mulai berlatih ia hampir tidak mengetahui banyak hal tentang MMA. Dari Reno Academy of Combat, ia perlahan membangun kemampuan yang kemudian membawanya ke panggung terbesar olahraga tarung dunia.
Talbott juga memiliki sisi akademis yang cukup kuat. Pada 2022, ia menyelesaikan gelar sarjana psikologi di University of Nevada, Reno. Sebelum kesempatan besar di UFC datang, ia masih bekerja sebagai barista dan pernah memiliki rencana menjadi petugas pemadam kebakaran. Di sisi olahraga, catatan amatirnya dilaporkan 5-0, termasuk dua gelar King of the Cage amatir. UFC juga mencatat ia pernah menjadi juara A1 Combat bantamweight sebanyak tiga kali serta memenangkan turnamen Muay Thai IKF pada 2021. Kombinasi pengalaman wrestling, striking dan pendidikan psikologi menjadi fondasi menarik bagi karakter bertarungnya.
Karier profesional Talbott dimulai pada 2021. Ia kemudian mengumpulkan kemenangan demi kemenangan di level regional hingga mendapatkan kesempatan tampil dalam Dana White’s Contender Series pada 8 Agustus 2023. Menghadapi Reyes Cortez Jr., Talbott harus bertarung tiga ronde dan menang melalui unanimous decision 29-28 di seluruh kartu juri. Penampilannya menunjukkan salah satu ciri khas yang kelak melekat padanya: tekanan konstan dan kemampuan menyesuaikan serangan dengan lawan. UFC mencatat Talbott bahkan membuat rekor jumlah significant strikes terbanyak dalam sebuah laga bantamweight pada Contender Series ketika itu. Kemenangan tersebut memberinya kontrak UFC dan membuka pintu menuju level tertinggi.
Debut Octagon-nya berlangsung pada 18 November 2023 melawan Nick Aguirre. Talbott sempat menghadapi kesulitan grappling pada ronde pertama ketika Aguirre berhasil mengontrol punggungnya, tetapi ia mampu membalikkan keadaan dan menutup pertarungan melalui rear-naked choke pada ronde ketiga. Empat bulan kemudian, Talbott memperlihatkan sisi striking-nya ketika menghentikan Cameron Saaiman melalui serangan pada detik ke-21 ronde kedua. Di UFC 303, ia bahkan mencatat kemenangan yang jauh lebih spektakuler: Yanis Ghemmouri dijatuhkannya hanya dalam 19 detik ronde pertama. Dua kemenangan tersebut memperkuat reputasinya sebagai salah satu prospek paling atraktif di kelas bantam.
Momentum itu kemudian terhenti ketika Talbott menghadapi ujian besar pertama dalam karier UFC. Pada UFC 311, 18 Januari 2025, ia berhadapan dengan veteran Brasil Raoni Barcelos. Pengalaman dan kemampuan grappling Barcelos menjadi masalah besar. Talbott kalah melalui unanimous decision dengan skor 30-27, 30-27, 30-26, sekaligus menerima kekalahan profesional pertama. UFC menggambarkan kemenangan Barcelos sebagai hasil dari grappling dan kontrol yang membuat Talbott kesulitan mengembangkan permainan terbaiknya. Kekalahan tersebut penting karena memperlihatkan area yang harus diperbaiki jika ia ingin benar-benar menembus jajaran elite.
Talbott merespons dengan cara yang meyakinkan. Di UFC 317 pada Juni 2025, ia menghadapi Felipe Lima dan memenangkan pertarungan melalui unanimous decision 29-28 di ketiga kartu juri. Kemenangan itu menunjukkan bahwa ia tidak hanya bergantung pada kemampuan mencari finis, tetapi juga mampu bertarung disiplin selama 15 menit. Setelah itu datang tantangan paling bergengsi dalam kariernya: Henry Cejudo, mantan juara UFC dua divisi sekaligus peraih medali emas Olimpiade. Pada UFC 323, Talbott tampil matang, mencetak dua takedown pada ronde pertama dan kemudian mengungguli Cejudo dalam pertukaran striking. Ia menang mutlak 30-27 di seluruh kartu juri. UFC menyebut kemenangan tersebut sebagai tiket Talbott menuju jajaran Top 15 bantamweight.
Secara gaya, Talbott adalah striker yang sangat adaptif. Meski memiliki latar belakang wrestling kuat, ia justru lebih menyukai pertarungan berdiri. Ia menyebut Max Holloway dan Mike Tyson sebagai inspirasi, sementara dirinya menggambarkan striking-nya sebagai kemampuan yang menyesuaikan diri berdasarkan apa yang dilakukan lawan. Jab menjadi salah satu teknik favoritnya. Dalam latihan yang ia jelaskan kepada UFC, rutinitasnya mencakup sekitar satu jam wrestling dilanjutkan satu jam striking dan sparring. Ia juga pernah berlatih bersama Cejudo di Fight Ready pada 2024 dan mengatakan pengalaman tersebut memberinya banyak pengetahuan yang masih ia gunakan.
Mentalitas Talbott mungkin sama menariknya dengan kemampuan fisiknya. Ia dikenal sangat percaya diri dan memiliki standar tinggi terhadap dirinya sendiri. Setelah mendapatkan kontrak UFC, ia menegaskan bahwa penilaian orang lain bukan ukuran utama bagi dirinya. Filosofinya sederhana: kesempatan besar harus dinikmati, tetapi pekerjaan seorang petarung tetaplah pekerjaan yang harus dilakukan dengan serius. Sampai Agustus 2026, rekor profesionalnya tercatat 11 kemenangan dan 1 kekalahan, dengan tujuh kemenangan KO/TKO dan satu submission menurut profil UFC. Dengan usia yang masih 27 tahun dan pengalaman menghadapi lawan dari berbagai karakter, Talbott kini berada pada fase penting: bukan lagi sekadar prospek, melainkan petarung yang mulai dituntut membuktikan konsistensinya di antara nama-nama terbaik kelas bantamweight.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda