Jakarta – Di dunia olahraga tarung, tidak banyak atlet yang mampu menaklukkan tiga disiplin sekaligus. Stamp Fairtex adalah salah satunya. Lahir dengan nama Natthawan Panthong pada 16 November 1997 di wilayah Klaeng, Provinsi Rayong, Thailand, Stamp tumbuh dalam keluarga yang dekat dengan Muay Thai sekaligus kehidupan pertanian. Ayahnya merupakan praktisi Muay Thai, sementara pamannya memiliki tempat latihan sederhana bernama Kiat Boon Kern. Sejak kecil, Stamp sudah akrab dengan suara pukulan, tendangan, dan latihan fisik. Ia mulai berlatih sekitar usia lima tahun, awalnya bukan semata-mata demi menjadi juara, tetapi juga karena ingin memiliki kemampuan membela diri dari perundungan di sekolah. Dalam salah satu kisah yang diceritakan ONE Championship, Stamp bahkan memenangkan pertandingan pertamanya melalui KO pada ronde pertama.
Namun, perjalanan Stamp tidak selalu berjalan mulus. Saat masih kecil, ia sempat berhenti bertanding karena tubuhnya terlalu kecil untuk mendapatkan lawan yang sepadan. Di sisi lain, orang tuanya ketika itu belum melihat masa depan yang jelas bagi perempuan di dunia Muay Thai. Ketika berusia sekitar 17 tahun, kesempatan bertanding kembali datang dalam sebuah festival lokal. Stamp kembali berlatih, bahkan dengan fasilitas yang sangat sederhana. Penampilannya membuat api kompetitifnya menyala lagi. Ia kemudian mulai meraih kemenangan di tingkat lokal hingga akhirnya menarik perhatian Fairtex Training Center di Pattaya. Pada usia sekitar 18 tahun, ia meninggalkan kampung halamannya untuk mengejar karier sebagai atlet profesional dan menjadi atlet perempuan pertama yang mendapat dukungan sponsor dari Fairtex.
Di Pattaya, karier Stamp berkembang pesat. Pengalaman panjangnya di Muay Thai membuatnya memiliki fondasi striking yang sangat kuat. Ia dikenal dengan kombinasi pukulan, tendangan, lutut, dan kemampuan membaca jarak yang khas petarung Thailand. Perpindahan ke Fairtex juga memperkenalkannya pada lingkungan latihan yang lebih profesional dan kemudian membuka pintu menuju panggung internasional. ONE Championship menjadi titik balik terbesar. Pada Oktober 2018, Stamp melakukan debutnya di ONE dan langsung merebut ONE Women’s Atomweight Kickboxing World Championship. Dalam pertandingan berikutnya, ia kembali membuat sejarah dengan merebut ONE Women’s Atomweight Muay Thai World Championship, menjadikannya atlet pertama dalam sejarah ONE yang menjadi juara dunia di dua disiplin berbeda.
Setelah menguasai striking, Stamp mengambil keputusan berani: berpindah ke mixed martial arts (MMA). Debut MMA profesionalnya berlangsung di ONE pada 2019 menghadapi Asha Roka, yang dimenangkannya melalui submission. Ia kemudian mengalahkan Bi Nguyen dan terus mengembangkan kemampuan grappling serta ground fighting. Perjalanan tersebut tidak selalu sempurna. Pada Januari 2021, Stamp mengalami kekalahan MMA pertamanya dari Alyse Rassohyna melalui guillotine choke. Kekalahan itu justru menjadi bagian penting dari evolusinya. Ia kembali memenangkan dua pertandingan atas Rassohyna dalam rangkaian laga berikutnya, mengalahkan Julie Mezabarba, lalu menaklukkan Ritu Phogat melalui armbar di final ONE Women’s Atomweight World Grand Prix 2021. Kemenangan itu memberinya sabuk Grand Prix sekaligus kesempatan menantang Angela Lee.
Pertarungan melawan Angela Lee pada Maret 2022 menjadi salah satu ujian terbesar dalam kariernya. Stamp tampil dengan striking berbahaya, tetapi Lee berhasil memanfaatkan permainan grappling dan mengakhiri laga melalui rear-naked choke pada ronde kedua. Kekalahan tersebut memperlihatkan bahwa menjadi striker elite belum cukup untuk mendominasi MMA. Stamp kemudian kembali bekerja memperbaiki permainan bawahnya. Ia mengalahkan Jihin Radzuan melalui keputusan mutlak sebelum pada 2023 mencatat salah satu kemenangan paling spektakuler dalam kariernya. Menghadapi Alyse Anderson, Stamp memenangkan laga lewat body kick pada ronde kedua. Kemenangan itu mengantarkannya menuju pertarungan perebutan gelar melawan veteran Korea Selatan Ham Seo Hee.
Pada 29 September 2023, Stamp mencapai puncak yang sebelumnya nyaris mustahil. Menghadapi Ham di ONE Fight Night 14, ia menunjukkan perkembangan menyeluruh sebagai petarung MMA. Tidak hanya mengandalkan striking, Stamp mampu mengontrol pertarungan secara taktis sebelum mengakhiri laga pada ronde ketiga melalui serangan ke tubuh yang diikuti rentetan pukulan. Kemenangan itu membuatnya menjadi juara dunia ONE di tiga disiplin berbeda: Muay Thai, kickboxing, dan MMA—sebuah pencapaian bersejarah dalam organisasi tersebut. Situasinya semakin dramatis karena Angela Lee mengumumkan pensiun tepat sebelum laga, sehingga pertandingan Stamp-Ham yang semula direncanakan sebagai perebutan gelar interim berubah menjadi perebutan sabuk dunia yang tak terbantahkan.
Di balik gaya bertarungnya yang agresif, Stamp memiliki mentalitas yang sangat adaptif. Ia tidak terpaku pada satu identitas sebagai striker. Justru kekuatannya terletak pada kemauan untuk terus belajar. Pengalaman menghadapi Lee menjadi pelajaran penting mengenai pentingnya grappling, sementara pertarungan melawan Ham menunjukkan bahwa kemampuan striking klasiknya kini berpadu dengan pemahaman MMA yang jauh lebih matang. Dalam latihan di Fairtex, persiapannya mencakup teknik striking, pad work, conditioning, serta pengembangan kemampuan grappling dan ground game. Lingkungan latihan yang disiplin dan perhatian terhadap nutrisi menjadi bagian penting dari prosesnya.
Secara profesional, rekor MMA Stamp tercatat 11 kemenangan dan 2 kekalahan, dengan tujuh kemenangan melalui KO/TKO atau submission. Ia bertarung terutama di kelas atomweight, meski beberapa laga awal MMA-nya berlangsung di strawweight. Setelah merebut gelar MMA pada 2023, Stamp harus menghadapi tantangan terbesar yang justru datang di luar arena. Cedera lutut, khususnya masalah meniskus, membuatnya absen panjang dan akhirnya sabuk atomweight MMA harus dilepaskan. Setelah hampir tiga tahun tidak bertanding, ia dijadwalkan kembali pada ONE Fight Night 47, 5 September 2026, menghadapi Selina Flores dalam laga Muay Thai atomweight.
Kisah Stamp Fairtex pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang seorang petarung yang mengoleksi sabuk juara. Ia adalah gambaran tentang evolusi seorang atlet: dari anak perempuan di pedesaan Rayong, petarung cilik yang sempat berhenti, kemudian merantau ke Pattaya, menjadi bintang Muay Thai dan kickboxing, lalu berani memasuki dunia MMA yang jauh lebih kompleks. Senjatanya memang lutut, tendangan, pukulan dan pengalaman puluhan pertandingan. Tetapi senjata terbesarnya adalah kemauan untuk berubah. Stamp membuktikan bahwa seorang juara tidak harus berhenti pada gaya yang membuatnya terkenal—ia harus terus belajar agar mampu bertahan ketika dunia pertarungan berubah.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda