Jakarta – Merab Dvalishvili tidak dibangun untuk bertarung dengan cara biasa. Di dalam oktagon, ia seperti mesin yang tombol berhentinya sulit ditemukan: bergerak, menekan, melakukan takedown, bangkit lagi, lalu mengulanginya sebelum lawan sempat mengatur napas. Julukan “The Machine” akhirnya terasa begitu tepat. Lahir pada 10 Januari 1991, Merab berasal dari Georgia dan kini menjadi salah satu petarung paling produktif dalam sejarah kelas bantamweight UFC. Ia bertarung di kelas 135 pound atau sekitar 61,2 kilogram, dengan tinggi 167,6 cm dan reach 173 cm. Per 4 September 2026, catatan profesional MMA-nya adalah 21 kemenangan dan 5 kekalahan, dengan tiga kemenangan KO/TKO, dua submission, dan 16 kemenangan melalui keputusan.
Ketertarikannya terhadap olahraga tarung bermula jauh sebelum UFC. Merab tumbuh di Georgia dan sejak muda mengenal kartuli ch’idaoba, gulat tradisional Georgia, serta khridoli, kemudian mendalami sambo dan judo. Pada usia 21 tahun ia pindah ke Amerika Serikat dengan tujuan mengejar karier sebagai petarung profesional. Di New York, ia bergabung dengan Team Serra/Longo, lingkungan latihan yang mempertemukannya dengan Ray Longo dan Matt Serra. Perpindahan itu menjadi titik penting karena Merab mulai menggabungkan fondasi gulat dan sambo dengan striking serta Brazilian jiu-jitsu. Sebelum benar-benar dikenal dunia, ia bahkan harus melewati masa sulit sebagai imigran yang membangun kehidupan dari bawah.
Karier MMA profesional Merab dimulai pada 2014. Ia bertarung di berbagai organisasi regional, termasuk Cage Fury Fighting Championships dan Ring of Combat. Debut profesionalnya berakhir dengan kekalahan, tetapi ia kemudian membangun rangkaian kemenangan dan mengumpulkan rekor 7-2 sebelum memasuki UFC. Salah satu kemenangan yang paling menarik perhatian datang ketika ia menghentikan Raufeon Stots hanya dalam 15 detik melalui spinning backfist. Namun, penting diluruskan: kemenangan tersebut bukan terjadi di Dana White’s Contender Series. Merab justru ditemukan melalui program Dana White: Lookin’ for a Fight, setelah mempertahankan gelarnya di Ring of Combat.
Debut UFC-nya berlangsung pada 9 Desember 2017 melawan Frankie Saenz. Merab kalah melalui split decision, dan empat bulan kemudian ia kembali mengalami kekalahan dari Ricky Simón melalui technical submission akibat guillotine choke. Dua kekalahan pertama di UFC tersebut menjadi ujian besar karena kariernya di organisasi terbesar MMA dunia nyaris dimulai dengan jalan buntu. Tetapi justru setelah itu lahir versi Merab yang lebih matang. Ia mengalahkan Terrion Ware, Brad Katona, Casey Kenney, Gustavo Lopez, John Dodson, Cody Stamann, serta sejumlah lawan lain. Pada UFC 266, September 2021, ia menunjukkan ketangguhan luar biasa ketika bangkit setelah sempat dijatuhkan dan hampir diselesaikan Marlon Moraes pada ronde pertama, sebelum membalikkan keadaan dan menang TKO di ronde kedua.
Kemenangan atas José Aldo di UFC 278 pada Agustus 2022 menjadi tonggak berikutnya. Menghadapi mantan juara UFC dan salah satu legenda MMA terbesar, Merab tidak mencoba memenangkan pertarungan melalui adu pukulan. Ia menggunakan tekanan dan wrestling untuk mengendalikan tiga ronde dan menang unanimous decision. Pada Maret 2023, tantangan yang lebih besar datang ketika ia menghadapi mantan juara bantamweight Petr Yan. Lima ronde menjadi demonstrasi luar biasa dari chain wrestling Merab. Ia terus memaksa Yan bertahan dari percobaan takedown dan tekanan tanpa henti, hingga akhirnya menang unanimous decision. Kekalahan tersebut sekaligus menjadi salah satu titik terendah Yan, sementara Merab semakin dekat dengan perebutan gelar.
Kesempatan itu akhirnya tiba pada 14 September 2024 di UFC 306, yang digelar di Sphere, Las Vegas—bukan Riyadh. Merab menghadapi Sean O’Malley untuk memperebutkan gelar bantamweight UFC. Dengan kombinasi takedown, kontrol, tekanan dan striking yang cukup untuk menjaga lawannya tetap bereaksi, Merab memenangkan lima ronde melalui unanimous decision. Ia pun menjadi juara kelas bantamweight UFC dan tercatat sebagai petarung kelahiran Georgia pertama yang memenangkan gelar UFC. Bagi seorang petarung yang pernah memulai karier UFC dengan dua kekalahan, momen tersebut menjadi puncak dari perjalanan panjang yang hampir satu dekade.
Sebagai juara, Merab justru memilih jalan yang sangat sibuk. Pada Januari 2025 ia mempertahankan sabuk melawan Umar Nurmagomedov, menang unanimous decision dalam pertarungan yang juga memberinya bonus Fight of the Night. Lima bulan kemudian, ia kembali menghadapi Sean O’Malley. Kali ini dominasinya semakin jelas dan berakhir dengan north-south choke pada ronde ketiga. Pertahanan gelar ketiganya datang pada UFC 320, Oktober 2025, ketika ia mengalahkan Cory Sandhagen melalui unanimous decision. Tiga pertahanan gelar dalam satu tahun memperlihatkan bukan hanya kemampuan bertarung, tetapi juga tingkat aktivitas yang luar biasa tinggi.
Namun, upaya mempertahankan sabuk untuk keempat kalinya dalam tahun kalender yang sama menjadi akhir dari pemerintahannya. Pada UFC 323, 6 Desember 2025, Merab kembali menghadapi Petr Yan. Kali ini Yan tampil dengan strategi yang berbeda, mampu mempertahankan diri dari wrestling Merab dan menyerang tubuhnya dengan efektif. Setelah lima ronde, seluruh juri memberikan kemenangan kepada Yan dengan skor 49-46, 49-46, 48-47. Kekalahan tersebut mengakhiri rentetan 14 kemenangan beruntun Merab dan membuatnya kehilangan sabuk bantamweight.
Jika ingin memahami Merab, statistik takedown adalah pintu masuk terbaik—tetapi bukan keseluruhan ceritanya. Ia dikenal sebagai salah satu wrestler paling produktif dalam sejarah UFC. Profil UFC mencatat 117 takedown yang berhasil sepanjang kariernya di organisasi tersebut. Senjatanya bukan sekadar satu takedown yang sempurna, melainkan chain wrestling: ketika lawan menggagalkan satu percobaan, Merab segera beralih ke percobaan berikutnya. Jika lawan berhasil berdiri, ia kembali menyerang kaki. Jika takedown berhasil, ground-and-pound menyusul. Semua itu dilakukan dengan kecepatan tinggi dan volume luar biasa.
Cardio menjadi bahan bakar utama sistem tersebut. Merab sendiri menjelaskan bahwa daya tahannya dibangun melalui kerja keras bertahun-tahun, termasuk berlari ketika tidak sedang melakukan grappling atau sparring. Latihan di Team Serra/Longo membentuk perpaduan wrestling, judo, sambo, striking dan jiu-jitsu, tetapi mentalitasnya tetap sederhana: terus bekerja ketika lawan mulai lelah. Ia tidak membutuhkan satu serangan spektakuler untuk memenangkan pertarungan. Ia membuat lawan menghadapi puluhan masalah kecil secara beruntun sampai akhirnya tubuh dan pikirannya tidak mampu merespons.
Kini, Merab berada dalam posisi unik. Ia bukan lagi juara, tetapi tetap menjadi salah satu penantang teratas kelas bantamweight. UFC mencatatnya sebagai petarung 21-5 dan pertandingan berikutnya adalah pertarungan trilogi melawan Petr Yan di UFC 333 pada 24 Oktober 2026 di Etihad Arena, Yas Island, Abu Dhabi. Yan datang sebagai juara dengan rekor 20-5, sementara Merab membawa sesuatu yang tidak kalah penting: kesempatan untuk membalikkan cerita sekali lagi.
Perjalanan Merab Dvalishvili pada akhirnya bukan kisah tentang petarung yang tidak pernah kalah. Justru dua kekalahan awal di UFC, kekalahan dari Yan, dan perjalanan panjang sebelum menjadi juara membuat kisahnya lebih manusiawi. Ia menang karena bersedia bekerja lebih lama, bergerak lebih banyak, dan terus memaksa lawan menghadapi masalah berikutnya. The Machine bukan mesin karena tidak pernah rusak. Ia disebut mesin karena setiap kali berhenti, ia selalu menemukan cara untuk kembali menyala.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda