Jakarta – Petr “No Mercy” Yan adalah gambaran tentang bagaimana seorang petarung dapat jatuh dari puncak, melewati masa sulit, lalu kembali merebut tempat tertinggi. Lahir pada 11 Februari 1993 di Dudinka, Rusia, Yan membangun fondasi bela dirinya dari tinju. Ia mulai berlatih tinju pada usia 13 tahun dan sekitar tujuh tahun kemudian beralih menekuni mixed martial arts. Sebelum menjadi bintang UFC, ia bahkan pernah bekerja paruh waktu sebagai petugas keamanan. Pendidikan olahraganya juga serius: Yan lulus dari institut olahraga setelah lima tahun belajar dengan spesialisasi kepelatihan tinju untuk anak muda. Ia kemudian memperoleh gelar Master of Sport dalam tinju dan sabuk biru Brazilian Jiu-Jitsu.
Karier profesional Yan dimulai pada 2013. Setelah kemenangan debut atas Murad Bakiev, ia mulai membangun reputasi di kompetisi regional Rusia dan Absolute Championship Berkut (ACB), yang kemudian menjadi Absolute Championship Akhmat. Langkahnya di ACB menjadi periode penting dalam pembentukan Yan sebagai petarung lengkap. Ia memenangkan sejumlah pertandingan sebelum menghadapi Magomed Magomedov pada Maret 2016. Untuk pertama kalinya dalam karier profesionalnya, Yan harus menerima kekalahan, melalui split decision. Namun kekalahan itu tidak bertahan lama. Pada Juli 2016 ia bangkit mengalahkan Ed Arthur, sebelum kembali menghadapi Magomedov pada April 2017. Kali ini Yan menang unanimous decision dalam lima ronde dan merebut gelar kelas bantam ACB.
Setelah mempertahankan momentumnya dengan kemenangan KO atas Matheus Mattos pada September 2017, Yan mendapat panggung yang lebih besar: Ultimate Fighting Championship (UFC). Debutnya berlangsung pada Juni 2018 melawan Teruto Ishihara dan berakhir dengan TKO melalui pukulan pada ronde pertama. Dari sana, Yan berkembang sangat cepat. Jin Soo Son dikalahkan melalui keputusan, kemudian Douglas Silva de Andrade dihentikan lewat corner stoppage. Ia selanjutnya mengalahkan John Dodson dan Jimmie Rivera sebelum menghasilkan salah satu kemenangan paling terkenal pada fase awal karier UFC: KO atas veteran sekaligus legenda UFC, Urijah Faber, pada ronde ketiga di UFC 245.
Puncaknya datang pada UFC 251, 11 Juli 2020. Yan menghadapi José Aldo dalam perebutan gelar bantamweight UFC yang kosong. Pertarungan berjalan keras selama hampir lima ronde sebelum Yan menghentikan Aldo melalui TKO akibat pukulan pada menit 3:24 ronde kelima. Kemenangan tersebut mengubah Yan dari penantang elite menjadi juara dunia. Namun masa pemerintahannya berlangsung singkat dan berakhir secara kontroversial. Dalam duel melawan Aljamain Sterling di UFC 259 pada Maret 2021, Yan melancarkan illegal knee ketika Sterling berada dalam posisi yang membuat serangan tersebut dilarang. Yan didiskualifikasi dan kehilangan sabuk.
Yan kemudian menunjukkan bahwa kehilangan gelar bukan akhir perjalanannya. Ia mengalahkan Cory Sandhagen melalui unanimous decision dalam pertarungan lima ronde di UFC 267 untuk merebut gelar interim bantamweight. Akan tetapi, usaha menyatukan kembali sabuk berakhir dengan kekalahan split decision dari Sterling pada April 2022. Beberapa bulan kemudian, Yan kembali mengalami kekalahan kontroversial ketika Sean O’Malley mengalahkannya melalui split decision. Tahun berikutnya menjadi salah satu periode terberat dalam kariernya: Merab Dvalishvili mengalahkannya dengan dominasi lima ronde pada Maret 2023, dengan seluruh juri memberikan skor 50-45 untuk Dvalishvili.
Alih-alih terpuruk, Yan membangun kembali dirinya secara perlahan. Ia mengalahkan Song Yadong melalui unanimous decision pada Maret 2024, kemudian Deiveson Figueiredo dalam pertarungan lima ronde pada November tahun yang sama. Kemenangan atas Marcus McGhee pada Juli 2025 membuat momentum Yan semakin kuat. Tiga kemenangan beruntun itu mengantarkannya kembali ke pertandingan perebutan gelar—dan lawannya adalah sosok yang pernah memberinya salah satu kekalahan paling telak, Merab Dvalishvili.
Pertemuan kedua mereka berlangsung di UFC 323 pada 6 Desember 2025. Kali ini Yan tampil berbeda. Ia tidak membiarkan Dvalishvili mengendalikan ritme seperti pada pertemuan pertama. Yan justru mengambil inisiatif, maju menekan, mengincar tubuh, dan mempertahankan serangan dengan kombinasi pukulan yang lebih efektif. Setelah lima ronde, tiga juri memberikan kemenangan untuk Yan dengan skor 49-46, 49-46, 48-47. Dengan hasil tersebut, Petr Yan kembali menjadi juara kelas bantam UFC—sekitar lima tahun setelah pertama kali merebut sabuk tersebut.
Kekuatan Yan tidak hanya terletak pada kerasnya pukulan. Fondasi tinjunya membuat ia sangat nyaman bertarung dalam jarak striking, sementara pengalaman MMA memungkinkannya beradaptasi terhadap ancaman grappling. Ia dikenal sebagai petarung yang mampu membaca ritme lawan dan meningkatkan tekanan seiring pertandingan berjalan. Filosofinya juga sangat dipengaruhi oleh disiplin latihan. Dalam profil UFC, Yan menjelaskan bahwa rutinitas latihannya dapat mencakup tiga sesi sehari: strength and conditioning pada pagi hari, sparring pada sore hari, lalu pekerjaan teknik dan drill pada malam hari. Ia menyebut Mike Tyson, Kostya Tszyu, dan Muhammad Ali sebagai figur yang ia kagumi.
Per September 2026, Yan memiliki rekor profesional 20 kemenangan dan 5 kekalahan, dengan 7 kemenangan KO/TKO, 1 submission, dan 12 kemenangan melalui keputusan menurut catatan Sherdog. Ia bertarung di kelas bantamweight dengan batas 135 pound atau sekitar 61,2 kilogram. Setelah kembali menjadi juara, tantangan berikutnya sudah menunggu: trilogi melawan Merab Dvalishvili dijadwalkan berlangsung di UFC 333 pada 24 Oktober 2026 di Abu Dhabi.
Perjalanan Petr Yan pada akhirnya bukan sekadar kisah tentang menjadi juara. Ia adalah cerita tentang kemampuan beradaptasi. Dari petinju muda di Rusia, juara ACB, pendatang baru UFC, juara dunia, kehilangan sabuk karena diskualifikasi, mengalami rentetan kekalahan, hingga akhirnya merebut kembali gelar yang pernah menjadi miliknya. “No Mercy” bukan hanya tentang gaya bertarung yang keras. Pada Yan, julukan itu terasa lebih tepat sebagai gambaran mentalitas: ketika pintu menuju puncak tertutup, ia terus mencari cara untuk membukanya kembali.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda