Jakarta – George “G-Unit” Jarvis tidak lahir dari keluarga yang jauh dari dunia bela diri. Petarung asal Crawley, Inggris, ini justru tumbuh di dalam gym milik keluarganya sendiri. Ayahnya mengelola Lumpini Crawley, tempat Jarvis pertama kali mengenal Muay Thai ketika baru berusia empat tahun. Namun, masa kecilnya tidak sepenuhnya dihabiskan di atas ring. Ketika beranjak besar, ia sempat meninggalkan bela diri dan lebih tertarik pada sepak bola, olahraga yang sangat populer di Inggris. Baru sekitar usia 17 tahun, Jarvis kembali serius menekuni Muay Thai. Keputusan itu kemudian mengubah arah hidupnya.
Kembalinya Jarvis ke dunia pertarungan berlangsung dengan cepat. Ia mulai aktif bertanding dan mengumpulkan pengalaman di berbagai ajang sebelum membangun reputasi sebagai salah satu petarung Muay Thai muda Inggris yang menjanjikan. Salah satu fondasi penting kariernya datang melalui gelar-gelar WBC Muay Thai, termasuk WBC Muay Thai World Championship. Pengalaman tersebut membentuk gaya bertarungnya: teknis tetapi agresif, mampu menjaga tempo tinggi, sekaligus memiliki kemampuan menghasilkan serangan keras dari berbagai jarak. Pada akhirnya, ambisinya semakin jelas—bukan hanya menjadi juara di Inggris, tetapi mencapai panggung terbesar seperti ONE Championship.
Perjalanan Jarvis di ONE tidak langsung dimulai dengan kemenangan. Ia melakukan debut pada ONE Friday Fights 35, September 2023, menghadapi Chanajon PK Saenchai dan kalah melalui split decision. Kekalahan tersebut menjadi ujian awal dalam perjalanan internasionalnya. Ia kemudian bangkit dengan kemenangan atas Mustafa Al Tekreeti dan Ricardo Bravo. Momentum terbesar datang pada ONE Friday Fights 85, November 2024, ketika Jarvis menghadapi veteran Thailand Rungrawee Sitsongpeenong. Ia menghentikan Rungrawee melalui KO ronde ketiga. Penampilan tersebut bukan hanya kemenangan penting, tetapi juga memberinya kontrak US$100.000 dan tempat permanen di roster global ONE Championship.
Setelah mendapatkan kontrak, level lawan yang dihadapinya semakin tinggi. Pada ONE Fight Night 30, April 2025, Jarvis mengalahkan Mouhcine Chafi melalui unanimous decision. Empat kemenangan beruntun kemudian membawanya kepada kesempatan terbesar dalam kariernya: menghadapi Regian “The Immortal” Eersel untuk ONE Lightweight Muay Thai World Championship pada Agustus 2025. Pertandingan tersebut berakhir pahit. Eersel menghentikan Jarvis melalui KO pada ronde pertama, tepatnya pada menit 1:24. Kekalahan itu menjadi pengalaman penting karena untuk pertama kalinya Jarvis harus menghadapi tekanan dan kualitas seorang juara dunia dalam perebutan sabuk ONE.
Namun, kekalahan tersebut tidak membuat perjalanannya berhenti. Pada ONE Fight Night 41, Maret 2026, Jarvis menghadapi Sinsamut Klinmee dalam duel antara dua mantan penantang gelar dunia. Kali ini ia tampil lebih tenang dan terukur. Dari jarak luar, Jarvis mampu membaca serangan Sinsamut, menggunakan jab dan counter left hook, lalu menjaga tekanan sepanjang tiga ronde. Ketiga juri memberikan kemenangan mutlak kepadanya. Hasil tersebut membuat rekornya meningkat menjadi 28-5 sekaligus menghidupkan kembali peluangnya menuju perebutan gelar.
Performa terbaiknya setelah kekalahan dari Eersel datang pada ONE Fight Night 44, Juni 2026, ketika ia kembali menghadapi Rungrawee dalam sebuah rematch. Pertarungan itu sempat berjalan dramatis. Jarvis bahkan harus menerima knockdown pada ronde pertama. Namun ia segera bangkit dan mengambil alih pertarungan pada ronde kedua. Ia menggunakan elbow dan knee dalam jarak dekat sebelum menciptakan ruang dan melepaskan left hook yang menjatuhkan Rungrawee. Wasit menghentikan pertandingan pada menit 1:59 ronde kedua. Kemenangan tersebut membuat rekor profesional Jarvis menjadi 29-5 dan menempatkannya kembali dalam persaingan menuju sabuk lightweight Muay Thai ONE.
Secara gaya, Jarvis merupakan striker yang mengandalkan kombinasi teknik Muay Thai, tekanan, volume serangan, dan conditioning. Ia bertanding di kelas lightweight Muay Thai ONE, 170 pound atau sekitar 77,1 kg, dengan tinggi sekitar 183 cm dan stance orthodox. Salah satu kekuatan utamanya adalah kemampuannya mempertahankan tempo. Jarvis sendiri menekankan bahwa fitness dan work rate merupakan bagian penting dari permainannya. Dalam pertarungan melawan Sinsamut, ia mampu tetap aktif hingga ronde terakhir, sementara dalam duel kedua melawan Rungrawee ia menunjukkan bahwa tekanan tersebut dapat dipadukan dengan serangan jarak dekat, clinch, elbow, knee, serta pukulan kiri yang menjadi salah satu senjata berbahayanya.
Mentalitas Jarvis juga terbentuk dari proses panjang tersebut. Kekalahan dari Eersel menjadi pengingat bahwa pengalaman di level dunia berbeda dengan sekadar memenangkan pertandingan domestik. Alih-alih menghindari tantangan, ia kembali menghadapi lawan-lawan berbahaya dan membangun momentum melalui kemenangan atas Sinsamut dan Rungrawee. Hingga September 2026, catatannya di ONE adalah 6 kemenangan dan 2 kekalahan, sementara rekor profesional keseluruhannya tercatat 29-5.
Kini perjalanan Jarvis memasuki babak baru. Setelah dua kemenangan atas Rungrawee dan keberhasilan bangkit dari kekalahan, ia kembali mendapatkan kesempatan menghadapi Eersel. Rematch perebutan ONE Lightweight Muay Thai World Championship dijadwalkan berlangsung pada 2 Oktober 2026 di Lumpinee Stadium, Bangkok. Bagi Jarvis, pertandingan tersebut bukan sekadar kesempatan kedua merebut sabuk. Ini adalah kesempatan untuk mengukur seberapa jauh dirinya berkembang sejak malam ketika Eersel menghentikannya dalam satu ronde.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda