Jakarta – Penggunaan kata love untuk menggambarkan skor nol merupakan salah satu keunikan paling menonjol dalam olahraga tenis. Saat seorang pemain belum berhasil mencetak satu pun poin dalam suatu game, wasit tidak akan meneriakkan angka nol, melainkan love. Fenomena kebahasaan ini sering kali memicu rasa penasaran bagi penonton awam maupun pecinta tenis veteran. Mengapa kata yang secara umum bermakna cinta atau kasih sayang justru digunakan untuk mewakili kekosongan poin?
Asal-usul penggunaan istilah ini memiliki sejarah panjang yang melibatkan evolusi bahasa, tradisi olahraga Eropa klasik, hingga teori linguistik yang terus diperdebatkan oleh para sejarawan. Untuk memahami alasan di balik penggunaan kata tersebut, perlu dilakukan penelusuran terhadap beberapa teori utama yang menjelaskan bagaimana love bisa masuk ke dalam papan skor tenis dunia.
Teori pertama yang paling populer dan sering beredar di kalangan masyarakat umum adalah teori etimologi rakyat yang menghubungkan tenis dengan bahasa Prancis. Tenis modern berakar dari permainan kuno asal Prancis pada abad pertengahan yang dikenal sebagai jeu de paume (permainan telapak tangan). Dalam teori ini, angka nol dianggap memiliki bentuk lonjong yang sangat mirip dengan telur. Orang-orang Prancis diperkirakan menyebut skor nol tersebut dengan istilah l’œuf, yang berarti “telur”.
Ketika olahraga ini menyeberangi Selat Inggris dan menjadi populer di kalangan bangsawan Inggris pada era Victoria, lidah orang-orang Inggris diduga mengalami kesulitan dalam melafalkan kata l meuf secara tepat. Akibat distorsi pengucapan atau pembaruan fonetik secara bertahap, kata l’œuf yang terdengar mirip dengan luff atau loff akhirnya diserap dan diucapkan sebagai kata love oleh orang-orang Inggris.
Analogi penggunaan nama telur untuk menyebut angka nol memang bukan hal asing dalam dunia olahraga. Dalam bahasa Inggris modern, dikenal istilah goose egg untuk menggambarkan angka nol pada papan skor, sementara dalam olahraga kriket terdapat istilah duck atau duck’s egg ketika seorang pemukul keluar tanpa meraih poin. Kehadiran pola serupa dalam budaya olahraga Barat membuat teori l’œuf terasa sangat masuk akal dan mudah diterima oleh publik luas selama bertahun-tahun.
Namun demikian, banyak pakar etimologi dan sejarawan bahasa modern, termasuk tim penyusun kamus Merriam-Webster serta Oxford English Dictionary, meragukan kebenaran teori l’œuf. Alasan utamanya adalah ketiadaan bukti tertulis dalam dokumen sejarah Prancis yang menunjukkan bahwa kata l’œuf pernah digunakan secara resmi atau informal untuk menyebut skor nol dalam permainan jeu de paume. Orang Prancis sejarahnya selalu menggunakan kata zéro untuk menyatakan nilai nol. Oleh karena itu, teori penyerapan kata l’œuf menjadi love lebih sering dikategorikan sebagai mitos linguistik atau etimologi populer yang tidak memiliki landasan dokumentasi historis yang kuat.
Teori kedua, yang saat ini paling diterima oleh para ahli bahasa dan sejarawan olahraga, berakar dari frasa bahasa Inggris kuno to play for love. Pada abad ke-17 dan ke-18, jauh sebelum tenis lapangan modern dipatenkan oleh Mayor Walter Clopton Wingfield pada tahun 1873, masyarakat Inggris sudah terbiasa menggunakan frasa for love dalam berbagai permainan papan atau kartu.
Secara harfiah, bertanding for love berarti bermain demi kecintaan terhadap permainan itu sendiri, bukan demi uang, taruhan, atau hadiah materi. Ketika seorang pemain tidak mendapatkan poin sama sekali atau bertanding tanpa taruhan finansial, ia dikatakan bermain for love of the game. Dari konsep inilah makna love mengalami pergeseran secara bertahap hingga akhirnya melambangkan “tidak ada apa-apa” atau “nol” dalam konteks skor.
Prinsip bermain demi kecintaan ini juga memiliki keterkaitan erat dengan konsep etika keolahragaan dan istilah amateur, yang diserap dari bahasa Latin amare dengan arti menyukai atau mencintai. Seorang amatir bertanding murni karena gairah dan penghormatan terhadap olahraga. Dalam konteks tenis, menyebut skor nol sebagai love merupakan bentuk penghormatan terselubung bagi pemain yang tertinggal. Meskipun belum mengumpulkan angka, pemain tersebut dianggap tetap bertanding dengan kesadaran penuh demi kecintaan pada permainan.
Selain dua teori utama di atas, terdapat pula teori ketiga yang menghubungkan istilah love dengan bahasa Belanda atau Flemish. Pada masa abad pertengahan, hubungan perdagangan dan budaya antara Inggris dan wilayah Low Countries sangat erat. Dalam bahasa Belanda, terdapat kata lof yang berarti kehormatan, pujian, atau sanjungan.
Berdasarkan teori ini, pemain yang belum meraih poin sama sekali dikatakan bertanding demi lof atau kehormatan diri agar tidak berkecil hati. Pengucapan kata lof yang sangat dekat dengan kata love dalam bahasa Inggris diperkirakan menjadi pintu masuk istilah tersebut ke dalam jargon olahraga di Inggris. Meskipun teori ini tidak sepopuler teori to play for love, keberadaannya melengkapi khazanah perdebatan mengenai asal-usul penamaan skor tenis.
Sistem pembagian skor tenis secara keseluruhan memang terbilang unik dan tidak konvensional jika dibandingkan dengan olahraga modern lainnya. Pergerakan angka dari love menuju 15, 30, lalu 40 kerap membingungkan para penonton baru. Teori yang paling umum menjelaskan bahwa sistem poin ini awalnya diukur menggunakan jam dinding atau instrumen Astronomi, di mana jarum jam digerakkan seperempat putaran (15 menit) setiap kali poin diraih. Angka 45 kemudian disingkat menjadi 40 demi kemudahan komunikasi verbal saat wasit memanggil skor.
Dalam struktur unik tersebut, kata love bertindak sebagai titik mula atau posisi netral sebelum pergerakan angka dimulai. Keberadaan kata love memberikan identitas historis yang sangat kuat pada tenis, membedakannya dari olahraga seperti bola basket atau sepak bola yang menggunakan numerik murni.
Secara keseluruhan, meskipun kisah tentang pengucapan kata l’œuf dari bahasa Prancis terasa sangat menarik dan populer, fakta etimologi sejarah lebih berpihak pada gagasan frasa to play for love. Penggunaan istilah love untuk menggantikan angka nol merupakan warisan tradisi berbahasa masyarakat Inggris yang memandang bahwa olahraga bukan sekadar tentang mengejar angka atau kemenangan materi, melainkan tentang dedikasi dan kegembiraan dalam bermain.
Hingga saat ini, tradisi menyebut skor nol dengan kata love tetap dipertahankan dengan ketat dalam aturan resmi federasi tenis internasional. Istilah ini menjadi jembatan yang menghubungkan tenis modern dengan nilai-nilai filosofis dan sejarah panjang yang melahirkannya ratusan tahun silam.
(EA/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda