Jakarta – Di dunia mixed martial arts (MMA), hanya sedikit petarung yang mampu mengubah peta olahraga di negaranya. Zhang Weili, yang dikenal dengan julukan “Magnum”, merupakan salah satu nama paling berpengaruh dalam perkembangan MMA perempuan China. Lahir di Handan, Provinsi Hebei, pada 13 Agustus 1989, Zhang menapaki perjalanan dari kompetisi bela diri di Asia hingga menjadi perempuan China pertama yang meraih sabuk juara UFC. Kariernya bukan sekadar rangkaian kemenangan, melainkan perjalanan seorang atlet yang terus menyesuaikan diri dengan tuntutan persaingan tingkat dunia.
Menemukan Arah di Dunia Bela Diri
Ketertarikan Zhang terhadap bela diri tumbuh sejak usia dini. Ia mulai berlatih kung fu Shaolin sekitar usia enam tahun, terinspirasi oleh film-film kung fu. Ketika berusia 12 tahun, ia masuk sekolah bela diri khusus di Handan dan mempelajari sanda serta shuai jiao, gulat tradisional China. Prestasinya dalam kejuaraan sanda tingkat Provinsi Hebei membuka peluang untuk masuk tim sanda Provinsi Jiangsu, tetapi cedera punggung berulang memaksanya meninggalkan jalur kompetisi tersebut. Pada usia 17 tahun, Zhang pindah ke Beijing dan menjalani berbagai pekerjaan, termasuk kasir, guru taman kanak-kanak, petugas keamanan, dan staf hotel.
Titik balik muncul ketika ia bekerja di sebuah pusat kebugaran pada 2010. Di tempat itu, Zhang mulai mengenal Brazilian Jiu-Jitsu dan berinteraksi dengan para petarung yang berlatih. Ia kemudian diperkenalkan kepada Wu Haotian, yang membawanya ke Black Tiger Fight Club pada 2012. Pelatih Cai Xuejun melihat potensinya dan membimbingnya menuju MMA. Film Flash Point dan penampilan Ronda Rousey juga disebut sebagai sumber inspirasi yang mendorongnya menekuni olahraga ini secara lebih serius. Dari pengalaman tersebut, Zhang mulai membangun fondasi yang memadukan seni bela diri tradisional China dengan teknik pertarungan modern.
Dari Kompetisi Asia hingga Sabuk Juara UFC
Zhang memulai karier MMA profesional pada 2013. Meskipun mengalami kekalahan dalam debutnya, ia kemudian membangun rentetan kemenangan yang panjang di sirkuit Asia. Pada 2016, ia meraih gelar juara kelas strawweight Kunlun Fight (KLF), kemudian memperoleh gelar kelas flyweight KLF pada 2017 dan sabuk strawweight Top Fighting Championship (TFC) pada tahun yang sama. Pengalaman bertanding di berbagai organisasi menjadi pijakan penting sebelum dirinya masuk UFC pada 2018.
Debut UFC berlangsung pada 4 Agustus 2018 melawan Danielle Taylor, yang dimenangkannya melalui keputusan mutlak. Setahun kemudian, pada UFC Shenzhen, Zhang menghadapi Jessica Andrade dan mencatat kemenangan TKO dalam 42 detik ronde pertama. Hasil tersebut mengantarkannya menjadi petarung China pertama yang memenangkan gelar juara UFC. Ia mempertahankan sabuknya dalam pertarungan lima ronde melawan Joanna Jędrzejczyk di UFC 248 pada Maret 2020, salah satu duel paling dikenang dalam sejarah MMA perempuan. Pertarungan tersebut dimenangkannya melalui keputusan terbelah.
Namun, perjalanan sang juara tidak selalu dipenuhi kemenangan. Pada April 2021, Zhang kehilangan gelar setelah dikalahkan Rose Namajunas melalui tendangan kepala pada ronde pertama. Ia kembali bertemu Namajunas dalam laga rematch pada November tahun yang sama, tetapi kalah melalui keputusan terbelah. Dua kekalahan tersebut menjadi periode penting dalam perkembangan kariernya. Zhang kemudian mengalahkan Joanna Jędrzejczyk melalui KO spinning backfist pada UFC 275, sebelum merebut kembali sabuk strawweight dengan submission rear-naked choke atas Carla Esparza di UFC 281 pada November 2022.
Evolusi Teknik dan Mentalitas Kompetitif
Setelah kembali menjadi juara, Zhang memperlihatkan perkembangan dalam kemampuannya menggabungkan striking dan grappling. Ia mengalahkan Amanda Lemos melalui keputusan mutlak pada UFC 292, Yan Xiaonan di UFC 300, dan Tatiana Suarez di UFC 312. Kemenangan atas Suarez pada Februari 2025 sangat penting karena menghadapkan Zhang pada lawan dengan kemampuan gulat dan grappling yang kuat. Dalam wawancara menjelang pertarungan, Zhang menyampaikan bahwa ia memandang Suarez sebagai tantangan berbeda dan menggunakan persiapan tersebut untuk meningkatkan kemampuannya.
Filosofi bertarung Zhang sering dikaitkan dengan gagasan Bruce Lee tentang kemampuan beradaptasi dan menjadi seperti air. Ia menyatakan tidak ingin membatasi dirinya pada satu gaya bertarung, melainkan menyesuaikan teknik dengan lawan yang dihadapi. Pendekatan tersebut tercermin dalam perpaduan sanda, Muay Thai, gulat, dan Brazilian Jiu-Jitsu yang menjadi bagian dari latihannya. Dalam persiapan kompetisi, ia menjalani latihan striking, grappling, dan pengembangan kondisi fisik, sementara metode latihan spesifik hariannya dapat berbeda sesuai kebutuhan pertandingan.
Panggung Flyweight dan Rekor Profesional
Pada 15 November 2025, Zhang menghadapi Valentina Shevchenko dalam perebutan gelar UFC women’s flyweight di UFC 322. Pertarungan lima ronde tersebut berakhir dengan kemenangan Shevchenko melalui keputusan mutlak. Sebelumnya, Zhang telah mengosongkan gelar strawweight pada 29 Agustus 2025 untuk mengejar kesempatan bertanding di kelas flyweight. Perpindahan kelas ini menandai fase baru dalam kariernya, dengan tantangan ukuran tubuh, kekuatan lawan, dan persaingan di divisi yang berbeda.
Berdasarkan catatan yang tersedia hingga pertarungan UFC 322, Zhang Weili memiliki rekor profesional MMA 26 kemenangan dan 4 kekalahan (26–4–0). Dari kemenangan tersebut, 11 diraih melalui KO/TKO, delapan melalui submission, dan tujuh melalui keputusan. Ia bertanding terutama di kelas strawweight dengan berat 115 pon dan memiliki jangkauan sekitar 63 inci. Dengan dua periode sebagai juara UFC women’s strawweight, Zhang meninggalkan jejak penting dalam sejarah MMA China sekaligus memperlihatkan bagaimana seorang petarung dapat berkembang melalui perpaduan disiplin, adaptasi teknik, dan pengalaman menghadapi kekalahan.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda