Amanda Nunes: Sang Singa yang Menguasai Dua Takhta UFC

Piter Rudai • 17/10/2026 • 4 min read
Amanda Nunes: Sang Singa yang Menguasai Dua Takhta UFC

Jakarta – Amanda Nunes bukan sekadar mantan juara dunia mixed martial arts (MMA). Petarung asal Brasil berjuluk The Lioness ini membangun reputasi sebagai salah satu perempuan paling dominan dalam sejarah UFC melalui kekuatan pukulan, kemampuan grappling, dan keberanian menghadapi lawan terbaik di generasinya. Ia mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang memegang sabuk juara UFC di dua divisi sekaligus, yakni kelas bantam dan kelas bulu. Setelah mengakhiri kariernya pada 2023, Nunes masuk UFC Hall of Fame pada 2025, sebuah pengakuan atas perjalanan panjang yang mengubah wajah MMA perempuan.

Lahir pada 30 Mei 1988 di Pojuca, Bahia, Brasil, Nunes tumbuh dengan ketertarikan pada olahraga bela diri sejak kecil. Pada usia tujuh tahun, ia mulai berlatih karate setelah ibunya ingin menyalurkan energi besarnya ke kegiatan yang lebih terarah. Ia kemudian mempelajari tinju, capoeira, judo, dan Brazilian jiu-jitsu. Kombinasi latihan tersebut membentuk fondasi yang kelak membuatnya berbahaya dalam berbagai situasi pertarungan. Ketika mulai menekuni MMA, Nunes tidak hanya mengandalkan satu keahlian, tetapi mengembangkan kemampuan untuk menyerang dengan keras sekaligus mengendalikan lawan di matras. Julukan The Lioness berasal dari logo singa di sasana pertamanya dan gaya bertarungnya yang agresif.

Nunes menjalani debut profesional MMA pada 8 Maret 2008. Pertandingan pertamanya berakhir dengan kekalahan melalui armbar pada ronde pertama, tetapi ia tidak membiarkan hasil tersebut menghentikan ambisinya. Ia bangkit dan memenangkan enam pertandingan berikutnya, termasuk kemenangan knockout hanya dalam 14 detik atas Julia Budd pada 2011. Performa tersebut membuka jalan menuju panggung yang lebih besar, termasuk Strikeforce, sebelum ia bergabung dengan UFC pada 2013. Debutnya di UFC berlangsung di Brasil pada Agustus tahun itu, ketika ia mengalahkan Sheila Gaff melalui technical knockout pada ronde pertama. Meski kemudian kalah dari Cat Zingano pada 2014, pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting mengenai pengelolaan stamina dan konsistensi sepanjang pertandingan.

Perubahan besar dalam kariernya terjadi pada 2015, ketika Nunes mulai membangun rentetan kemenangan yang mengantarkannya ke perebutan gelar. Pada UFC 200, Juli 2016, ia mengalahkan Miesha Tate melalui submission pada ronde pertama untuk merebut sabuk kelas bantam perempuan. Kemenangan itu menjadi awal periode dominasi yang luar biasa. Ia kemudian mempertahankan gelarnya dengan mengalahkan Ronda Rousey melalui knockout hanya dalam 48 detik pada Desember 2016. Pada September 2017, ia kembali mempertahankan sabuk dengan kemenangan angka atas Valentina Shevchenko dalam duel yang berlangsung ketat. Setiap pertandingan memperlihatkan bahwa Nunes tidak hanya memiliki kekuatan, tetapi juga kecermatan membaca gerakan lawan dan memanfaatkan celah sekecil apa pun.

Pada Desember 2018, Nunes menciptakan salah satu momen paling bersejarah dalam MMA perempuan. Ia menghadapi Cris Cyborg, juara kelas bulu yang saat itu belum terkalahkan selama bertahun-tahun, dan menang melalui knockout pada ronde pertama hanya dalam 51 detik. Hasil tersebut membuatnya menjadi juara dua divisi sekaligus, memegang sabuk kelas bantam 135 pon dan kelas bulu 145 pon. Ia kemudian mempertahankan gelar kelas bantam melawan Holly Holm pada 2019 melalui knockout ronde pertama, serta mengalahkan Germaine de Randamie melalui keputusan mutlak. Pada 2020, ia mempertahankan sabuk kelas bulu dengan mengalahkan Felicia Spencer, sebelum menundukkan Megan Anderson melalui submission pada ronde pertama pada 2021. Rentetan kemenangan itu menegaskan kemampuannya menghadapi berbagai tipe lawan, mulai dari striker berbahaya hingga spesialis grappling.

Namun, perjalanan panjang Nunes tidak sepenuhnya berjalan tanpa hambatan. Pada UFC 269, Desember 2021, ia mengalami kekalahan mengejutkan dari Julianna Peña melalui rear-naked choke pada ronde kedua. Kekalahan tersebut mengakhiri rentetan 12 kemenangan beruntunnya dan mengguncang reputasinya sebagai petarung yang nyaris tidak tersentuh. Alih-alih menghindari tantangan, Nunes kembali untuk pertandingan ulang di UFC 277 pada Juli 2022. Kali ini, ia tampil lebih disiplin, mengendalikan jarak, dan memanfaatkan kombinasi pukulan serta takedown untuk menang melalui keputusan mutlak sekaligus merebut kembali sabuk kelas bantam. Pada UFC 289, Juni 2023, ia mengalahkan Irene Aldana dengan keputusan mutlak dalam pertahanan gelar terakhirnya. Setelah pertandingan itu, Nunes mengumumkan pensiun dan meletakkan kedua sabuk juaranya di atas matras.

Kekuatan utama Nunes terletak pada gaya bertarung yang seimbang dan sulit diprediksi. Sebagai striker, ia memiliki pukulan kanan yang keras, kombinasi tinju yang cepat, serta kemampuan menyerang dengan agresif sejak awal. Akan tetapi, ia juga menguasai judo dan Brazilian jiu-jitsu, sehingga lawan tidak bisa hanya berfokus pada pertukaran pukulan. Jika pertarungan berlanjut ke lantai, ia mampu mengendalikan posisi, melakukan ground-and-pound, atau mencari kuncian. Pendekatan tersebut menunjukkan filosofi bertarungnya: memanfaatkan seluruh kemampuan yang tersedia untuk mengendalikan ritme pertandingan, bukan sekadar mengandalkan kekuatan mentah. Dalam persiapannya, ia menggabungkan latihan striking, gulat, grappling, pengondisian fisik, serta latihan taktik bersama timnya. Pengalaman bertanding di level tertinggi juga membantunya menyesuaikan strategi berdasarkan karakteristik lawan.

Di luar oktagon, Nunes menjalani kehidupan bersama istrinya, Nina Nunes, mantan petarung UFC, dan kedua anak mereka. Keputusan pensiun pada 2023 memberinya kesempatan untuk memprioritaskan keluarga setelah bertahun-tahun menjalani rutinitas latihan dan tekanan kompetisi. Namun, kisahnya ternyata belum benar-benar berakhir. Pada 2025, Nunes mengisyaratkan keinginan kembali bertanding, dan UFC kemudian menjadwalkannya menghadapi Kayla Harrison di UFC 324 pada Januari 2026. Pertarungan tersebut batal setelah Harrison mengalami cedera leher dan menjalani operasi. Per Oktober 2026, duel itu dijadwalkan ulang untuk UFC 334 pada 14 November 2026, dengan Harrison mempertaruhkan gelar kelas bantamnya. Pertandingan tersebut masih akan berlangsung, sehingga hasilnya belum dapat diperhitungkan dalam rekor Nunes.

Dengan rekor profesional 23 kemenangan dan lima kekalahan, termasuk 13 kemenangan knockout dan empat kemenangan submission, Amanda Nunes meninggalkan warisan yang sulit ditandingi. Ia memenangkan 11 pertandingan perebutan gelar UFC, mencatat 12 kemenangan beruntun, dan menjadi perempuan pertama yang memegang dua sabuk UFC secara bersamaan. Lebih dari sekadar statistik, warisannya terletak pada kemampuannya beradaptasi, bangkit dari kekalahan, dan tetap menghadapi lawan-lawan terbaik. Jika pertarungan melawan Harrison benar-benar terlaksana, Nunes berpeluang membuka babak baru dalam kariernya. Apa pun hasilnya, namanya telah menjadi bagian penting dari sejarah MMA perempuan.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...