Jakarta – Dalam dunia olahraga tarung, tidak semua atlet memulai perjalanan dari sasana bela diri atau rangkaian kejuaraan amatir. Reiley Montoya, petarung asal Amerika Serikat yang dikenal dengan julukan “Slap Shady”, justru menemukan jalannya melalui slap fighting, olahraga adu tampar profesional yang menuntut kekuatan, ketahanan, dan keberanian menghadapi serangan secara langsung. Berkompetisi di Power Slap, Montoya membangun reputasi melalui kepribadiannya yang jenaka, sikapnya yang spontan, serta ambisi untuk menjadi atlet yang mudah diingat. Perjalanannya menarik bukan hanya karena hasil pertandingan, tetapi juga karena keterbukaannya mengenai pencarian jati diri dan keinginannya untuk mengejar sesuatu yang lebih besar dalam hidup.
Montoya berasal dari Simi Valley, California, Amerika Serikat. Profil resmi Power Slap mencatat tinggi badannya sekitar 175 sentimeter, berat 155 pon atau sekitar 70 kilogram, dan tempatnya di divisi lightweight. Informasi mengenai keluarga, pendidikan, serta masa kecilnya belum banyak dipublikasikan secara terbuka. Namun, gambaran kehidupan profesionalnya menunjukkan bahwa ia bukan atlet yang sepenuhnya bergantung pada olahraga sebagai sumber penghidupan. Ia pernah menjalani berbagai pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan, berdasarkan profil resminya, bekerja sebagai yard jockey di FedEx, dengan tugas yang berkaitan dengan pemindahan dan pengaturan kendaraan atau trailer di area operasional. Latar belakang tersebut memperlihatkan bahwa kariernya di arena berkembang berdampingan dengan kehidupan kerja sehari-hari.
Ketertarikannya pada slap fighting juga memiliki cerita tersendiri. Montoya mengungkapkan bahwa ia mulai berlatih pada tahun sebelum diwawancarai setelah diterima untuk mengikuti musim ketiga program Power Slap: Road to the Title. Alasannya disampaikan dengan gaya bercanda dan blak-blakan: ia menyukai perhatian, tidak keberatan mengalami rasa sakit, dan tertarik pada kesempatan tampil di depan kamera sekaligus memperoleh bayaran. Pernyataan tersebut menggambarkan kepribadiannya yang tidak berusaha membangun citra petarung konvensional. Montoya bahkan mengakui bahwa ia masih mencari pemahaman tentang dirinya sendiri, tetapi selalu tertarik mengejar sesuatu yang lebih besar daripada dirinya. Baginya, Power Slap menjadi kesempatan untuk menemukan arah sekaligus menguji seberapa jauh ia dapat berkembang.
Perjalanan kompetitifnya mulai terlihat melalui musim ketiga Power Slap: Road to the Title pada 2024. Dalam pertandingan melawan Isaac Guenther, Montoya harus menerima kekalahan melalui keputusan bulat juri. Hasil itu menjadi pelajaran awal dalam kompetisi yang sangat berbeda dari tinju atau MMA. Ia kemudian menghadapi Dakota McGregor dalam turnamen lightweight. Pada ronde pertama, Montoya berhasil mendaratkan tamparan keras yang membuat McGregor tampak sangat terpengaruh. Akan tetapi, McGregor membalas dengan serangan efektif pada ronde kedua dan menang melalui knockout. Pertandingan tersebut memperlihatkan bahwa Montoya memiliki potensi menghasilkan serangan kuat, tetapi potensi itu belum cukup untuk menjamin kemenangan ketika berhadapan dengan lawan yang mampu membalas secara efektif.
Kesempatan berikutnya datang pada Power Slap 12, yang berlangsung pada Maret 2025. Kali ini, Montoya berhadapan dengan Anthony DeFrank di kelas lightweight. Ia berhasil membalikkan keadaan dalam perjalanan kariernya dengan kemenangan knockout pada ronde pertama. Hasil tersebut menjadi kemenangan profesional pertamanya yang tercatat dalam profil resmi Power Slap, sekaligus menunjukkan bahwa ia mampu menyelesaikan pertandingan dengan cepat. Meskipun belum memiliki rangkaian kemenangan panjang, keberhasilan tersebut memberinya modal penting untuk mempertahankan tempat dalam persaingan divisinya. Power Slap kemudian mencatat rekor Montoya sebagai satu kemenangan dan dua kekalahan, dengan satu kemenangan melalui knockout.
Dari segi gaya bertarung, Montoya tidak dapat dinilai menggunakan ukuran yang sama seperti atlet MMA. Dalam slap fighting, peserta bergantian memberikan tamparan dengan tangan terbuka berdasarkan peraturan pertandingan. Tidak terdapat kombinasi tendangan, takedown, atau kuncian seperti dalam seni bela diri campuran. Karena itu, kekuatan serangan, ketepatan, keseimbangan tubuh, serta kesiapan menghadapi tamparan lawan menjadi unsur penting. Penampilan Montoya melawan McGregor dan DeFrank menunjukkan bahwa ia dapat menghasilkan serangan yang berbahaya. Namun, kekalahannya juga memperlihatkan tantangan olahraga ini: seorang petarung harus tetap terkendali dan siap menghadapi balasan setelah dirinya sendiri menerima serangan. Detail program latihan harian, pelatih pribadi, maupun metode pengembangan kekuatan Montoya belum dijelaskan secara lengkap dalam sumber resmi yang tersedia, sehingga tidak tepat mengaitkan keberhasilannya dengan metode tertentu tanpa bukti.
Mentalitas Montoya tercermin dalam prinsip pribadi yang ia sampaikan melalui profil Power Slap: menerima hal-hal yang tidak dapat diubah dan terus melangkah. Ia juga mengatakan bahwa tujuan bertarungnya adalah menang dengan gaya yang khas, menjadi sosok yang mudah diingat, dan tetap menghibur. Kepribadian tersebut melengkapi julukan “Slap Shady”, yang mengisyaratkan pendekatan penuh humor sekaligus provokatif terhadap dunia kompetisi. Profilnya turut memuat kisah ketika ia pernah melompat dari Ventura Pier dalam keadaan tangan terborgol untuk menghadapi ketakutannya terhadap laut lepas. Ia terseret arus, terbentur struktur dermaga, mengalami hipotermia, dan membutuhkan 12 jahitan untuk memperbaiki area tato di lengan kirinya. Peristiwa itu bukan prestasi olahraga, tetapi menunjukkan kecenderungannya mengambil risiko ekstrem—sesuatu yang perlu dibedakan dari keberanian yang terukur dalam kompetisi.
Menjelang 23 Oktober 2026, Power Slap menempatkan Montoya di peringkat ketiga divisi lightweight dan menjadwalkannya menghadapi Dakota McGregor dalam laga pendamping utama (co-main event) Power Slap 25 di Abu Dhabi. Pertandingan tersebut belum berlangsung pada saat artikel ini ditulis, sehingga hasilnya tidak boleh dianggap sebagai bagian dari rekornya. Jika ia mampu mengatasi McGregor dalam pertemuan ulang tersebut, peluangnya untuk memperkuat posisi sebagai calon penantang gelar akan semakin terbuka. Untuk saat ini, perjalanan Montoya masih berada dalam tahap pembuktian. Ia belum memiliki rekor kemenangan dominan ataupun gelar juara, tetapi perpaduan antara kekuatan serangan, karakter yang menonjol, dan ambisi pribadi menjadikannya salah satu nama yang patut diperhatikan dalam persaingan lightweight Power Slap.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda