Jakarta – Brian Ortega bukan petarung yang membangun reputasinya hanya melalui pukulan keras. Di dalam oktagon, petarung berjuluk “T-City” ini dikenal karena kemampuan jiu-jitsu, ketenangan saat menghadapi tekanan, dan kecakapannya membalikkan keadaan melalui submission. Perjalanannya di Ultimate Fighting Championship (UFC) memperlihatkan kisah seorang petarung yang tumbuh dari lingkungan keras di California hingga menjadi penantang gelar juara dunia kelas bulu.
Brian Martin Ortega lahir pada 21 Februari 1991 di San Pedro, California, Amerika Serikat, dan memiliki latar belakang keluarga Meksiko-Amerika. Ia tumbuh di kawasan Los Angeles yang tidak selalu mudah bagi anak muda. Menurut profil resminya di UFC, Ortega mulai berkelahi sejak usia lima tahun karena tinggal di lingkungan yang keras. Ketertarikannya pada olahraga bela diri kemudian berkembang menjadi latihan yang lebih terarah. Ia mempelajari kickboxing sejak kecil, mulai mendalami Brazilian jiu-jitsu pada usia 13 tahun, dan mengenal mixed martial arts (MMA) ketika berusia sekitar 15 tahun. Perjalanan tersebut membentuk fondasi teknik sekaligus mentalitas kompetitif yang kelak menjadi ciri khasnya.
Dari Pertarungan Profesional Menuju UFC
Ortega memulai karier profesional MMA pada 2010. Ia menjalani sejumlah pertandingan di ajang regional sebelum namanya semakin diperhitungkan melalui organisasi Resurrection Fighting Alliance (RFA). Pada Januari 2014, ia merebut gelar kelas bulu RFA setelah mengalahkan Keoni Koch melalui keputusan terbelah dalam pertarungan lima ronde. Kemenangan itu menjadi bukti bahwa Ortega tidak hanya mengandalkan kemampuan mengakhiri pertarungan dengan cepat, tetapi juga mampu bertahan dalam duel panjang yang menuntut stamina dan konsentrasi.
Kesempatan tampil di UFC akhirnya datang pada 26 Juli 2014, menghadapi Mike De La Torre. Ortega sempat dinyatakan menang melalui submission, tetapi hasil tersebut kemudian diubah menjadi no contest setelah ia gagal dalam tes obat pascapertandingan. Peristiwa ini menjadi catatan penting pada awal kariernya. Ia kemudian kembali bertanding dan meraih kemenangan atas Thiago Tavares pada 2015 melalui penghentian akibat pukulan. Sejak itu, Ortega mulai membangun reputasi sebagai petarung yang berbahaya, terutama ketika pertarungan memasuki fase grappling.
Perkembangan kariernya semakin terlihat pada 2016 ketika ia mengalahkan Diego Brandao melalui triangle choke dan menundukkan Clay Guida lewat serangan lutut. Pada 2017, ia mencatat kemenangan submission atas Renato Moicano dan Cub Swanson, dua lawan yang memiliki reputasi kuat di kelas bulu. Rentetan hasil tersebut membawanya menuju jajaran elite UFC. Puncak momentum awalnya terjadi pada Maret 2018, ketika Ortega mengalahkan mantan juara kelas ringan Frankie Edgar melalui knockout pada ronde pertama. Kemenangan itu sangat berarti karena Edgar sebelumnya belum pernah kalah melalui penghentian dalam karier profesionalnya.
Perburuan Gelar dan Ujian Terberat
Kemenangan atas Edgar mengantarkan Ortega ke kesempatan merebut gelar juara kelas bulu UFC dari Max Holloway pada Desember 2018. Namun, pertandingan tersebut menjadi titik balik yang menyakitkan. Holloway mendominasi pertukaran serangan hingga dokter menghentikan pertandingan pada akhir ronde keempat. Kekalahan itu mengakhiri rekor tak terkalahkan Ortega di MMA profesional, tetapi sekaligus memberinya pelajaran mengenai batas kemampuan dan pentingnya perkembangan teknik secara menyeluruh.
Setelah kekalahan tersebut, Ortega melakukan perubahan dalam tim latihannya. Ia berusaha memperbaiki pendekatan bertarung dan mengembangkan kemampuan di luar jiu-jitsu. Hasilnya terlihat ketika ia mengalahkan Chan Sung Jung, yang dikenal sebagai The Korean Zombie, melalui keputusan mutlak pada Oktober 2020. Pertarungan lima ronde itu menunjukkan peningkatan kemampuan striking, pengaturan jarak, dan pengambilan keputusan Ortega.
Pada September 2021, ia kembali memperoleh kesempatan menantang gelar, kali ini melawan Alexander Volkanovski. Meski kalah melalui keputusan mutlak, Ortega sempat mengancam dengan sejumlah percobaan submission yang berbahaya. Pertandingan tersebut memperlihatkan ketangguhannya sekaligus kualitas pertahanan Volkanovski. Pada Juli 2022, pertemuannya dengan Yair Rodriguez berakhir dengan kekalahan akibat cedera bahu pada ronde pertama. Namun, Ortega membalas kekalahan itu pada Februari 2024 dengan kemenangan submission melalui arm-triangle choke pada ronde ketiga.
Perjalanan berikutnya tidak berjalan mulus. Ortega kalah melalui keputusan mutlak dari Diego Lopes pada September 2024, kemudian kembali menelan kekalahan dari Aljamain Sterling pada Agustus 2025. Menjelang pertarungan melawan Sterling, ia juga mengalami masalah serius ketika menurunkan berat badan hingga harus mendapatkan penanganan medis. Pengalaman tersebut mendorongnya mempertimbangkan perpindahan ke kelas ringan, 155 pon, untuk mengurangi tekanan pemotongan berat badan.
Gaya Bertarung, Latihan, dan Mentalitas
Julukan “T-City” merujuk pada keahliannya menggunakan triangle choke, teknik kuncian yang menjadi salah satu senjata andalannya. Berbekal sabuk hitam Gracie jiu-jitsu, Ortega mampu menciptakan ancaman submission dari berbagai posisi, termasuk ketika berada dalam situasi bertahan. Ia juga memiliki kemampuan bertahan dalam pertukaran pukulan dan memanfaatkan momentum lawan untuk membuka peluang serangan balik.
Rutinitas latihannya menggabungkan jiu-jitsu pada pagi hari dengan latihan tinju dan pengondisian fisik pada malam hari, sebagaimana dijelaskan dalam profil UFC. Pendekatan tersebut mencerminkan upayanya membangun kemampuan menyeluruh, bukan sekadar mengandalkan keunggulan di lantai. Mentalitasnya terlihat dari kemampuannya tetap mencari peluang ketika berada di bawah tekanan, meskipun kekalahan dan cedera menjadi bagian dari perjalanan kariernya.
Rekor dan Warisan Karier
Hingga Oktober 2026, catatan profesional Ortega tercatat 16 kemenangan, 5 kekalahan, dan 1 no contest. Dari 16 kemenangannya, delapan diraih melalui submission, tiga melalui knockout atau technical knockout, dan lima melalui keputusan juri. Ia bertanding di kelas bulu UFC selama sebagian besar kariernya, sebelum mulai mengarahkan perhatian ke kelas ringan.
Brian Ortega mungkin belum berhasil merebut sabuk juara UFC, tetapi perjalanannya tetap menjadi bagian penting dari persaingan kelas bulu modern. Ia dikenal sebagai petarung dengan kemampuan submission berbahaya, daya juang tinggi, dan keberanian menghadapi lawan elite. Kisah “T-City” memperlihatkan bahwa karier seorang petarung tidak hanya ditentukan oleh gelar, melainkan juga oleh kemampuannya belajar dari kekalahan, beradaptasi, dan terus mencari jalan untuk kembali bersaing di level tertinggi.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda