Fabricio “Hokage” Andrey: Dari Manaus Ke ONE Championship,

Piter Rudai 10/02/2026 5 min read
Fabricio “Hokage” Andrey: Dari Manaus Ke ONE Championship,

Jakarta – Ada dua jenis grappler yang biasanya membuat lawan gelisah. Yang pertama: spesialis kontrol atas—menindih, memaku pinggul, pelan tapi mencekik. Yang kedua: spesialis guard yang tidak pernah diam—seolah-olah “posisi bawah” hanyalah panggung untuk membuat badai. Fabricio “Hokage” Andrey masuk kategori kedua. Ia bukan sekadar nyaman bertahan di bawah; ia menyerang dari bawah dengan cara yang agresif, eksplosif, dan sering terasa kreatif seperti improvisasi—padahal sebenarnya itu hasil ribuan jam latihan dan rasa percaya diri yang dibentuk sejak remaja di Manaus, Brasil.

Di ONE Championship, Andrey tampil di divisi submission grappling—khususnya kelas featherweight—membawa gaya permainan bawah yang hidup, memanfaatkan kelincahan dan transisi cepat untuk memaksa lawan terus bereaksi. ONE sendiri memperkenalkannya sebagai juara dunia BJJ dengan gaya yang “electrifying”, menegaskan bahwa ini bukan rekrutan “pelengkap”, melainkan pemantik untuk membuat laga grappling terlihat atraktif dan mudah dinikmati penonton umum.

Manaus, kota panas yang melahirkan petarung-petarung matras

Manaus sering disebut sebagai salah satu “hotbed” Brazilian Jiu-Jitsu. Bagi banyak atlet Brasil, tempat seperti ini bukan sekadar lokasi—ini ekosistem. Kompetisi internal keras, budaya latihan ketat, dan tradisi menguji diri di turnamen sejak usia muda.

Dalam profil resminya, ONE menyebut Andrey lahir dan besar di Manaus, menemukan jiu-jitsu pada usia 13 tahun, lalu “tidak pernah menoleh ke belakang” sejak hari itu. Ia disebut sudah berlatih bersama atlet elit hampir sejak awal karena bakatnya cepat menonjol.

Ada hal menarik dari frase “tidak pernah menoleh ke belakang.” Banyak anak usia 13 tahun datang ke matras untuk sekadar coba-coba. Andrey, dari narasi yang berkembang, seolah datang dengan rasa lapar: ia bukan hanya ingin bisa, tapi ingin jadi yang terbaik—dan ingin cepat.

Kilat di sabuk berwarna

Di BJJ, jalur sabuk berwarna sering dianggap “masa sekolah”—fase membangun fondasi, menata disiplin, dan menemukan gaya. Tapi pada Andrey, fase itu justru menjadi panggung prestasi.

ONE mencatat bahwa Andrey meraih gelar juara dunia BJJ pada level sabuk biru dan ungu, serta menjadi juara Eropa pada level sabuk cokelat. Kalimat ini penting karena menggambarkan dua hal: konsistensi dan akselerasi. Ia bukan hanya menang sekali; ia menang berulang saat level kompetisi makin tinggi.

Di balik gelar, ada efek psikologis yang besar: ketika seorang atlet terbiasa menang sejak sabuk berwarna, ia tumbuh dengan keyakinan bahwa gaya miliknya “bekerja” melawan berbagai tipe lawan—pressure passer, guard player lain, atlet eksplosif, atau teknisi sabar. Dan dari situ, ia biasanya berkembang menjadi petarung yang tidak takut mengambil risiko, karena ia punya memori kemenangan sebagai bahan bakar.

“Hokage”: ketika gaya bertarung jadi persona

Julukan “Hokage” bukan sekadar label lucu. Ia membangun persona yang mudah diingat, sering dikaitkan dengan referensi anime, tapi di matras ia menghidupkannya lewat cara bertarung: cepat, licin, penuh jebakan, dan berani “mengacak-acak” struktur lawan.

Yang membuatnya khas adalah fokus pada permainan bawah yang eksplosif dan teknis. Banyak grappler punya guard bagus, namun tidak semua guard itu ofensif. Guard Andrey bukan tempat menunggu poin; itu ruang untuk memancing reaksi lawan, lalu memutar arah permainan dengan transisi yang terasa spontan: ancaman satu memancing tangan lawan bergerak, lalu celah muncul untuk ancaman berikutnya.

Panggung besar untuk grappler “all-action”

ONE Championship secara resmi mengumumkan Andrey sebagai rekrutan submission grappling mereka dan menempatkannya ke divisi yang “talent-laden”. Dari sini, arah kariernya berubah: bukan lagi sekadar berburu medali turnamen, tetapi membangun narasi sebagai entertainer teknik—mengubah grappling menjadi tontonan yang tegang, cepat, dan mudah diikuti.

Profil atlet ONE menekankan bahwa ia telah menjadi “mainstay” di level elite sejak mendapat sabuk hitam pada 2020—sebuah penanda bahwa ia matang di level tertinggi sebelum masuk ke panggung global ONE.

Yang menarik, ONE juga mulai menempatkannya dalam laga-laga yang menyimpan cerita personal—bukan hanya “matchmaking nama besar”, tetapi duel yang punya bumbu rivalitas, pembalasan, dan pembuktian.

Dua kemenangan keputusan, tapi pesan yang jelas di 2025

Dalam salah satu artikel resmi ONE, disebutkan bahwa Andrey tampil 2–0 di ONE sepanjang 2025, dengan kemenangan keputusan mutlak atas Ashley Williams dan Eduardo Granzotto. Ini poin penting karena banyak orang mengira petarung seatraktif Andrey harus menang submission cepat untuk “terlihat dominan”. Faktanya, ia menunjukkan bahwa ia bisa menang lewat kontrol dan efektivitas sepanjang durasi pertandingan—tanpa kehilangan gaya atraktifnya.

Kemenangan keputusan sering dianggap “kurang spektakuler” bagi penonton baru. Tapi untuk grappler, keputusan mutlak justru menunjukkan dominasi yang rapi: menang posisi, menang ancaman, menang kontrol tempo. Dan untuk Andrey, ini adalah bukti bahwa permainan bawahnya bukan “trik highlight”, melainkan sistem yang bisa mengalahkan lawan elit ketika submission tidak tersedia.

Laga penting vs Eduardo Granzotto: pembalasan, ego, dan kualitas jiu-jitsu level tinggi

Salah satu bab paling menarik dalam kisahnya di ONE adalah rematch melawan Eduardo “Dudu” Granzotto di ONE Fight Night 36. Laporan-laporan menyebut kemenangan ini terasa sebagai “avenging loss” karena ada latar kekalahan sebelumnya di panggung IBJJF Worlds pada tahun yang sama—membuat pertarungan tersebut bukan sekadar laga ONE biasa, tapi juga semacam pembuktian harga diri.

Di matras, duel seperti ini biasanya berlapis:

    • Satu pihak ingin membuktikan kemenangan sebelumnya bukan kebetulan.
    • Pihak lain ingin menunjukkan bahwa ia sudah membaca pola dan punya jawaban baru.

Hasil akhirnya: Andrey menang keputusan, dan kemenangan itu dipotret sebagai pertunjukan jiu-jitsu yang “thrilling” dan keras, sebuah duel yang memperlihatkan bahwa ia bisa bertahan di perang teknik tingkat tinggi—bukan hanya menang lewat ledakan cepat.

Ketika ONE membangun duel “Brasil vs Brasil” untuk puncak reputasi

ONE kemudian memasangkannya dengan Joao “Bisnaga” Mendes dalam duel featherweight submission grappling di ONE Fight Night 40. Artikel ONE menggambarkan Mendes datang dengan pedigree besar, termasuk status juara dunia IBJJF black belt featherweight 2025, sehingga laga ini terasa seperti “uji kredibilitas” untuk Andrey—bukan hanya sebagai entertainer, tetapi sebagai kandidat elite yang benar-benar layak diperhitungkan di puncak.

Guard yang membuat lawan kehilangan rasa aman

Mengapa gaya “permainan bawah” Andrey begitu memikat?

    • Ia membuat posisi atas tidak nyaman.
      Dalam grappling, banyak atlet merasa aman ketika berada di atas. Andrey membalik logika itu—posisi atas justru sering menjadi tempat lawan “dipancing” masuk ke jebakan.
    • Ia hidup dari transisi.
      Guard-nya bukan satu teknik, melainkan rangkaian: ancam—pindah sudut—ancam lagi—buat lawan bereaksi—ambil ruang berikutnya. Karena itulah ia terlihat kreatif.
    • Ia agresif tanpa terlihat ceroboh.
      Agresif di grappling bisa berarti membuka celah. Namun Andrey sering menyerang sambil menjaga rute keluar—seolah ia sudah menyiapkan pintu darurat setiap kali lawan mencoba membalikkan posisi.
    • Ia mengerti “nilai tontonan”.
      ONE merekrut grappler yang tidak hanya kuat, tapi juga bisa membuat pertandingan menarik. Andrey termasuk tipe yang sejak awal dicitrakan sebagai “all-action”.

“Hokage” sebagai simbol era grappling yang lebih atraktif

Fabricio “Hokage” Andrey adalah contoh bagaimana submission grappling bisa punya daya tarik luas jika dibawakan oleh atlet yang tepat. Ia datang dari Manaus, menemukan BJJ di usia 13, menumpuk prestasi besar di sabuk berwarna, lalu membawa gaya guard eksplosifnya ke ONE Championship—bukan untuk sekadar ikut daftar nama, tetapi untuk memimpin gelombang grappling yang lebih cepat, lebih hidup, dan lebih mudah dinikmati.

Dan mungkin itulah inti julukan “Hokage” di panggung ONE: bukan hanya pemimpin dalam cerita—tetapi pemimpin gaya. Ia memaksa semua orang, termasuk lawannya, untuk bermain di tempo yang ia tentukan.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...