Menelusuri Sejarah Dan Filosofi FIFA Puskas Award

Eva Amelia 18/02/2026 4 min read
Menelusuri Sejarah Dan Filosofi FIFA Puskas Award

Jakarta – Dalam dunia sepak bola, gol adalah puncak dari segala emosi. Namun, ada gol-gol tertentu yang melampaui sekadar angka di papan skor; gol yang tercipta melalui kombinasi mustahil antara teknik, intuisi, dan keberanian yang membuat jutaan pasang mata terbelalak. Untuk mengabadikan momen-momen “ajaib” tersebut, FIFA menghadirkan Puskas Award, sebuah penghargaan tahunan yang menjadi standar tertinggi bagi estetika sebuah gol.

Penghormatan bagi Sang “Major” dari Hungaria

FIFA Puskas Award pertama kali diperkenalkan pada 20 Oktober 2009. Gagasan ini lahir dari keinginan mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, untuk menciptakan penghargaan yang tidak memandang popularitas pemain, melainkan murni pada keindahan momen itu sendiri. Nama penghargaan ini diambil dari legenda besar asal Hungaria, Ferenc Puskás.

Pilihan nama ini bukanlah tanpa alasan. Ferenc Puskás, yang berjaya pada era 1950-an hingga 1960-an bersama tim nasional Hungaria (Magical Magyars) dan Real Madrid, adalah definisi dari seorang pencetak gol ulung. Ia dikenal memiliki kaki kiri yang mampu melepaskan tembakan presisi dari jarak mana pun. Catatan golnya luar biasa; ia mencetak 84 gol dalam 85 pertandingan internasional dan menjadi bagian vital dari skuat Real Madrid yang mendominasi Eropa. Dengan menamakan trofi ini “Puskas”, FIFA ingin semangat kreativitas dan ketajaman sang legenda terus hidup dalam setiap generasi pemain modern.

Kriteria: Mencari Kesempurnaan Visual

Puskas Award memiliki karakteristik yang unik dibandingkan penghargaan sepak bola lainnya seperti Ballon d’Or atau FIFA Best Player. Penghargaan ini sangat demokratis dan inklusif. Di sini, seorang pemain amatir dari liga kasta bawah memiliki peluang yang sama untuk berdiri di podium yang sama dengan megabintang kelas dunia.

Namun, untuk bisa masuk dalam nominasi, sebuah gol harus memenuhi kriteria ketat yang ditetapkan oleh FIFA:

  1. Estetika Tingkat Tinggi: Gol tersebut harus memiliki nilai seni, baik itu melalui tendangan salto (bicycle kick), tendangan jarak jauh yang akurat, aksi individu melewati banyak pemain, hingga teknik sulit seperti rabona atau voli.

  2. Kepentingan Pertandingan: Meskipun gol di liga amatir bisa masuk nominasi, FIFA memberikan bobot lebih pada gol yang dicetak dalam pertandingan resmi yang kompetitif.

  3. Absensi Faktor Keberuntungan: Gol tidak boleh tercipta karena defleksi (pantulan) yang tidak disengaja dari pemain lawan atau murni karena kesalahan fatal kiper. Gol tersebut harus merupakan hasil dari niat dan teknik sadar sang pemain.

  4. Semangat Fair Play: Pemain yang mencetak gol tersebut harus memiliki catatan perilaku yang baik dalam pertandingan tersebut; misalnya, ia tidak sedang dalam sorotan karena tindakan tidak sportif atau skandal lainnya.

Evolusi Sistem Pemilihan

Pada tahun-tahun awal, pemenang Puskas Award ditentukan sepenuhnya melalui online voting oleh para penggemar di seluruh dunia. Hal ini sempat memicu perdebatan mengenai objektivitas, karena pemain dengan basis penggemar besar atau negara dengan populasi internet tinggi cenderung lebih mudah menang, meskipun golnya mungkin kalah indah dari kandidat lain.

Menanggapi kritik tersebut, FIFA melakukan reformasi pada sistem pemilihan sejak edisi 2019. Kini, pemenang ditentukan melalui penggabungan dua jalur suara: 50% berasal dari suara publik (fans) dan 50% sisanya berasal dari panel ahli yang disebut “FIFA Legends”. Panel ini terdiri dari mantan pemain profesional, pelatih, dan pakar taktik yang mengevaluasi gol berdasarkan tingkat kesulitan teknis. Perubahan ini memastikan bahwa pemenang Puskas Award benar-benar merepresentasikan perpaduan antara popularitas dan kualitas teknis murni.

Makna Sosial dan Inklusivitas

Salah satu momen paling mengharukan dalam sejarah Puskas Award adalah ketika pemain-pemain dari liga yang kurang populer atau pemain dengan keterbatasan fisik mampu bersaing di level tertinggi. Puskas Award menjadi panggung di mana dunia bisa melihat bahwa keajaiban sepak bola bisa terjadi di mana saja—mulai dari stadion megah di Eropa hingga lapangan tanah di pelosok Brasil atau Malaysia.

Kehadiran pemain sepak bola penyandang disabilitas (amputee football) dalam nominasi dan bahkan memenangkan trofi ini beberapa tahun lalu membuktikan filosofi awal Puskas Award: bahwa keindahan tidak mengenal batas. Ini memberikan pesan kuat bahwa sepak bola adalah milik semua orang, dan sebuah momen magis tidak memerlukan kontrak jutaan dolar untuk bisa diakui oleh dunia.

Puskas Award di Era Modern

Di era digital saat ini, Puskas Award menjadi sangat viral karena kemudahan akses video melalui media sosial. Setiap kali ada gol spektakuler tercipta di belahan bumi mana pun, publik langsung melabelinya sebagai “calon pemenang Puskas”. Penghargaan ini telah menjadi bagian dari budaya populer sepak bola, menciptakan standar baru bagi para pemain muda untuk tidak takut berinovasi dan mencoba tendangan-tendangan berisiko tinggi demi menciptakan keindahan.

Secara tidak langsung, Puskas Award juga mendorong para pemain untuk mengasah teknik individu mereka. Di tengah sepak bola modern yang sangat mengedepankan taktik kolektif dan efisiensi, penghargaan ini tetap menyediakan ruang bagi “romantisme” sepak bola—momen di mana seorang individu secara egois namun cerdas memutuskan untuk melakukan sesuatu yang luar biasa bagi penonton.

Penutup

FIFA Puskas Award bukan sekadar trofi pelengkap di lemari pajangan. Ia adalah pengakuan atas sisi artistik dari sepak bola. Melalui nama Ferenc Puskás, FIFA berhasil menciptakan sebuah jembatan yang menghubungkan sejarah kejayaan masa lalu dengan inovasi masa kini. Selama bola masih bergulir dan selama ada pemain yang berani bermimpi untuk melepaskan sepakan mustahil ke pojok gawang, Puskas Award akan terus menjadi penghargaan yang paling dinantikan oleh para penikmat keindahan di seluruh dunia.

(EA/timKB).

Sumber foto:  google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...