Enzo Scifo: Sang “Little Pelé” Dan Maestro Elegan Dari Belgia

Eva Amelia 10/04/2026 4 min read
Enzo Scifo: Sang “Little Pelé” Dan Maestro Elegan Dari Belgia

Jakarta – Dunia sepak bola sering kali melahirkan pemain yang tidak hanya bermain untuk menang, tetapi juga untuk menciptakan keindahan di atas lapangan hijau. Di antara deretan nama besar yang menghiasi sepak bola Eropa pada era 1980-an hingga 1990-an, muncul satu nama yang identik dengan keanggunan, visi tajam, dan teknik olah bola yang hampir sempurna: Enzo Scifo.

Lahir dengan nama lengkap Vincenzo Scifo, ia adalah sosok yang membuktikan bahwa sepak bola adalah perpaduan antara kecerdasan taktis dan estetika gerak. Artikel ini akan mengulas perjalanan hidup dan karier sang maestro, mulai dari akar imigran hingga menjadi ikon nasional Belgia.

Kelahiran dan Akar Italia di Tanah Belgia

Enzo Scifo lahir pada 19 Februari 1966 di La Louvière, sebuah kota industri di wilayah Wallonia, Belgia. Meskipun lahir dan besar di Belgia, darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah Italia. Orang tuanya berasal dari Sisilia yang bermigrasi ke Belgia untuk mencari kehidupan yang lebih baik, sebuah latar belakang yang lazim di komunitas pertambangan Belgia kala itu.

Sejak kecil, Scifo sudah menunjukkan bakat yang luar biasa. Di jalanan La Louvière, ia mengasah kemampuannya melewati lawan dengan kontrol bola yang sangat rapat. Karena kemampuannya yang fenomenal di usia belia, ia dijuluki sebagai “Little Pelé” oleh masyarakat setempat. Bakat ini tidak luput dari pengamatan pencari bakat klub raksasa Belgia, Anderlecht, yang kemudian memboyongnya ke akademi mereka saat ia masih remaja.

Awal Karier: Ledakan di Anderlecht

Scifo melakukan debut profesionalnya untuk Anderlecht pada tahun 1983, saat usianya baru menginjak 17 tahun. Di klub inilah dunia mulai menyadari bahwa Belgia memiliki permata baru. Sebagai seorang playmaker (nomor 10) klasik, Scifo memiliki kemampuan langka untuk mendikte tempo permainan. Ia seolah-olah memiliki mata di belakang kepalanya, mampu melepaskan umpan terobosan yang membelah pertahanan lawan dengan akurasi milimeter.

Bersama Anderlecht, ia memenangkan tiga gelar Liga Belgia secara berturut-turut antara tahun 1985 hingga 1987. Keberhasilannya membawa klub mencapai final Piala UEFA 1984 juga semakin melambungkan namanya. Keanggunannya saat menguasai bola membuatnya menjadi prototipe gelandang modern yang sangat dicari oleh klub-klub besar Eropa.

Petualangan di Italia dan Perancis

Sebagai pemain keturunan Italia, bermain di Serie A—yang saat itu merupakan liga terbaik di dunia—adalah impian besar bagi Scifo. Pada tahun 1987, ia bergabung dengan Inter Milan. Namun, kepindahannya ke San Siro tidak berjalan semulus yang diharapkan. Tekanan besar dan adaptasi taktis yang kaku di Italia membuatnya kesulitan menunjukkan performa terbaiknya secara konsisten.

Setelah hanya satu musim di Inter, ia pindah ke Perancis untuk memperkuat Bordeaux, lalu kemudian Auxerre. Di bawah asuhan pelatih legendaris Guy Roux di Auxerre, Scifo menemukan kembali sentuhan emasnya. Ia menjadi ruh permainan tim dan membantu klub tersebut bersaing di papan atas Ligue 1 serta kompetisi Eropa. Kebangkitan ini membawanya kembali ke Italia untuk bergabung dengan Torino pada tahun 1991.

Di Torino, Scifo mencapai salah satu puncak karier klubnya. Ia membawa klub berjuluk Il Toro tersebut mencapai final Piala UEFA 1992 dan memenangkan Coppa Italia pada tahun 1993. Setelah periode sukses di Turin, ia kembali ke Perancis untuk membela AS Monaco, di mana ia memenangkan gelar juara Ligue 1 pada tahun 1997.

Pengabdian untuk Tim Nasional Belgia

Meskipun memiliki karier klub yang berpindah-pindah, status Scifo sebagai legenda abadi dikukuhkan lewat penampilannya bersama tim nasional Belgia. Ia mencatatkan debut internasionalnya pada tahun 1984, tepat sebelum Euro 1984 dimulai.

Pencapaian terbesarnya adalah pada Piala Dunia 1986 di Meksiko. Scifo menjadi motor serangan tim “Setan Merah” yang berhasil melaju hingga babak semifinal. Penampilannya yang brilian membuatnya dianugerahi gelar Best Young Player dalam turnamen tersebut. Sepanjang kariernya, Scifo berpartisipasi dalam empat edisi Piala Dunia (1986, 1990, 1994, dan 1998), sebuah pencapaian yang sangat jarang bisa dilakukan oleh seorang pemain profesional.

Total, ia mengoleksi 84 caps dan mencetak 18 gol untuk negaranya. Bagi publik Belgia, Scifo adalah simbol transisi dari gaya sepak bola fisik menuju gaya permainan yang lebih teknis dan cerdas.

Gaya Bermain dan Karakteristik

Mengapa Scifo begitu dikagumi? Jawabannya terletak pada estetika. Scifo adalah definisi dari pemain yang “menari” dengan bola. Ia jarang terlihat terburu-buru; ia selalu tampak memiliki waktu lebih banyak daripada pemain lain di sekitarnya. Kemampuan utamanya meliputi:

  • Visi Permainan: Kemampuan membaca pergerakan rekan setim bahkan sebelum bola sampai di kakinya.
  • Akurasi Umpan: Baik umpan pendek cepat maupun umpan jauh melambung, Scifo jarang melakukan kesalahan distribusi.
  • Tendangan Jarak Jauh: Ia memiliki teknik tendangan melengkung yang mematikan dari luar kotak penalti.
  • Ketenangan (Composure): Dalam tekanan tinggi, ia tetap tenang dan mampu keluar dari kepungan lawan dengan satu sentuhan cerdas.

Masa Pensiun dan Warisan

Setelah sempat kembali ke Anderlecht dan menutup kariernya di Charleroi pada tahun 2001 karena cedera kronis, Scifo beralih ke dunia kepelatihan. Ia pernah melatih beberapa klub Belgia seperti Charleroi, Tubize, dan Mons, serta sempat menangani tim nasional Belgia U-21.

Warisan Enzo Scifo tetap hidup hingga hari ini. Sebelum munculnya generasi emas Belgia yang dihuni oleh Kevin De Bruyne dan Eden Hazard, Scifo adalah standar tertinggi untuk seorang gelandang kreatif di negara tersebut. Ia membuktikan bahwa seorang pemain dengan latar belakang imigran bisa menjadi pahlawan nasional dan menyatukan bangsa melalui sepak bola.

Kisah Enzo Scifo adalah kisah tentang bakat murni yang dikelola dengan dedikasi. Ia adalah pengingat bahwa di balik statistik gol dan assist, sepak bola tetaplah sebuah seni, dan Scifo adalah salah satu seniman terbaik yang pernah memegang kuas di atas lapangan hijau.

(EA/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...