Jakarta – Dunia sepak bola internasional tidak akan pernah melupakan sosok tangguh yang dikenal dengan julukan “Singa dari Rekem”. Eric Gerets bukan sekadar pemain bertahan biasa; ia adalah personifikasi dari kepemimpinan, daya tahan, dan kecerdasan taktik yang jarang ditemui dalam satu paket lengkap. Artikel ini akan menelusuri perjalanan hidup Gerets, mulai dari saat ia menghirup udara pertama di tanah Belgia hingga ia bertransformasi menjadi salah satu bek kanan terbaik yang pernah dimiliki Eropa, serta transisinya menjadi pelatih bertangan dingin.
Kelahiran dan Akar Sang Singa
Eric Maria Gerets lahir pada tanggal 18 Mei 1954 di Rekem, sebuah desa kecil yang tenang di munisipalitas Lanaken, Provinsi Limburg, Belgia. Tumbuh besar di wilayah yang memiliki tradisi sepak bola kuat, Gerets muda sudah menunjukkan bakat fisik yang menonjol dibandingkan teman-teman sebayanya. Di Rekem pulalah karakter keras dan pantang menyerahnya terbentuk. Ia bukanlah tipe pemain yang mengandalkan kelembutan; sebaliknya, ia adalah petarung yang mengandalkan kekuatan fisik dan determinasi tinggi, sebuah sifat yang nantinya akan membuatnya sangat dicintai oleh para pendukung klub yang ia bela.
Lahir di pertengahan era 1950-an berarti Gerets tumbuh saat sepak bola Eropa mulai memasuki era profesionalisme yang lebih ketat. Sebagai seorang pemuda dari Limburg, impian untuk menembus kasta tertinggi liga Belgia bukanlah hal yang mustahil, namun membutuhkan kerja keras yang luar biasa. Gerets memulai langkah pertamanya di klub lokal sebelum akhirnya bakatnya tercium oleh pemandu bakat dari klub raksasa, Standard Liège.
Awal Karir di Standard Liège: Membangun Reputasi
Perjalanan karir profesional Eric Gerets dimulai di Standard Liège pada tahun 1971. Di klub inilah dunia mulai menyadari bahwa Belgia memiliki seorang bek kanan dengan kualitas istimewa. Bersama Les Rouches, Gerets bertransformasi dari seorang pemain muda berbakat menjadi kapten yang sangat dihormati. Ia menjadi pilar utama tim yang mendominasi panggung domestik Belgia pada awal 1980-an.
Selama periode pertamanya di Standard Liège, Gerets berhasil mempersembahkan gelar juara Liga Belgia (Division 1) pada musim 1981-1982 dan 1982-1983. Gaya mainnya yang eksplosif—sering membantu penyerangan dari sisi sayap namun tetap disiplin dalam menjaga area pertahanan—membuatnya menjadi role model bagi bek modern saat itu. Namun, karirnya di Liège sempat ternoda oleh skandal penyuapan yang melibatkan pertandingan melawan Waterschei, yang membuatnya harus menjalani hukuman larangan bertanding. Meskipun demikian, mentalitas Gerets tidak runtuh. Masa sulit ini justru membentuknya menjadi pribadi yang lebih tangguh saat ia memutuskan untuk merantau ke luar negeri.
Menaklukkan Belanda dan Kejayaan di PSV Eindhoven
Setelah sempat singgah sebentar di AC Milan dan MVV Maastricht, Eric Gerets menemukan “rumah” keduanya di Belanda, tepatnya di PSV Eindhoven. Kepindahannya ke PSV pada tahun 1985 menjadi titik balik paling gemilang dalam karir klubnya. Di bawah asuhan pelatih legendaris Guus Hiddink, Gerets menjadi pemimpin di lapangan bagi generasi emas PSV yang dihuni pemain-pemain hebat seperti Ronald Koeman, Hans van Breukelen, dan Søren Lerby.
Puncak karir Gerets terjadi pada musim 1987-1988. Sebagai kapten tim, ia memimpin PSV meraih treble winners yang bersejarah: menjuarai Eredivisie, Piala KNVB, dan yang paling prestisius, European Cup (sekarang Liga Champions). Kemenangan atas Benfica di final European Cup 1988 mengukuhkan posisi Gerets sebagai salah satu kapten terbaik dalam sejarah sepak bola Belanda, meskipun ia adalah seorang warga negara Belgia. Selama tujuh musim di Eindhoven, ia memenangkan enam gelar Eredivisie, sebuah pencapaian yang sangat sulit disamai oleh pemain asing manapun hingga saat ini.
Pengabdian untuk Tim Nasional Belgia
Di level internasional, Eric Gerets adalah simbol dari generasi emas pertama Belgia. Ia mencatatkan 86 penampilan bagi tim nasional “The Red Devils” antara tahun 1975 hingga 1991. Salah satu momen paling ikonik dalam karir internasionalnya adalah ketika ia memimpin Belgia mengejutkan dunia di Piala Dunia 1982. Di pertandingan pembukaan, Belgia berhasil mengalahkan juara bertahan Argentina yang diperkuat oleh Diego Maradona dengan skor 1-0. Gerets, yang saat itu menjabat sebagai kapten, tampil luar biasa dalam mematikan pergerakan barisan penyerang Argentina.
Gerets juga berperan penting membawa Belgia mencapai final Piala Eropa (Euro) 1980, di mana mereka kalah tipis dari Jerman Barat. Ia juga menjadi bagian dari skuad yang mencapai semifinal Piala Dunia 1986 di Meksiko, sebuah rekor yang bertahan selama puluhan tahun sebelum akhirnya dipecahkan oleh generasi Eden Hazard di tahun 2018. Bagi publik Belgia, Gerets adalah “Capitaine” sejati yang selalu memberikan segalanya di atas lapangan.
Transisi Menuju Dunia Kepelatihan
Setelah gantung sepatu pada tahun 1992, Eric Gerets tidak butuh waktu lama untuk merambah dunia manajerial. Ia membawa karakteristik keras dan disiplinnya ke pinggir lapangan. Kesuksesan sebagai pemain berhasil ia tularkan sebagai pelatih. Ia memulai karir kepelatihannya di klub-klub kecil Belgia sebelum akhirnya membawa Club Brugge menjuarai liga pada tahun 1998.
Kehebatan taktik Gerets semakin teruji saat ia kembali ke PSV Eindhoven sebagai pelatih dan mempersembahkan dua gelar Eredivisie secara beruntun pada tahun 2000 dan 2001. Petualangannya berlanjut ke Jerman bersama Kaiserslautern dan Wolfsburg, lalu ke Turki di mana ia membawa Galatasaray menjuarai liga secara dramatis pada tahun 2006. Gerets juga sempat mencicipi kerasnya persaingan di Ligue 1 Prancis bersama Olympique de Marseille, di mana ia sangat dicintai oleh para pendukung karena gaya bicaranya yang jujur dan sepak bola menyerang yang ia terapkan.
Di masa-masa akhir karirnya, Gerets merambah ke wilayah Timur Tengah, melatih tim nasional Maroko serta klub-klub besar seperti Al-Hilal di Arab Saudi dan Lekhwiya di Qatar. Di mana pun ia berada, trofi seolah selalu mengikuti langkah kaki Sang Singa dari Rekem.
Warisan Sang Legenda
Kini, Eric Gerets telah menikmati masa pensiunnya dari dunia sepak bola yang melelahkan namun penuh warna. Masalah kesehatan sempat menghampirinya, namun ia menghadapinya dengan keberanian yang sama seperti saat ia menekel penyerang lawan di masa lalu. Gerets akan selalu diingat sebagai pemain yang memiliki kombinasi langka antara kekuatan fisik, kecerdasan posisi, dan wibawa kepemimpinan.
Dari desa kecil Rekem hingga mengangkat trofi Liga Champions di Stuttgart, perjalanan karir Eric Gerets adalah bukti nyata bahwa dedikasi dan mentalitas juara dapat membawa seseorang melampaui batasan geografis dan ekspektasi. Ia bukan hanya legenda bagi Standard Liège atau PSV Eindhoven, melainkan ikon sepak bola Eropa yang namanya akan tetap harum dalam catatan sejarah perjalanan si kulit bundar.
(EA/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda