Camee Adams: Dari Kandang MMA Ke Panggung Power Slap

Piter Rudai • 28/09/2026 • 4 min read
Camee Adams: Dari Kandang MMA Ke Panggung Power Slap

Jakarta – Di dunia olahraga tarung, comeback tidak selalu berarti kembali ke tempat yang sama. Camee Adams memilih jalan yang berbeda. Setelah pernah merasakan kerasnya kompetisi MMA profesional, perempuan asal Amerika Serikat ini kembali ke dunia pertarungan melalui Power Slap. Dengan julukan “Double Whammy”, Adams kini menempati peringkat ketiga kelas Women’s Featherweight Power Slap. Profil resminya mencatat tinggi 5 kaki 7 inci (170 cm), berat 145 pound (65,8 kg), bertangan kanan, dan rekor Power Slap 1-0. Namun, kisahnya jauh lebih panjang daripada angka tersebut.

Jauh sebelum menjadi petarung, Adams sudah akrab dengan olahraga. Ia tumbuh di Sandy, Utah, dan sejak kecil aktif dalam berbagai aktivitas fisik. Senam menjadi salah satu olahraga pertamanya sebelum ia beralih ke sepak bola kompetitif. Ketertarikannya terhadap kekuatan dan kebugaran kemudian berkembang menjadi dunia combat sports. Dalam tulisan pribadinya, Adams menceritakan bagaimana latihan boxing, padwork, dan sparring perlahan membuatnya menemukan sisi dirinya yang berbeda. Baginya, gym bukan sekadar tempat membentuk tubuh, tetapi ruang untuk menghadapi rasa takut, keraguan, dan tekanan kehidupan.

Perjalanan menuju MMA profesional tidak berlangsung mulus. Adams sebelumnya mengumpulkan rekor 3-2 sebagai petarung amatir, dengan kemenangan TKO atas Liz Goodman pada September 2020 menjadi salah satu hasil penting dalam proses tersebut. Kesempatan profesional akhirnya datang melalui PFL Challenger Series 2022. Pada 4 Maret 2022, ia menghadapi Jackie Cataline dalam pertarungan kelas lightweight. Adams memulai laga dengan agresif dan berusaha menggunakan serangan tangan untuk menjaga lawannya menjauh. Namun Cataline, yang memiliki latar belakang gulat kuat, berhasil membawa pertarungan ke lantai dan mengunci rear-naked choke. Adams kalah melalui technical submission pada ronde pertama, 2 menit 41 detik.

Kekalahan tersebut menjadi satu-satunya pertandingan profesional MMA Adams. PFL sendiri mencatat rekor profesionalnya 0-1, sedangkan sejumlah database juga mengonfirmasi bahwa pertarungan melawan Cataline merupakan debut profesionalnya. Menariknya, kegagalan di pertandingan tersebut tidak menjadi akhir perjalanan Adams sebagai atlet. Ia justru membawa pengalaman dari MMA—termasuk disiplin latihan, keberanian menghadapi tekanan, serta kemampuan mengelola rasa takut—ke fase kehidupan berikutnya. Setelah meninggalkan kompetisi MMA, Adams semakin dikenal bukan hanya sebagai atlet, tetapi juga personal trainer, guru yoga, wellness educator, pembicara, dan penulis.

Pada Oktober 2025, Adams mulai menjalani latihan khusus untuk Power Slap. Peralihannya cukup menarik karena olahraga ini menuntut kemampuan berbeda dari MMA. Tidak ada takedown, submission, atau kombinasi serangan seperti dalam pertarungan cage. Yang dibutuhkan adalah kemampuan menghasilkan tenaga melalui pukulan terbuka, menjaga keseimbangan tubuh, mempertahankan ketenangan, dan menerima tekanan dalam format yang sangat sederhana tetapi brutal. Adams memandang kesempatan tersebut sebagai kesempatan kedua untuk berkompetisi, kali ini dengan perspektif yang menurutnya lebih sehat dan dengan tujuan menikmati prosesnya.

Mentalitas tersebut sangat berkaitan dengan filosofi hidup yang ia bangun dari pengalaman pribadi. Adams menggunakan istilah resilience, atau ketangguhan menghadapi kesulitan, sebagai fondasi pendekatannya terhadap olahraga dan kehidupan. Ia meyakini bahwa ketangguhan bukan sekadar sifat bawaan, melainkan kemampuan yang dapat dilatih dan diperkuat. Pandangan tersebut terbentuk melalui perjalanan hidup yang penuh tantangan, termasuk menjadi ibu muda, menghadapi hubungan yang tidak sehat, perceraian, dan kehilangan saudara. Karena itu, baginya, bertarung bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi tentang kemampuan untuk kembali berdiri setelah mengalami kemunduran.

Pengalaman sebagai pelatih kebugaran juga memberikan warna pada metode latihannya. Adams merupakan ACE-certified personal trainer, memiliki sertifikasi nutrisi Precision Nutrition Level 1, serta merupakan guru yoga 200 jam dengan fokus pada mindfulness, ketenangan, regulasi sistem saraf, dan recovery. Ia juga mengembangkan pendekatan bernama Mindful MittWork, yang menggabungkan gerakan ala MMA dengan mindfulness. Kombinasi tersebut menggambarkan pendekatan Adams yang tidak hanya mengejar kekuatan fisik, tetapi juga kontrol tubuh dan mental.

Di Power Slap, karakter agresif yang pernah ia tunjukkan dalam MMA tetap menjadi bagian dari identitasnya, tetapi diterapkan dalam format yang jauh lebih spesifik. Adams adalah petarung tangan kanan yang kini berada di jajaran teratas Women’s Featherweight. Power Slap mencatatnya dengan rekor 1-0, dan peringkat resminya saat ini menempatkannya di posisi #3, di belakang Sheena Bathory dan Nadja Milijancevic, dengan Abby Montes sebagai juara. Artinya, perjalanan baru Adams bukan sekadar eksperimen setelah pensiun dari MMA. Ia sudah berada dalam posisi untuk mengejar peluang yang lebih besar.

Kisah Camee Adams pada akhirnya bukan cerita tentang petarung yang memiliki rekor sempurna. Justru sebaliknya. Ia datang ke dunia olahraga tarung dengan kekalahan profesional dalam debut MMA, kemudian meninggalkan kandang dan kembali bertahun-tahun kemudian melalui cabang yang berbeda. Dari seorang atlet yang belajar menghadapi kegugupan dalam pertarungan pertamanya, Adams berubah menjadi sosok yang menjadikan resilience sebagai identitas. Kini, dengan rekor Power Slap 1-0 dan posisi #3 Women’s Featherweight, “Double Whammy” memiliki kesempatan untuk menulis babak baru. Bukan untuk menghapus masa lalu, tetapi untuk membuktikan bahwa dalam olahraga maupun kehidupan, satu kekalahan tidak harus menjadi akhir cerita.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...