Banyak cara untuk menyuarakan sesuatu. Di era media sosial, kecepatan untuk menyuarakan sesuatu pun semakin cepat dan bisa berdampak masif. Peran media mainstream, untuk menyuarakan apa yang terjadi di wilayah konflik atau perang pun berdampak. Apa yang terjadi pada saat transisi kekuasaan di Afghanistan tahun lalu, membuat banyak warganya keluar untuk mencari tempat yang lebih aman. Perang antar pihak yang berkepanjangan, membuat warga Afghannistan harus memilih hidup di luar tempat kelahirannya.
Fatima adalah bagian dari tim nasional perempuan sepakbola Afghanistan. Penuturannya kepada CNN Sport, “Kelompok penguasa saat ini di Afghanistan, memukul orang tua kami, anggota keluarga kami, dan anggota tim nasional perempuan negara kami. Kami tidak pernah tahu, apakah kami akan tetap hidup atau akan tewas.”
Sebagai juru bicara tim nasional perempuan sepakbola Afghanistan, Fatima menambahkan bahwa para perempuan adalah pihak yang paling rentan di Afghanistan dan bisa kehilangan banyak mimpi untuk masa depan mereka, dalam sekejap saja. Bahkan di awal tahun ini, United Nations mengingatkan bahwa laki-laki, perempuan, dan anak Afghanistan di masa kemiskinan yang parah.
Perjuangan tim nasional perempuan sepakbola Afghanistan untuk bisa keluar dari negaranya tidak mudah. Mereka harus bersembunyi di luar bandara Kabul selama dua hari, demi menunggu pesawat yang akan mengangkut mereka keluar dari Afghanistan. Mereka pun beruntung, karena setelah menunggu dua hari, selain mendapat tempat di pesawat, mereka juga terhindar dari bom bunuh diri, menewaskan 180 orang.
Saat ini, tim nasional perempuan sepakbola Afghanistan telah delapan bulan berada di Melbourne, Australia. Bagi para penggemar olahraga, Melbourne adalah tempat untuk beberapa ajang olahraga. Mulai dari GP Australia untuk balap jet darat F1, turnamen tenis Australian Open, dan tempat kompetisi kriket di Melbourne Cricket Ground. Bagi para perempuan muda Afghanistan tersebut, Melbourne adalah rumah baru bagi karir sepakbola mereka.
Klub sepakbola lokal, Melbourne Victory Soccer Club, berinisiatif untuk menyediakan tempat serta fasilitas, termasuk metode latihan secara profesional. John Didulica adalah pelatih bagi anak-anak muda Afghanistan itu.
Sang kapten, Fatima bahkan merasakan sesuatu yang berbeda. Baginya, saat ini dengan fasilitas yang diterima, ia bisa mendapatkan dua hal, kedamaian dan rasa aman. Pemain bertahan, Marsul, kepada CNN Sport berkata, “Australia adalah negara multi-kultural, mereka tidak bertanya kepada kami, apakah engkau Muslim atau apakah engkau Kristiani, sangat indah mengalaminya.”
Peran komunitas pun terlihat, sejak awal tim nasional perempuan sepakbola Afghanistan bisa bergabung di bawah naungan Melbourne Victory. Seorang pengacara hak asasi manusia bernama Craig Foster sebagai inisiatornya. Ia adalah orang yang turut andil dalam proses evakuasi dari Kabul. “It takes a village to raise a child”, kutipan yang relevan dengan apa yang perempuan-perempuan muda Afghanistan alami di Australia. Semua harus membantu saat ada yang hak hidupnya direnggut atau terancam tidak bisa terpenuhi.
(BS/timKB)
Sumber Foto: Melbourne Victory