Small talk atau sering kita sebut dengan obrolan ringan, menjadi suatu keadaan yang tidak menyenangkan untuk beberapa orang, atau disebut basa basi. Bagi mereka yang tidak suka obrolan santai yang sering terasa palsu dan membuang-buang waktu.
Penelitian menunjukkan bahwa orang lebih suka melakukan diskusi yang lebih dalam dan lebih bermakna. Selain itu, terlibat dalam percakapan seperti itu dikaitkan dengan kebahagiaan dan kesejahteraan yang lebih besar. Berbicara tentang pengalaman kita dan dunia di sekitar kita memungkinkan kita menemukan makna dalam hidup kita. Percakapan yang baik juga memfasilitasi ikatan dan hubungan yang lebih erat dengan orang yang kita ajak bicara. Sederhananya, menegaskan untuk membicarakan hal-hal yang penting adalah cara sederhana untuk memupuk kebahagiaan.
Meskipun demikian, memulai percakapan tidak selalu mudah. Saat bertemu orang baru, di suatu pesta, dalam organisasi, atau bahkan dengan orang yang dicintai, dialog tidak selalu mengalir. Kita semua memiliki pengalaman yang canggung ketika rasanya seperti mencabut gigi untuk membuat orang lain terlibat. Sama menantangnya adalah merasa terjebak di suatu acara, di samping seseorang yang mengoceh tentang sesuatu yang tidak kita minati.
Kabar baiknya adalah kita tidak harus seperti ini. Pertimbangkan untuk membingkai ulang situasi. Alih-alih memikirkan betapa membosankannya acara itu, atau betapa sulitnya mengajak orang untuk diajak bicara, tanyakan pada diri kita sendiri, apa yang bisa saya pelajari dari mereka? Menyalurkan pola pikir yang lebih terbuka dapat mengubah pertemuan yang membosankan menjadi menarik.
Mungkin kita sering menemukan orang-orang yang memandang small talks atau obrolan ringan, sebagai basa basi sebelum kita dapat memindahkan percakapan ke tingkat yang lebih dalam. Berbicara tentang cuaca atau drama korea terbaru mungkin tampak seperti buang-buang waktu. Tetapi interaksi kecil ini dapat menjadi landasan untuk koneksi yang lebih dalam. Belajar merangkul, dan bahkan menikmati, obrolan ringan dapat memberikan keajaiban bagi kehidupan pribadi dan profesional kita. Apakah kita berada di suatu acara, pesta, atau kencan pertama, menguasai seni obrolan ringan akan membuka peluang baru, dan membantu kita membentuk hubungan yang autentik.
Dalam bukunya, The Fine Art of Small Talk, Debra Fine berpendapat bahwa, saat kita menghindari basa-basi dan percakapan santai dengan tetangga, rekan kerja, atau bahkan petugas kasir di supermarket, kita meminimalkan jumlah percakapan mendalam yang kita dapatkan. Lebih buruk lagi, tidak terlibat dalam percakapan biasa dapat membuat kita tampak kasar, dingin, atau tidak tertarik.

Jika kita b,ergumul dengan small talks atau obrolan ringan karena cemas secara sosial atau merasa sulit memikirkan hal-hal untuk dikatakan, berikut adalah beberapa tip untuk membantu menumbuhkan kepercayaan diri.
Jangan khawatir jika basa-basi tidak datang secara alami kepada kita. Dengan pola pikir yang benar, siapa pun bisa belajar menjadi pembicara yang baik. Secara khusus, mindset berkembang akan membantu kita keluar dari zona nyaman dan tetap termotivasi saat menghadapi tantangan. Orang dengan mindset berkembang percaya bahwa mereka dapat meningkat dengan latihan sedangkan mereka dengan mindset tetap berpikir bahwa sifat dan kemampuan seseorang ditentukan sejak lahir.
Jangan duduk-duduk menunggu orang baru datang dan berbicara dengan kita. Alih-alih, ciptakan peluang untuk berbasa-basi dengan secara aktif mendekati orang asing. Dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective People, Stephen Covey menegaskan bahwa inisiatif adalah kunci untuk mengadopsi perilaku baru. Setelah kita menerima bahwa obrolan ringan dapat menjadi menantang, kita dapat mengambil tanggung jawab untuk meningkatkan keterampilan kita dan secara aktif mencari peluang untuk mengubah perilaku.
Bercakap-cakap dapat diibaratkan seperti dua orang bolak-balik memukul bola tenis. Servisnya adalah saat kita memulai percakapan dan komunikasi yang baik melibatkan kedua belah pihak yang berkontribusi sama.
Tujuannya bukan untuk mengungguli lawan bicara, melainkan untuk menjaga agar bola tetap maju dan mundur. Jika kita ingin menjadi pembicara yang lebih baik, kita harus bersedia dan menjadi peserta yang aktif dan tidak menyerahkan pekerjaan mempertahankan percakapan kepada orang lain.
Gunakan body language atau bahasa tubuh selama percakapan untuk menunjukkan bahwa kita tertarik dan terlibat. Isyarat visual sangat penting saat kita mendengarkan orang lain. Lakukan kontak mata, tersenyumlah (kecuali topik yang sedang dibahas bersifat serius) dan tetap fokus pada pembicara.
Cobalah untuk tidak menyilangkan tangan atau meletakkan tangan di pinggul dan hindari gelisah atau melihat ke seberang ruangan untuk melihat apa yang dilakukan orang lain. Tunjukkan bahwa kita mendengarkan dengan mengangguk dan mengajukan pertanyaan yang rumit.
Persiapan adalah bagian penting untuk membuat obrolan ringan menjadi lebih mudah dan menyenangkan. Wajar jika gugup saat memulai percakapan dan banyak orang merasa lebih nyaman jika mereka memiliki beberapa ice breaker. Berikut adalah beberapa saran, gunakan situasi, tempat, atau acara sebagai titik awal kita. Misalnya, mau kemana, asal dari mana atau tentang pendapat pertunjukan/ceramah. Beri orang lain pujian. Misalnya, saya suka sepatumu, wah bajumu bagus. Temukan kesamaan. Misalnya, saya juga bekerja di bidang pemasaran atau sudah berapa lama berkecimpung di industri ini?
Jadilah pendengar yang aktif. Kita mungkin berpikir bahwa kita adalah pendengar yang baik. Akan tetapi dalam percakapan, apakah kita benar-benar berkonsentrasi pada apa yang dikatakan orang lain atau hanya menunggu kesempatan untuk berbicara? Jika seseorang menggambarkan liburan mereka baru-baru ini, kita mungkin tergoda untuk memulai dengan cerita liburan kita sendiri. Lakukanlah segera setelah mereka berhenti untuk menarik napas.
Menjadi pendengar yang aktif berarti mendengarkan untuk memahami daripada menanggapi. Ketika kita berbicara dengan seseorang, tahan dorongan untuk mengalihkan fokus ke diri sendiri. Alih-alih, renungkan apa yang dikatakan dan ajukan pertanyaan relevan yang mengundang orang lain untuk memperluas topik.
Cobalah untuk mengajukan pertanyaan terbuka daripada pertanyaan tertutup yang hanya membutuhkan jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’. Misalnya, alih-alih bertanya ‘apakah kamu menyukai pekerjaanmu, kita bisa mengatakan, ‘bagaimana kamu masuk ke bidang pekerjaanmu’ atau ‘apa yang paling kamu sukai dari pekerjaanmu?’ Orang pada umumnya suka berbicara tentang diri mereka sendiri, tetapi berhati-hatilah dalam mengajukan pertanyaan yang terlalu pribadi saat kita masih dalam tahap mengenal satu sama lain.
Inti dari obrolan ringan adalah untuk membuatnya tetap ringan. Hindari topik sensitif dan berpotensi kontroversial seperti politik, agama, atau uang. Selain membahas lingkungan sekitar, topik obrolan ringan lainnya yang baik mencakup hiburan (acara TV, film, buku, drama korea, dll.), seni dan budaya, olahraga, dan perjalanan.
Akhiri dengan ucapan terima kasih. Jika kita baru mengenal basa-basi, mengakhiri percakapan bisa terasa sama sulitnya dengan memulainya. Debra Fine menyarankan bahwa ketika tiba waktunya untuk pergi, kita harus berterima kasih kepada orang lain atas waktu, keahlian, atau sekadar mengatakan betapa kita senang berbicara dengan mereka.
Mengungkapkan rasa terima kasih, tidak hanya akan membuat orang lain merasa nyaman dengan diri mereka sendiri, tetapi juga meningkatkan kemungkinan membangun hubungan jangka panjang. Jika kita ingin bertemu orang itu lagi, kita harus mengatakannya dan menindaklanjutinya dengan menanyakan nomor telepon, dan meminta ijin untuk menyimpannya.
(DK-TimKB)
Sumber Foto : Linguist Today

Berita lainya
Trauma Masa Kecil Dan Dampaknya Seumur Hidup
Mengupas Hubungan Gelap Tersembunyi: Minuman Berenergi Dan Kesehatan Mental
Mengatasi Perasaan Tertinggal Dalam Hidup