Jakarta – Berasal dari tengah-tengah kota Dudinka di Krasnoyarsk Krai, Rusia, Petr Evgenyevich Yan adalah salah satu nama yang paling menonjol di dunia tarung bebas profesional. Dengan julukan “No Mercy”, Yan telah memikat hati para penggemar MMA di seluruh dunia. Mari kita telusuri perjalanan luar biasa sang pejuang yang lahir pada 11 Februari 1993 ini.
Sejak duduk di bangku kelas enam, Petr Yan sudah menunjukkan ketertarikannya dalam bela diri dengan memulai latihan Taekwondo ITF. Namun, hidup di daerahnya yang keras membuatnya sering terlibat dalam pertikaian, baik di sekolah maupun di jalanan, memaksa keluarganya untuk pindah berkali-kali demi keamanannya.
Petr tidak hanya puas dengan Taekwondo. Ia berlatih tinju selama delapan tahun, meraih prestasi Master of Sport in Boxing di kategori berat 64 kg. Tak hanya itu, Yan juga memiliki gelar di bidang Budaya Fisik dan Olahraga dari Universitas Federal Siberia di kota Omsk. Gaya bertarungnya yang dominan di tinju dipadukan dengan teknik grappling favoritnya, chokes, serta teknik striking favorit, uppercut.
Yan memulai debut profesionalnya di dunia MMA pada Desember 2014 di Kejuaraan Pertarungan Eurasia – Pertarungan Baikal, di mana dia mengalahkan Murad Bakiev melalui KO di ronde ketiga. Tidak lama setelah itu, pada 2015, Yan menandatangani kontrak dengan promosi Absolute Championship Berkut (ACB) Rusia.
Perjalanannya di ACB tak selalu mulus. Pada Maret 2016, dalam pertandingan yang panas melawan Magomed Magomedov di ACB 32, Yan harus menelan kekalahan meskipun banyak yang berpendapat sebaliknya. Namun, semangat juangnya tak pernah pudar. Pada tahun berikutnya, dia berhasil membalas dendam dengan mengalahkan Magomedov dan menjadi juara kelas bantam ACB.
Pada Januari 2018, Yan membuktikan dirinya sebagai salah satu pejuang terbaik di dunia dengan menandatangani kontrak dengan organisasi tarung bebas paling prestisius di dunia, UFC. Debutnya di UFC melawan Teruto Ishihara berakhir dengan kemenangan KO di ronde pertama. Kemenangan demi kemenangan menghampirinya, termasuk saat dia menghadapi nama besar seperti Jimmie Rivera, Urijah Faber, dan John Dodson.
Kemenangan paling bergengsi adalah saat dia menghadapi José Aldo untuk memperebutkan gelar kelas Bantam yang kosong. Yan berhasil meraih kemenangan melalui TKO di ronde kelima. Namun, seperti kehidupan pada umumnya, karier di UFC juga penuh dengan pasang surut. Kekalahannya dari Aljamain Sterling karena didiskualifikasi menjadi salah satu momen paling kontroversial dalam karier Yan. Meskipun demikian, dengan semangat yang tak pernah padam, Yan terus berjuang untuk merebut kembali gelar juara yang pernah menjadi miliknya.
Selama kariernya, Yan telah meraih beberapa penghargaan, termasuk UFC Bantamweight Championship dan Interim UFC Bantamweight Championship. Ia juga meraih penghargaan Fight of the Night sebanyak tiga kali, serta Performance of the Night melawan Urijah Faber.
Petr “No Mercy” Yan adalah sosok pejuang yang memiliki talenta, determinasi, dan dedikasi untuk seni tarung bebas. Perjalanan kariernya di MMA penuh dengan tantangan, namun semangat juang dan dedikasinya selalu membawanya kembali ke puncak. Kisahnya adalah bukti bahwa dengan kerja keras dan dedikasi, seseorang bisa mencapai puncak keberhasilan di bidang apa pun.
(PR/timKB).
Sumber foto: youtube

Berita lainya
Sean Sharaf “The Smoke”: Mesin KO Baru Divisi Heavyweight UFC
Kisah Cezary Oleksiejczuk: Petarung Divisi Welterweight UFC
Morgan Charrière: Petarung Prancis Di UFC