Jakarta – 9 Juli 2017 akan selalu dikenang sebagai tanggal penting dalam sejarah sepak bola Inggris khususnya para fans Manchester United. Pada hari itu, Wayne Rooney, salah satu ikon terbesar Manchester United, secara resmi mengumumkan keputusannya untuk meninggalkan Old Trafford setelah 13 tahun yang penuh trofi dan rekor. Destinasinya? Klub yang membesarkan namanya, Everton. Sebuah kepulangan emosional yang menandai akhir sebuah era dan awal babak baru bagi sang kapten.
Kabar ini memang telah tercium beberapa waktu sebelumnya, namun konfirmasi resminya tetap mengundang perbincangan hangat. Setelah lebih dari satu dekade menjadi ujung tombak United, di mana ia menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa klub dengan 253 gol, melampaui rekor legenda Sir Bobby Charlton, kepindahan ini terasa seperti penutup yang pas. Rooney telah memenangkan segalanya bersama Setan Merah: lima gelar Premier League, satu Liga Champions, satu Piala FA, tiga Piala Liga, dan satu Liga Europa. Ia tiba sebagai “wonderkid” dari Everton pada tahun 2004, dengan ekspektasi tinggi yang berhasil ia penuhi, bahkan lampaui.
Namun, musim 2016/2017 mulai menunjukkan tanda-tanda perubahan. Di bawah Jose Mourinho, peran Rooney mulai berkurang. Ia lebih sering memulai pertandingan dari bangku cadangan, posisinya di lapangan bergeser, dan menit bermainnya menurun drastis. Meskipun ia berhasil memecahkan rekor gol dan mengangkat trofi Liga Europa sebagai kapten, angin perubahan di Old Trafford jelas terasa. Bagi seorang kompetitor sejati seperti Rooney, duduk di bangku cadangan bukanlah pilihan yang menarik. Ia membutuhkan menit bermain reguler untuk menjaga performa dan menikmati sepak bola.
Maka, ketika pintu Goodison Park terbuka kembali, itu adalah panggilan yang sulit ditolak. Everton, di bawah manajer Ronald Koeman saat itu, tengah membangun tim yang ambisius. Mereka menawarkan Rooney peran sentral, kesempatan untuk menjadi pemimpin di lapangan, dan yang terpenting, kesempatan untuk kembali ke “rumah” di mana semuanya dimulai. Rooney meninggalkan Everton pada usia 18 tahun dengan beberapa kontroversi, namun para penggemar The Toffees tak pernah melupakan bakat luar biasa yang ia tunjukkan di masa remajanya.
Kepulangan ini adalah narasi yang indah. “Saya sangat senang. Saya tidak sabar untuk bermain, kembali berlatih,” ujar Rooney dalam wawancara pertamanya. “Saya bukan kembali hanya untuk membuat jumlah, saya kembali untuk sukses dan memenangkan trofi.” Kata-kata ini menunjukkan tekadnya yang tak pernah pudar, meskipun ia sudah berusia 31 tahun. Ia ingin membuktikan bahwa ia masih memiliki banyak hal untuk ditawarkan.
Di Everton, Rooney diberi kesempatan untuk kembali mengenakan nomor punggung 10, nomor yang identik dengannya di United. Musim 2017/2018, Rooney menunjukkan sekilas kemampuannya yang tak lekang oleh waktu, mencetak gol-gol penting, termasuk hat-trick sensasional melawan West Ham United yang diwarnai gol dari tengah lapangan. Ia menyelesaikan musim sebagai pencetak gol terbanyak Everton dengan 11 gol di Premier League.
Meskipun kepulangan kedua Rooney ke Everton hanya berlangsung semusim sebelum ia melanjutkan karier di MLS bersama D.C. United, keputusannya pada 9 Juli 2017 tetap menjadi momen krusial. Ini adalah testimoni bagi seorang pemain yang memprioritaskan bermain sepak bola dan berkontribusi secara signifikan, alih-alih berpuas diri dengan status legenda di bangku cadangan. Ini adalah kisah tentang seorang anak hilang yang akhirnya menemukan jalan pulang, membawa serta segudang pengalaman dan keinginan untuk memberikan segalanya bagi klub yang selalu ada di hatinya.
(EA/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda