Jakarta – Pada tanggal 9 Juli 1877, sebuah peristiwa bersejarah terjadi di dunia olahraga yang akan selamanya mengubah lanskap tenis: Kejuaraan Wimbledon pertama dimulai. Bukan sekadar turnamen tenis biasa, ini adalah turnamen tenis lapangan resmi pertama di dunia, sebuah tonggak penting yang meletakkan dasar bagi salah satu ajang olahraga paling bergengsi dan dihormati hingga saat ini. Kejuaraan perdana ini, yang secara eksklusif diperuntukkan bagi tunggal putra, menandai babak baru dalam sejarah tenis, mengubahnya dari sekadar permainan sosial menjadi olahraga kompetitif yang terorganisir.
Sebelum Wimbledon 1877, tenis adalah permainan yang relatif baru, baru saja dipatenkan sebagai “Sphairistike” oleh Mayor Walter Clopton Wingfield pada tahun 1874. Meskipun popularitasnya meningkat, belum ada turnamen resmi yang terstruktur. The All England Croquet and Lawn Tennis Club (saat ini All England Lawn Tennis and Croquet Club), yang berlokasi di Worple Road, Wimbledon, London, memutuskan untuk mengadakan kejuaraan ini untuk membantu memperbaiki lapangan rumput mereka dan secara tidak langsung, mempopulerkan permainan tenis.
Persiapan untuk turnamen ini relatif sederhana dibandingkan dengan standar modern. Undangan dikirim, dan biaya masuk ditetapkan sebesar satu guinea (sekitar £1.05 pada saat itu). Sebanyak 22 pemain pria mendaftar untuk berkompetisi dalam format eliminasi tunggal. Tidak ada unggulan, dan pengundian dilakukan secara acak. Peraturan yang digunakan adalah adaptasi dari hukum-hukum tenis lapangan Wingfield, dengan beberapa modifikasi, termasuk penyesuaian pada tinggi net dan jarak servis.
Atmosfer di hari pembukaan, 9 Juli 1877, pastilah penuh antisipasi. Para penonton, meskipun mungkin tidak sebanyak ribuan orang yang hadir saat ini, tetap antusias untuk menyaksikan ajang olahraga baru ini. Pertandingan-pertandingan dimainkan di lapangan rumput yang, meskipun mungkin belum sempurna, sudah disiapkan dengan cermat. Para pemain, sebagian besar adalah kaum elit dan amatir, bertanding dengan raket kayu dan bola yang terbuat dari karet vulkanisir. Permainan pada masa itu jauh berbeda dengan kecepatan dan kekuatan modern; lebih banyak mengandalkan penempatan bola dan teknik.
Turnamen ini berlangsung selama beberapa hari, dengan pertandingan yang diselingi oleh cuaca London yang tidak menentu. Setiap kemenangan membawa pemain selangkah lebih dekat ke gelar juara, dan setiap kekalahan berarti tersingkir dari kompetisi. Ini adalah murni pertarungan individu, menguji keterampilan, stamina, dan ketahanan mental setiap pemain.
Pada akhirnya, setelah serangkaian pertandingan yang mendebarkan, hanya satu pemain yang bisa dinobatkan sebagai juara. Pertandingan final, yang terpaksa ditunda karena pertandingan kriket dan cuaca buruk, akhirnya dimainkan pada 19 Juli 1877. Pemenangnya adalah Spencer Gore, seorang pemain kriket yang juga seorang atlet serbabisa. Gore mengalahkan William Marshall di final dengan skor 6-1, 6-2, 6-4, dan menjadi juara tunggal putra Wimbledon pertama. Atas kemenangannya, Gore menerima piala perak senilai 25 guinea dan hadiah uang sebesar 12 guinea 10 shilling.
Kejuaraan Wimbledon pertama ini adalah lebih dari sekadar turnamen tenis; itu adalah awal dari sebuah legenda. Dari awal yang sederhana pada 9 Juli 1877, Wimbledon telah berkembang menjadi salah satu dari empat turnamen Grand Slam dan simbol keunggulan dalam tenis. Ini adalah bukti kekuatan warisan olahraga dan bagaimana sebuah ide sederhana dapat berkembang menjadi fenomena global, tetap setia pada akarnya di lapangan rumput hijau yang ikonik.
Apakah Anda tahu bahwa trofi yang dimenangkan Spencer Gore pada tahun 1877 masih ada sampai sekarang, meskipun bukan trofi yang sama yang diangkat oleh juara Wimbledon modern?
(EA/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda