Jakarta – Pada tanggal 11 Desember 1981, sebuah episode yang memilukan ditambahkan ke dalam sejarah olahraga, menandai akhir dari karier profesional petinju yang dianggap terhebat sepanjang masa, Muhammad Ali. Di sebuah arena yang serba kekurangan di Queen Elizabeth Sports Centre di Nassau, Bahama, Ali yang berusia 39 tahun melakoni pertarungan 10 ronde yang dinamai “Drama in Bahama”. Ali menghadapi Trevor Berbick, petinju Kanada-Jamaika yang 13 tahun lebih muda, dan tengah membangun reputasinya di kelas berat. Ini adalah pertarungan terakhir dari seorang legenda, sebuah penutup yang suram yang menunjukkan bahwa karisma dan kemauan yang tak terbatas tidak mampu mengalahkan kerusakan waktu dan usia.
Pertarungan ini tercatat sebagai kekalahan profesional keempat Ali, dan yang paling definitif menunjukkan bahwa petinju “float like a butterfly, sting like a bee” telah lama menghilang, digantikan oleh atlet yang bergerak lambat dan rentan terhadap pukulan.
Kekalahan Holmes dan Dorongan untuk Comeback yang Berisiko
Upaya comeback Ali di Bahama didahului oleh kekalahan brutal dari mantan sparring partner-nya, Larry Holmes, pada Oktober 1980. Saat melawan Holmes, Ali telah menunjukkan tanda-tanda awal kerusakan neurologis, terlihat dari bicaranya yang terseret, namun ia berhasil lolos dari pemeriksaan medis di Nevada. Penampilan melawan Holmes adalah penampilan yang menyedihkan, dan banyak yang merasa Ali seharusnya dihentikan lebih awal untuk melindungi kesehatannya. Setelah kekalahan itu, tekanan publik untuk pensiun sangat besar.
Namun, Ali didorong kembali ke atas ring oleh kombinasi kebutuhan finansial dan ego seorang juara yang tak terpuaskan. Ali percaya ia masih memiliki satu kemenangan besar tersisa dalam dirinya. Motivasi ini, meskipun murni, mengarah pada keputusan yang berisiko.
Baca juga: Larry Holmes: Easton Assassin, Yang Mengakhiri Karier Muhammad Ali
Pertarungan melawan Berbick diselenggarakan oleh promotor kontroversial yang menawarkan bayaran yang menarik (sekitar $250.000 untuk Ali), meskipun jauh di bawah bayaran jutaan dolar yang ia terima di masa kejayaan. Keputusan untuk menggelarnya di Bahama sebagian besar karena kesulitan mendapatkan lisensi di Amerika Serikat dan penawaran tarif pajak yang rendah. Kekacauan logistik yang menyertai acara tersebut—mulai dari pembayaran yang tertunda, kurangnya bel yang berfungsi (digantikan cowbell), hingga minimnya liputan media utama AS—hanya menggarisbawahi betapa jauhnya Ali telah jatuh dari statusnya sebagai “King of the World.”
Analisis Pertarungan: Kecepatan Melawan Kekuatan
Sebelum pertarungan Bahama, kekhawatiran tentang kesehatan Ali sudah mencapai titik kritis. Pemeriksaan medis yang bocor, termasuk hasil tes di Mayo Clinic, menunjukkan bahwa Ali mungkin menderita Parkinsonian syndrome atau kerusakan otak. Namun, demi melanjutkan kariernya, ia mengabaikan semua peringatan. Ia masuk ke atas ring dengan berat badan yang berlebihan (236 pon) dan massa otot yang berkurang, serta respons fisik yang melambat drastis.
Jalannya pertarungan 10 ronde tersebut adalah sebuah tontonan yang membuat para penggemar setia merasa tidak nyaman. Ali mencoba untuk menunjukkan sekilas kehebatan masa lalunya, sesekali melepaskan rentetan pukulan cepat, tetapi pukulan ini tidak memiliki kekuatan atau ketepatan yang dibutuhkan. Kaki-kakinya telah menjadi lambat dan berat, dan kecepatan yang pernah menjadi senjatanya yang paling mematikan telah hilang. Gerakan “rope-a-dope” atau “Ali Shuffle” yang ikonik tidak lagi mampu mengejutkan lawan.
Berbick, seorang petinju yang solid, kuat, dan jauh lebih segar, memanfaatkan dengan cerdik. Ia menjaga jarak dan terus-menerus menekan dengan jab yang efektif. Berbick juga memenangkan pertarungan di dalam (inside fighting), sering memaksa Ali untuk clinch (memeluk lawan), sebuah taktik defensif yang jarang digunakan Ali di masa jayanya. Ali tampak kelelahan saat memasuki ronde-ronde akhir, dan mengambil banyak hukuman dari petinju yang meskipun bukan seorang power puncher, memiliki stamina yang jauh lebih unggul. Para komentator menyebut pertarungan ini sebagai “pertarungan yang seharusnya tidak pernah diizinkan.”
Keputusan dan Warisan yang Abadi
Pertarungan berjalan hingga ronde kesepuluh penuh tanpa ada knockdown. Pada akhirnya, Trevor Berbick dinyatakan sebagai pemenang melalui keputusan mutlak (Unanimous Decision) yang tidak terbantahkan (99–94, 99–94, 97–94). Bagi Berbick, kemenangan ini adalah pencapaian terbesar dalam kariernya, meskipun ia kemudian dikenal lebih karena kekalahannya dari Mike Tyson pada tahun 1986.
Kekalahan ini, yang membuat rekor Ali menjadi 56-5, akhirnya memaksa sang legenda untuk benar-benar gantung sarung tangan. Meskipun pengunduran dirinya tidak diumumkan dengan gembar-gembor media, keputusannya kali ini bersifat final. Sayangnya, trauma kepala berulang yang diderita Ali dalam beberapa tahun terakhir kariernya, termasuk pertarungan di Bahama, berkontribusi besar pada diagnosisnya tak lama setelah pensiun. Pada tahun 1984, Muhammad Ali secara resmi didiagnosis menderita Penyakit Parkinson, sebuah kondisi neurologis progresif.
Meskipun “Drama in Bahama” adalah akhir yang menyedihkan secara atletik—sebuah pertarungan yang seharusnya tidak pernah terjadi—ia tidak mengurangi status Ali sebagai sosok budaya, aktivis, dan petinju revolusioner. Pertarungan terakhir itu menjadi peringatan yang mengharukan tentang harga yang harus dibayar oleh kehebatan fisik dan pengorbanan yang dibuat oleh The Greatest demi meninggalkan warisan yang tak terhapuskan di dunia.
(EA/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda