Carlos Candelario: Kisah “The Cannon” Dari Connecticut

Piter Rudai 04/05/2026 4 min read
Carlos Candelario: Kisah “The Cannon” Dari Connecticut

Jakarta – Di dunia MMA, tidak semua petarung tiba di UFC dengan jalan yang lurus. Ada yang menang terus, lalu dipanggil. Ada yang viral, lalu diberi panggung. Namun ada juga petarung yang harus mengetuk pintu berkali-kali, membuktikan diri lagi dan lagi, bahkan menelan hasil yang tidak ideal sebelum akhirnya benar-benar mendapat kesempatan. Carlos Candelario adalah salah satu nama yang lahir dari jalur seperti itu. Ia adalah petarung asal Amerika Serikat, lahir pada 4 Juni 1991 di Connecticut, dikenal dengan julukan “The Cannon,” dan pernah membangun perjalanannya di divisi flyweight UFC dengan gaya bertarung southpaw serta basis freestyle yang membuatnya cukup fleksibel di berbagai fase pertarungan. Profil ESPN mencatat rekornya saat ini di angka 8 kemenangan dan 3 kekalahan, dengan tinggi 5’8”, reach 68 inci, dan afiliasi tim Underdog BJJ.

Yang membuat kisah Carlos menarik sejak awal adalah kenyataan bahwa ia bukan petarung yang hanya punya satu momen besar. Sebaliknya, kariernya justru dibentuk oleh serangkaian usaha yang panjang, termasuk dua kali tampil di Dana White’s Contender Series. UFC secara resmi menulis bahwa Candelario pertama kali tampil di DWCS pada musim pertama tahun 2017, ketika ia menang unanimous decision atas Ronaldo Candido. Itu adalah langkah awal yang bagus, tetapi belum cukup untuk langsung membawanya ke UFC. Bertahun-tahun kemudian, ia kembali ke Contender Series pada 31 Agustus 2021 di Season 5, Episode 1, dan kali ini kalah split decision dari Victor Altamirano. Namun justru dari situlah cerita Carlos berubah. UFC menulis bahwa Dana White untuk pertama kalinya memberikan kontrak kepada petarung yang kalah di malam itu, dan orang itu adalah Carlos Candelario.

Jalur seperti ini membuat narasi Carlos terasa jauh lebih manusiawi. Ia bukan prospek muda yang datang dengan semua pintu terbuka. Ia harus menunggu, kembali, kalah, lalu tetap cukup meyakinkan untuk akhirnya diberi kepercayaan. Dalam olahraga seperti MMA, itu adalah bentuk validasi yang sangat unik. Artinya, UFC melihat sesuatu pada diri Candelario yang lebih besar daripada sekadar hasil satu malam. Mereka melihat petarung yang layak diuji di panggung utama. Dan untuk atlet yang datang dari regional seperti dirinya, itu adalah pencapaian yang sangat besar.

Secara teknik, Carlos Candelario bukan petarung yang mudah ditempatkan dalam satu kotak sempit. ESPN menuliskan gaya bertarungnya sebagai freestyle, sementara profil biografinya menegaskan stance southpaw. Distribusi rekornya juga memperlihatkan petarung yang cukup komplet: dari 8 kemenangan profesionalnya, 2 diraih lewat KO/TKO, 3 lewat submission, dan 3 lewat keputusan juri. Ini berarti Carlos bukan hanya striker, dan juga bukan grappler murni. Ia punya kemampuan untuk menang di berbagai bentuk pertarungan, sesuatu yang cukup penting di divisi flyweight yang sangat cepat dan teknis. Namun satu detail yang juga penting adalah bahwa satu-satunya penyelesaian kekalahannya datang lewat submission, sementara dua kekalahan lain terjadi lewat keputusan juri. Itu menunjukkan bahwa ia umumnya cukup tangguh untuk bertahan, bahkan saat menghadapi lawan level tinggi.

Sebelum masuk UFC, Carlos lebih dulu membangun reputasinya di sirkuit regional, salah satunya lewat penampilan di CES MMA. ESPN masih menampilkan salah satu hasil pentingnya pada CES MMA 31, ketika ia menang unanimous decision dalam laga utama perebutan gelar melawan Gil de Freitas. Hasil seperti ini penting karena menunjukkan bahwa Candelario bukan petarung yang datang ke UFC tanpa fondasi. Ia sudah terbiasa bertarung dalam laga bertekanan tinggi, termasuk laga titel, sebelum benar-benar menembus panggung terbesar. Untuk petarung flyweight, pengalaman seperti ini sangat membantu karena divisi tersebut sering kali ditentukan oleh detail kecil, stamina, dan ketenangan.

Debut UFC Carlos seharusnya terjadi lebih awal, tetapi jalannya tidak mulus. Ia semula dijadwalkan menghadapi Tatsuro Taira pada 30 April 2022, tetapi pertarungan itu batal dan kemudian dijadwal ulang ke 14 Mei 2022. Hal ini tercermin dalam jadwal UFC Fight Night: Blachowicz vs. Rakic. Saat laga benar-benar terjadi, Candelario menghadapi salah satu prospek paling bersih di divisi flyweight. Ia kalah lewat unanimous decision, sementara Taira tetap menjaga rekor tak terkalahkannya. Meskipun kalah, debut itu tetap penting karena memperlihatkan bahwa Carlos mampu bertahan tiga ronde menghadapi salah satu nama muda paling menjanjikan di divisi tersebut.

Setelah itu, ujian berikutnya datang pada 5 November 2022 saat ia menghadapi Jake Hadley di UFC Fight Night: Rodriguez vs. Lemos. Kali ini, Carlos kalah lewat triangle choke pada ronde kedua, dan Hadley menjadi petarung pertama yang berhasil menyelesaikan Candelario. Detail ini penting, karena menunjukkan bahwa bahkan dalam kekalahan, Carlos tetap cukup tangguh sampai lawan level UFC benar-benar memaksakan penyelesaian yang bersih. Namun hasil tersebut juga membuat situasinya di UFC menjadi sulit, karena dua kekalahan awal jelas menempatkan seorang petarung di posisi yang rentan.

Aspek menarik lain dari Carlos Candelario adalah fakta bahwa ia dua kali tampil di Dana White’s Contender Series, sesuatu yang tidak dimiliki banyak petarung. Salah satu sumber sempat menyorot statistik itu dalam artikel pra-pertarungan UFC on ESPN 58, menyebut bahwa ia adalah two-time Dana White’s Contender Series alum. Ini memberi nuansa tersendiri pada kariernya. Ia bukan sekadar alumni DWCS, tetapi salah satu petarung yang benar-benar harus berulang kali membuktikan diri di jalur tersebut sebelum mendapat tempat. Dalam olahraga tarung, ketekunan seperti ini punya nilai naratif yang sangat kuat.

Pada akhirnya, Carlos Candelario adalah kisah tentang petarung yang tidak mengambil jalan termudah menuju panggung besar. Ia lahir di Connecticut pada 4 Juni 1991, membawa julukan “The Cannon,” bertarung dengan stance southpaw dan gaya freestyle, lalu meniti kariernya lewat kerja keras yang panjang. Ia menang, kalah, kembali, lalu akhirnya sampai ke UFC dengan cara yang tidak biasa. Mungkin kariernya di organisasi itu tidak panjang, tetapi justru karena itulah ceritanya punya warna. Ia adalah contoh bahwa di MMA, satu-satunya cara untuk tetap hidup adalah terus mengetuk pintu sampai ada yang akhirnya terbuka.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...