Jakarta – Di dunia olahraga tarung, ada petarung yang tumbuh lewat rekor rapi dan jalan mulus. Namun ada juga yang justru menjadi menarik karena kariernya dibentuk oleh pertarungan-pertarungan keras, kemenangan yang meledak, kekalahan yang pahit, lalu keberanian untuk kembali berdiri di panggung yang sama. Dionatha Santos Tobias termasuk dalam kelompok kedua itu. Ia adalah petarung asal Brasil yang kini dikenal di panggung ONE Championship, khususnya melalui ajang ONE Friday Fights, dengan identitas sebagai striker Muay Thai yang agresif dan berbahaya. Profil resmi ONE mencatat Dionatha berasal dari Brasil, memiliki tinggi 163 cm, batas berat 117,3 lbs / 53,2 kg, dan saat ini terdaftar dengan tim Sor Dechapan.
Justru dari koreksi itu, kisah Dionatha menjadi lebih menarik. Ia bukan petarung yang bisa dipahami hanya dari angka kemenangan total. Ia adalah atlet yang sedang membangun nama di panggung internasional, dengan jalur yang keras dan sangat nyata. Dari empat hasil resmi yang tercatat di profil ONE, Dionatha sudah pernah menang lewat knockout ronde pertama, menang lewat knockout ronde kedua, kalah lewat knockout ronde pertama, dan kalah lewat unanimous decision. Itu berarti ia bukan petarung satu warna. Ia sudah merasakan kemenangan spektakuler dan kekalahan pahit, sesuatu yang sering kali justru membentuk karakter petarung lebih cepat daripada sekadar rekor panjang yang tampak rapi.
Salah satu bab paling penting dalam kisahnya datang di ONE Friday Fights 17 pada 19 Mei 2023, ketika Dionatha menghadapi Maisangkum Sor Yingcharoenkarnchang. Malam itu tidak berjalan sesuai harapan. Profil resmi ONE mencatat bahwa Dionatha kalah lewat KO ronde pertama pada 1:25, dan sebuah sumber menampilkan hasil yang sama. Bagi petarung yang sedang mencoba membangun pijakan di panggung sebesar ONE Friday Fights, kekalahan cepat seperti itu tentu sangat berat. Tetapi di sisi lain, momen seperti inilah yang sering menjadi guru paling jujur dalam dunia Muay Thai. Ia memaksa seorang petarung melihat dengan jelas seberapa tinggi level kompetisi yang harus dihadapi.
Yang menarik, kekalahan itu tidak menenggelamkan Dionatha. Ia justru kembali dan mulai memperlihatkan sisi lain dari dirinya. Pada ONE Friday Fights 89 tanggal 29 November 2024, ia menghadapi Mahahin dan berhasil menang lewat KO ronde kedua. Profil resmi ONE menuliskan durasi kemenangan itu 2:50 ronde kedua, sementara sumber lain juga menampilkan hasil KO/TKO pada event yang sama. Kemenangan ini sangat penting, karena memperlihatkan bahwa Dionatha tidak hanya sanggup bangkit, tetapi juga mampu membalas rasa pahit dari kekalahan sebelumnya dengan cara yang paling tegas: penyelesaian knockout.
Kemenangan atas Mahahin memberi gambaran yang lebih utuh tentang siapa Dionatha Santos Tobias. Ia bukan petarung yang rapuh setelah sekali jatuh. Ia justru terlihat seperti atlet yang semakin berbahaya ketika diberi kesempatan kedua. Dalam Muay Thai, kualitas seperti ini sangat berharga. Banyak petarung bisa tampil bagus saat segalanya berjalan lancar. Tidak semua mampu bangkit setelah dihentikan cepat. Dionatha menunjukkan bahwa ia memiliki mental untuk kembali, memulihkan diri, lalu membuat pernyataan yang keras.
Momentum itu berlanjut di ONE Friday Fights 101 pada 21 Maret 2025, saat ia menghadapi Kongpoxay LaoLaneXang. Kali ini, Dionatha kembali menang, dan lagi-lagi dengan cara yang sangat meyakinkan: KO ronde pertama pada 2:34 menurut profil resmi ONE. Sebuah sumber bahkan merinci bahwa penyelesaiannya datang lewat pukulan ke tubuh. Dua kemenangan knockout beruntun seperti ini langsung membangun citra yang jelas. Dionatha bukan sekadar petarung Brasil yang mencoba bertahan di ONE. Ia mulai terlihat sebagai striker yang benar-benar punya daya rusak nyata, terutama ketika ritmenya sudah terbentuk sejak awal laga.
Di titik itu, kisah Dionatha mulai terasa berubah. Ia tidak lagi tampak seperti petarung yang sekadar hadir di kartu ONE Friday Fights. Ia mulai menunjukkan bahwa dirinya punya potensi untuk menjadi salah satu nama berbahaya di kelas ringan Muay Thai ONE. Dua kemenangan KO beruntun selalu punya dampak psikologis besar, baik bagi penonton, promotor, maupun calon lawan berikutnya. Mereka memberi pesan bahwa seorang petarung tidak butuh banyak waktu untuk menciptakan masalah serius di atas ring. Dionatha telah mengirim pesan itu.
Namun, seperti banyak petarung lainnya, karier Dionatha tidak berjalan lurus terlalu lama. Pada ONE Friday Fights 113 tanggal 20 Juni 2025, ia menghadapi Sunday Boomdeksean dan kali ini harus menerima kekalahan lewat unanimous decision setelah tiga ronde penuh. Profil resmi ONE dan sumber lain sama-sama mencatat hasil tersebut. Kekalahan angka seperti ini penting secara naratif, karena berbeda dengan kekalahan knockout. Ia menunjukkan bahwa Dionatha tidak hanya diuji oleh lawan yang lebih kuat secara fisik atau lebih cepat, tetapi juga oleh lawan yang mampu mengunggulinya dalam disiplin, ritme, dan efektivitas tiga ronde.
Kekalahan dari Sunday Boomdeksean memberi satu lapisan baru pada kisah Dionatha Santos Tobias. Ia memperlihatkan bahwa dirinya bukan petarung satu dimensi yang hanya hidup dari ledakan KO. Ketika laga harus dibawa penuh sampai juri, ia masih harus terus bertumbuh. Dan justru di situlah daya tariknya. Ia sudah menunjukkan kemampuan untuk menang secara keras, tetapi juga masih memiliki ruang yang jelas untuk berkembang dalam aspek kontrol pertarungan dan konsistensi ronde demi ronde. Untuk petarung yang masih membangun nama di ONE, fase seperti ini sangat penting.
Dari sisi gaya, semua data yang tersedia mendukung gambaran Dionatha sebagai petarung Muay Thai murni dengan kecenderungan sangat agresif. Profil di sumber lain untuk cabang tinju/Muay Thai menempatkannya dengan foundation style: Muay Thai, dan seluruh hasil yang tercatat di ONE juga semuanya datang dalam format Muay Thai. Ini berarti identitas utamanya sangat jelas: ia adalah striker yang hidup di atas kaki, mengandalkan timing, tekanan, dan pukulan yang bisa merusak lawan sejak ronde pertama. Walau data resmi yang saya temukan tidak mencantumkan stance secara spesifik, pola kemenangannya menunjukkan petarung yang sangat nyaman mengambil risiko untuk mencari penyelesaian.
Aspek lain yang menarik adalah soal afiliasi timnya. Profil resmi ONE saat ini menuliskan Sor Dechapan, sementara sumber lain mencatat Marrok Gym. Perbedaan seperti ini cukup sering terjadi pada petarung yang aktif bertarung di Thailand, karena mereka bisa berpindah kamp latihan atau terhubung dengan lebih dari satu lingkungan latihan. Yang paling aman untuk konteks terbaru adalah bahwa sumber resmi ONE kini mengaitkannya dengan Sor Dechapan, sementara sumber pendukung publik menunjukkan bahwa ia juga pernah dikaitkan dengan Marrok Gym.
Kalau berbicara soal prestasi, mungkin Dionatha Santos Tobias belum memegang sabuk besar atau status bintang utama di ONE Championship. Namun fondasinya sudah cukup kuat untuk dihargai. Ia telah mencatat dua kemenangan KO resmi di ONE Friday Fights, satu di ronde pertama dan satu di ronde kedua, dan keduanya memperlihatkan bahwa ia punya daya rusak yang nyata. Ia juga sudah merasakan dua jenis kekalahan berbeda—KO cepat dan keputusan juri—yang membuat pengalamannya di level ini terasa lengkap untuk ukuran fase karier yang masih berkembang.
Pada akhirnya, Dionatha Santos Tobias adalah kisah tentang petarung Brasil yang sedang ditempa oleh kerasnya panggung nyata. Ia datang ke ONE bukan sebagai nama mapan, melainkan sebagai atlet yang harus membuktikan dirinya setiap kali naik ring. Ia sudah kalah cepat, bangkit lewat knockout, membangun momentum, lalu kembali diuji oleh pertarungan yang berjalan penuh tiga ronde. Dan justru karena jalannya tidak mulus, kisahnya terasa lebih hidup. Dalam olahraga seperti Muay Thai, petarung seperti inilah yang sering paling menarik untuk diikuti, karena mereka masih terus berubah, masih terus belajar, dan masih bisa mengejutkan siapa saja pada malam berikutnya.
(PR/timKB).
Sumber foto: onefc.com
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda