Jakarta – Di dunia seni bela diri campuran, ada petarung yang dikenal karena rekor rapi, ada yang menonjol karena kekuatan pukulan, dan ada pula yang menarik perhatian karena mereka datang dari latar tradisi tarung yang sangat khas. Zelang Zhaxi termasuk dalam kategori terakhir itu. Ia adalah petarung asal Tiongkok yang lahir pada 1 Juli 1998, dan dalam beberapa tahun terakhir mulai dikenal di panggung ONE Championship.
Yang membuat Zelang Zhaxi menarik adalah bahwa ia tidak datang ke ONE sebagai talenta mentah. Ia datang dengan pengalaman yang sudah sangat tebal. Sumber lain menempatkannya bertarung dari Chengdu, Sichuan, China, dan mencatat bahwa ia aktif di kelas flyweight dalam beberapa penampilan terakhirnya. Ini berarti, sebelum masuk ke ONE, Zhaxi sudah lebih dulu membangun dirinya di sirkuit regional Tiongkok, melawan banyak lawan, mengumpulkan kemenangan, dan menempuh jalur panjang yang jauh dari instan. Dalam konteks MMA Asia, jalur seperti ini sangat penting karena menunjukkan bahwa ia adalah petarung yang benar-benar dibentuk oleh pengalaman bertarung, bukan sekadar prospek yang baru muncul.
Salah satu momen besar dalam kariernya datang saat ia akhirnya masuk ke ONE Championship. Artikel resmi ONE pada Juli 2022 secara khusus menyorot duel debutnya melawan Danial Williams dan menulis bahwa Zelang Zhaxi ingin membuktikan dirinya layak berada di panggung global. Artikel itu juga menggambarkan dirinya sebagai petarung yang siap bertukar serangan, yang memberi kesan bahwa ia datang ke organisasi itu dengan mentalitas menyerang, bukan untuk bermain aman. Bagi petarung dari Tiongkok, debut di ONE selalu punya bobot tersendiri karena organisasi ini adalah salah satu panggung terbesar di Asia.
Namun debut besar itu tidak berjalan manis. Pada ONE 159 tanggal 22 Juli 2022, Zelang Zhaxi kalah dari Danial Williams lewat KO ronde pertama pada 4:20. Artikel hasil resmi ONE menuliskan bahwa Danial Williams menjatuhkan Zelang dengan pukulan kanan yang keras, dan hasil itu sekaligus memberi bonus performa untuk lawannya. Kekalahan ini penting karena memperlihatkan bahwa level ONE memang sangat berbeda dari sirkuit regional. Seorang petarung bisa datang dengan percaya diri, tetapi satu lawan yang lebih tajam dan lebih matang bisa langsung memberi pelajaran yang sangat keras.
Kekalahan dari Danial Williams memberi lapisan penting pada kisah Zelang Zhaxi. Ia menunjukkan bahwa Zhaxi bukan petarung yang hidup dalam dunia yang terlalu rapi. Ia harus menghadapi realitas keras panggung global lebih cepat dari banyak orang. Namun justru di situlah daya tariknya. Petarung yang menarik bukan hanya mereka yang selalu menang, tetapi mereka yang tetap relevan dan tetap berbahaya setelah merasakan jatuh. Dalam MMA, pengalaman seperti ini sering menjadi titik pembentukan yang sangat penting.
Sayangnya, jalan Zhaxi di ONE kembali diuji pada 24 Februari 2023, saat ia menghadapi Adrian Mattheis di ONE Fight Night 7. Sumber lain mencatat hasilnya sebagai kekalahan TKO ronde kedua pada 0:57, dan profil Adrian Mattheis juga menampilkan hasil yang sama. Kekalahan beruntun di panggung besar seperti ini tentu berat, apalagi untuk petarung yang sebelumnya sudah menempuh jalur panjang di regional. Tetapi justru dua kekalahan ini memperlihatkan sesuatu yang penting: ONE tidak memberi ruang untuk setengah siap, dan Zhaxi harus belajar dengan cara yang paling keras.
Yang membuat kisah Zelang Zhaxi tetap layak diikuti adalah fakta bahwa kariernya tidak berhenti di sana. Sumber lain mencatat bahwa pada 9 November 2024, ia berhasil menang atas Ryota Nakashima lewat submission guillotine choke hanya dalam 30 detik ronde kedua di ajang Dragon FC – Longsan Fight. Hasil ini penting karena memperlihatkan bahwa meskipun citranya banyak dibaca sebagai striker, ia tetap punya kemampuan menyelesaikan pertarungan di matras. Jadi, sekalipun artikel resmi ONE lebih menyorot keberaniannya untuk bertukar serangan, rekam jejak profesionalnya menunjukkan bahwa ia bukan petarung satu dimensi.
Aspek lain yang menarik adalah afiliasi timnya. Data resmi ONE menuliskannya sebagai Enbo Gedou. Enbo adalah nama yang cukup dikenal dalam lanskap MMA Tiongkok. Fakta bahwa ONE menuliskan tim ini secara resmi memberi gambaran bahwa Zhaxi datang dari lingkungan latihan yang serius, sesuatu yang sangat penting untuk petarung yang ingin bertahan di level Asia elite.
Dari sisi gaya bertarung, meski saya tidak menemukan halaman resmi yang secara eksplisit menyebut Sanda/Wushu sebagai fondasinya, deskripsi cukup masuk akal bila dilihat dari konteks petarung Tiongkok dan caranya dipromosikan sebagai striker yang mau bertukar. Dalam praktiknya, Zhaxi tampak seperti petarung yang nyaman bertarung di atas kaki, agresif, dan tidak takut masuk ke wilayah berbahaya. Tetapi rekornya yang panjang juga menunjukkan bahwa ia punya lapisan lain, termasuk submission, sehingga lebih tepat melihatnya sebagai petarung MMA komplet dengan kecenderungan striking yang kuat.
Kalau berbicara soal prestasi, mungkin Zelang Zhaxi belum punya kemenangan di ONE Championship. Namun kariernya tetap punya bobot. Ia membawa rekor panjang 21-10-1, pernah masuk ke panggung global ONE, dan tetap aktif bertarung sesudah dua kekalahan awalnya di organisasi tersebut. Untuk banyak petarung regional, sampai ke titik itu sendiri sudah merupakan pencapaian yang tidak kecil. Ia bukan petarung yang berhenti setelah dua kegagalan. Ia tetap melangkah, tetap bertarung, dan tetap membangun namanya.
Pada akhirnya, Zelang Zhaxi adalah kisah tentang petarung Tiongkok yang datang ke panggung besar dengan keberanian untuk berdiri di depan lawan dan bertarung apa adanya. Ia adalah petarung berpengalaman dari Tiongkok, berjuluk “Lil’ Gun,” dibentuk oleh banyak pertarungan, diuji keras di ONE, dan tetap relevan karena menolak berhenti setelah jatuh. Dalam dunia MMA, itu adalah jenis kisah yang selalu layak untuk diikuti.
(PR/timKB).
Sumber foto: onefc.com
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda