Jakarta – Di tengah kerasnya persaingan divisi middleweight UFC, Anthony Hernandez menjadi salah satu nama yang berkembang paling pesat dalam beberapa tahun terakhir. Petarung asal Amerika Serikat yang akrab disapa “Fluffy” ini membuktikan bahwa kerja keras, ketahanan mental, dan kemampuan submission kelas tinggi mampu mengantarkannya menjadi salah satu penantang serius gelar juara. Berbekal gaya bertarung grappling yang agresif, Hernandez tidak hanya dikenal sebagai pemburu submission, tetapi juga sebagai petarung yang mampu mematahkan dominasi lawan melalui tekanan tanpa henti selama tiga maupun lima ronde.
Anthony Hernandez lahir pada 18 Oktober 1993 di California, Amerika Serikat. Dengan tinggi sekitar 183 sentimeter dan berat bertanding 84 kilogram, ia berkompetisi di divisi Middleweight UFC. Julukan “Fluffy” yang melekat padanya berasal dari masa mudanya dan justru menjadi identitas unik di dunia MMA yang dipenuhi julukan garang. Di balik nama yang terdengar santai tersebut, Hernandez merupakan petarung dengan etos kerja tinggi dan kemampuan grappling yang sangat berbahaya. Ia berlatih di MMA Gold Fight Team di California serta mengembangkan kemampuan bela dirinya melalui Marinoble’s Martial Arts, tempat ia memperoleh sabuk hitam dalam sistem bela diri Marinoble’s MMA System. Selain itu, ia juga memiliki sabuk cokelat Brazilian Jiu-Jitsu, yang menjadi fondasi utama permainannya.
Ketertarikan Hernandez terhadap seni bela diri muncul sejak usia muda. Tumbuh di lingkungan yang cukup keras membuatnya mencari aktivitas positif yang mampu membangun disiplin sekaligus rasa percaya diri. Awalnya ia mempelajari berbagai teknik bela diri untuk menjaga kebugaran, tetapi perlahan mulai tertarik pada MMA karena olahraga tersebut menggabungkan seluruh aspek pertarungan, mulai dari striking, wrestling, hingga submission. Semangat kompetitif yang dimilikinya membuat ia memutuskan menekuni MMA secara serius dan mengejar karier profesional.
Perjalanan profesional Hernandez dimulai pada pertengahan dekade 2010-an di berbagai organisasi regional Amerika Serikat. Bertarung di ajang-ajang seperti Legacy Fighting Alliance (LFA), ia menunjukkan kemampuan grappling yang menonjol dan sukses merebut gelar juara middleweight organisasi tersebut. Prestasi di LFA membuat namanya mulai diperhatikan pencari bakat UFC. Dengan gaya bertarung yang agresif dan kemampuan menyelesaikan pertandingan sebelum waktu habis, Hernandez dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang di panggung terbesar MMA dunia.
Kesempatan memasuki UFC datang pada 2019. Debutnya berlangsung melawan Markus Perez, namun ia harus menerima kekalahan melalui submission. Hasil tersebut menjadi pelajaran penting dalam kariernya. Alih-alih kehilangan motivasi, Hernandez justru melakukan evaluasi menyeluruh terhadap permainannya. Ia memperbaiki aspek pertahanan, meningkatkan kualitas striking, dan memperkuat kondisi fisik agar mampu mempertahankan tekanan tinggi sepanjang pertandingan.
Momentum kebangkitannya hadir pada Februari 2021 ketika menghadapi spesialis Brazilian Jiu-Jitsu asal Brasil, Rodolfo Vieira. Banyak pengamat menjagokan Vieira karena reputasinya sebagai juara dunia BJJ, tetapi Hernandez tampil luar biasa. Setelah mampu bertahan dari ancaman submission lawannya, ia justru membalikkan keadaan dan memenangkan pertarungan melalui guillotine choke pada ronde kedua. Kemenangan sensasional tersebut langsung mengangkat namanya sebagai salah satu grappler paling berbahaya di divisi middleweight sekaligus memberinya bonus Performance of the Night.
Sejak saat itu, karier Hernandez terus menanjak. Ia meraih kemenangan beruntun atas sejumlah petarung tangguh seperti Josh Fremd, Marc-André Barriault, Edmen Shahbazyan, Roman Kopylov, Michel Pereira, Brendan Allen, hingga Roman Dolidze. Setiap kemenangan memperlihatkan perkembangan permainannya. Jika sebelumnya ia hanya dikenal sebagai spesialis submission, kini Hernandez mampu mengombinasikan tekanan striking, clinch, wrestling, dan ground control menjadi satu paket yang sangat efektif. Lawan-lawannya kerap dipaksa bertarung dengan tempo tinggi hingga kehabisan tenaga sebelum akhirnya menyerah melalui submission atau kalah angka.
Salah satu kekuatan terbesar Hernandez adalah kemampuan membaca transisi pertarungan. Ia tidak terburu-buru mencari penyelesaian, melainkan membangun tekanan secara sistematis. Saat lawan mulai kehilangan keseimbangan atau melakukan kesalahan kecil, Hernandez segera memanfaatkannya untuk mengamankan posisi dominan. Teknik favoritnya antara lain anaconda choke, guillotine choke, rear-naked choke, serta berbagai variasi kontrol atas yang membuat lawan sulit meloloskan diri. Sebagian besar kemenangan profesionalnya memang lahir melalui submission, menunjukkan identitasnya sebagai submission hunter sejati.
Performa impresif tersebut mengantarkannya masuk jajaran elite divisi middleweight. Hingga pertengahan 2026, Hernandez telah mengoleksi 15 kemenangan, 3 kekalahan, dan 1 no contest dalam karier profesionalnya. Dari total kemenangan itu, mayoritas diraih melalui submission, sementara sisanya berasal dari knockout maupun keputusan juri. Ia juga telah beberapa kali menerima bonus Performance of the Night, penghargaan yang diberikan kepada petarung dengan penampilan terbaik dalam satu ajang UFC.
Meski sedang berada di puncak performa, perjalanan Hernandez tetap diwarnai tantangan. Pada Februari 2026, rentetan kemenangan panjangnya terhenti setelah kalah dari Sean Strickland dalam laga yang menjadi ujian besar menuju perebutan gelar. Kekalahan tersebut tidak menghapus pencapaiannya, tetapi justru memperlihatkan bahwa ia masih memiliki ruang untuk berkembang, terutama dalam menghadapi striker elite dengan pertahanan takedown yang solid.
Di luar arena, Hernandez dikenal sebagai pribadi yang rendah hati dan pekerja keras. Filosofi bertarungnya sederhana, yakni tidak pernah menyerah dalam posisi apa pun. Ia percaya bahwa tekanan yang konsisten akan memaksa lawan melakukan kesalahan. Karena itulah, sesi latihannya di MMA Gold selalu menitikberatkan pada kebugaran, drilling submission, wrestling, serta simulasi pertandingan dengan intensitas tinggi. Baginya, kemenangan tidak hanya ditentukan oleh bakat, tetapi juga oleh kesiapan fisik dan mental yang dibangun setiap hari.
Kini Anthony Hernandez menempati peringkat tujuh divisi middleweight UFC dan terus berada dalam jalur menuju perebutan gelar juara. Dengan usia yang masih berada pada masa emas seorang petarung, kemampuan grappling kelas dunia, serta mentalitas pantang menyerah, “Fluffy” telah menjelma menjadi salah satu ancaman terbesar di divisi middleweight. Bila mampu mempertahankan konsistensinya dan terus menyempurnakan kemampuan striking, bukan tidak mungkin Anthony Hernandez akan segera mendapatkan kesempatan bertarung memperebutkan sabuk juara UFC.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda