Jakarta – Di divisi middleweight UFC yang dihuni para petarung komplet, nama Gregory Rodrigues menjadi salah satu sosok yang selalu menghadirkan pertarungan spektakuler. Dijuluki “Robocop”, petarung asal Brasil ini dikenal berkat kombinasi kekuatan pukulan, daya tahan fisik, dan kemampuan Brazilian Jiu-Jitsu yang membuatnya menjadi ancaman di segala situasi. Setiap kali memasuki oktagon, Rodrigues tampil dengan gaya menyerang tanpa ragu, menjadikannya salah satu petarung paling menghibur di divisinya.
Gregory Rodrigues lahir pada 17 Februari 1992 di Porto Velho, Rondônia, Brasil. Ia memiliki tinggi sekitar 191 sentimeter dengan berat bertanding 84 kilogram, sesuai batas divisi middleweight UFC. Sejak muda, Rodrigues tumbuh di lingkungan sederhana yang membentuk karakter pekerja keras dan pantang menyerah. Julukan “Robocop” muncul karena gaya bertarungnya yang keras, agresif, dan seolah tidak pernah berhenti maju meski menerima serangan dari lawan.
Perkenalan Rodrigues dengan dunia bela diri dimulai melalui Brazilian Jiu-Jitsu (BJJ). Di Brasil, olahraga ini memang menjadi salah satu disiplin bela diri paling populer, dan Rodrigues menunjukkan bakat luar biasa sejak masih remaja. Ia berkembang menjadi atlet BJJ berprestasi dan akhirnya berhasil meraih sabuk hitam Brazilian Jiu-Jitsu. Sebelum benar-benar fokus ke MMA, Rodrigues telah mengikuti berbagai kejuaraan grappling internasional dan mencatat prestasi yang membuat namanya mulai dikenal di komunitas BJJ dunia.
Keberhasilan di dunia grappling membuat Rodrigues tertarik menjajal mixed martial arts. Ia menyadari bahwa kemampuan submission yang dimilikinya dapat menjadi modal besar jika dipadukan dengan striking yang baik. Karena itu, ia mulai mempelajari tinju, Muay Thai, wrestling, dan berbagai aspek MMA lainnya. Perpaduan tersebut perlahan mengubahnya dari spesialis ground game menjadi petarung komplet yang mampu mengakhiri pertandingan baik di atas maupun di bawah.
Karier profesional Rodrigues dimulai di berbagai organisasi MMA Brasil sebelum berkompetisi di ajang internasional seperti Legacy Fighting Alliance (LFA) dan Dana White’s Contender Series. Meskipun sempat gagal mendapatkan kontrak UFC pada kesempatan pertamanya di Contender Series tahun 2020 setelah kalah dari Jordan Williams, Rodrigues tidak menyerah. Ia kembali bertanding di LFA dan membuktikan kualitasnya hingga akhirnya mendapat kesempatan kedua dari UFC.
Debut resmi Rodrigues di UFC berlangsung pada Juni 2021 saat menghadapi Duško Todorović. Penampilannya langsung mencuri perhatian karena berhasil memenangkan pertarungan melalui keputusan mutlak setelah memperlihatkan striking agresif dan kontrol grappling yang solid. Kemenangan tersebut menjadi awal perjalanan yang menjanjikan di organisasi MMA terbesar dunia.
Sejak bergabung dengan UFC, Rodrigues terus berkembang sebagai salah satu petarung paling berbahaya di divisi middleweight. Ia meraih kemenangan penting atas Jun Yong Park, Julian Marquez, Chidi Njokuani, Denis Tiuliulin, dan Brad Tavares. Pertarungannya hampir selalu berlangsung menarik karena ia tidak pernah ragu bertukar pukulan maupun membawa lawan ke bawah. Kemampuan menyelesaikan pertandingan membuatnya beberapa kali memperoleh bonus Performance of the Night, penghargaan yang diberikan kepada petarung dengan penampilan terbaik dalam satu ajang.
Salah satu kemenangan paling berkesan diraihnya ketika menghadapi Brad Tavares pada UFC 283 di Brasil. Bertarung di depan publik sendiri, Rodrigues tampil luar biasa dan berhasil menghentikan Tavares melalui TKO. Kemenangan tersebut semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu middleweight yang layak diperhitungkan.
Rodrigues juga menghadapi sejumlah lawan elite seperti Jack Hermansson, Christian Leroy Duncan, Roman Kopylov, dan Brunno Ferreira. Tidak semua pertarungan berakhir sesuai harapannya, tetapi setiap penampilan selalu menunjukkan semangat bertarung tinggi. Ia dikenal tidak pernah memilih jalan aman. Bahkan ketika berada dalam posisi tertekan, Rodrigues tetap berusaha mencari peluang untuk membalikkan keadaan melalui pukulan keras ataupun submission.
Hingga pertengahan 2026, Rodrigues membukukan rekor profesional 19 kemenangan dan 6 kekalahan. Dari 19 kemenangan tersebut, 12 diraih melalui KO/TKO, 3 melalui submission, dan 4 melalui keputusan juri. Statistik tersebut menunjukkan bagaimana ia berkembang dari seorang spesialis Brazilian Jiu-Jitsu menjadi striker yang sangat berbahaya. Meski demikian, kemampuan grappling-nya tetap menjadi salah satu senjata utama ketika menghadapi lawan dengan striking lebih baik.
Saat ini Rodrigues menjalani sebagian besar pemusatan latihannya di Kill Cliff FC di Florida, Amerika Serikat. Gym tersebut dikenal sebagai tempat berkumpulnya banyak petarung elite UFC. Bersama tim pelatih dan rekan latihan berkualitas tinggi, ia terus menyempurnakan kemampuan tinju, Muay Thai, wrestling, serta transisi menuju ground game. Pendekatan latihan modern membuatnya menjadi petarung yang semakin lengkap dari tahun ke tahun.
Filosofi bertarung Rodrigues sangat sederhana: terus maju dan memberikan tekanan. Ia percaya bahwa agresivitas yang terkontrol mampu memaksa lawan melakukan kesalahan. Karena itu, ia hampir selalu memulai pertandingan dengan tempo tinggi. Namun di balik gaya menyerangnya, Rodrigues memiliki kecerdasan dalam membaca momentum. Ketika melihat peluang untuk melakukan takedown atau mengunci submission, ia mampu beralih dari striker menjadi grappler dalam hitungan detik.
Mentalitas tersebut terbentuk dari perjalanan hidupnya yang penuh tantangan. Berasal dari keluarga sederhana di Brasil membuat Rodrigues memahami bahwa tidak ada keberhasilan yang diraih tanpa kerja keras. Ia menjadikan setiap kekalahan sebagai bahan evaluasi, bukan alasan untuk berhenti berkembang. Sikap profesional itu pula yang membuatnya tetap konsisten berada di jajaran petarung papan atas middleweight UFC.
Memasuki tahun 2026, Gregory Rodrigues berada di peringkat 9 divisi middleweight UFC, menjadikannya salah satu kandidat kuat penantang gelar di masa depan. Dengan kombinasi kekuatan knockout, kemampuan Brazilian Jiu-Jitsu tingkat tinggi, pengalaman menghadapi lawan elite, serta mental bertarung yang pantang mundur, “Robocop” terus menjadi salah satu nama yang paling menarik untuk disaksikan setiap kali memasuki oktagon. Jika mampu menjaga konsistensi dan terus berkembang, bukan tidak mungkin Rodrigues akan memperoleh kesempatan bertarung memperebutkan sabuk juara middleweight UFC dalam beberapa tahun mendatang.
(PR/timKB)
Sumber foto: google