Dominasi Klub Afrika Utara Di Liga Champions Afrika

Yahya Pahlevy 12/08/2026 3 min read
Dominasi Klub Afrika Utara Di Liga Champions Afrika

Jakarta – Liga Champions Afrika, yang kini dikenal sebagai CAF Champions League, merupakan panggung tertinggi sepak bola antarklub di benua Afrika. Kompetisi ini pertama kali digelar pada 1964 dengan nama African Cup of Champions Clubs sebelum berganti menjadi CAF Champions League pada 1997. Selama lebih dari enam dekade, turnamen ini telah melahirkan banyak raksasa, tetapi hanya beberapa klub yang mampu membangun dominasi dalam jangka panjang.

Di posisi teratas terdapat Al Ahly dari Mesir. Klub asal Kairo tersebut adalah pemegang rekor dengan 12 gelar CAF Champions League. Gelar pertama mereka diraih pada 1982, sementara trofi ke-12 datang pada 2024 setelah mengalahkan Espérance de Tunis di final. Menurut CAF, Al Ahly bahkan memenangi empat dari lima edisi dalam periode tersebut, memperlihatkan betapa dominannya mereka di era modern.

Jarak Al Ahly dengan pesaing terdekatnya juga cukup mencolok. Zamalek dan TP Mazembe sama-sama telah mengoleksi lima gelar. Zamalek, yang juga berasal dari Mesir, meraih trofi pada 1984, 1986, 1993, 1996 dan 2002. Sementara itu, TP Mazembe dari Republik Demokratik Kongo menjadi juara pada 1967, 1968, 2009, 2010 dan 2015.

Di bawah tiga besar terdapat Espérance de Tunis dari Tunisia dengan empat gelar. Klub ini berjaya pada 1994, 2011, 2018 dan 2019. Espérance bahkan pernah mempertahankan gelar selama dua musim berturut-turut dan menjadi salah satu kekuatan paling konsisten dari Afrika Utara. Mereka juga beberapa kali berhadapan dengan Al Ahly di partai final, termasuk final 2012 dan 2018.

Raja Casablanca dari Maroko berada berikutnya dengan tiga gelar. Klub berjuluk The Green Eagles tersebut menjadi juara pada 1989, 1997 dan 1999. Setelahnya terdapat sejumlah klub yang masing-masing memiliki dua gelar, yaitu Hafia dari Guinea, Canon Yaoundé dari Kamerun, JS Kabylie dari Aljazair dan Enyimba dari Nigeria. Enyimba bahkan mencatat sejarah dengan menjadi juara dua kali berturut-turut pada 2003 dan 2004.

Menariknya, dominasi kompetisi ini mengalami perubahan dari masa ke masa. Pada periode awal, klub-klub Afrika sub-Sahara seperti TP Mazembe, Hafia, Canon Yaoundé dan Asante Kotoko memainkan peran besar. Namun sejak akhir 1970-an hingga era modern, klub-klub Afrika Utara semakin mendominasi. CAF mencatat bahwa sejak 1997, klub dari Mesir, Maroko, Aljazair dan Tunisia telah memenangkan sebagian besar edisi kompetisi.

Era modern semakin memperkuat dominasi Al Ahly. Selain memiliki 12 gelar, klub Mesir tersebut juga telah tampil dalam begitu banyak final sehingga pengalaman mereka di kompetisi kontinental menjadi salah satu keunggulan terbesar. Pada 2025, sejarah kembali mencatat juara baru ketika Pyramids FC mengalahkan Mamelodi Sundowns dan meraih gelar pertamanya. Pyramids menjadi klub Mesir keempat yang berhasil memenangkan kompetisi setelah Al Ahly, Zamalek dan Ismaily.

Dengan 12 trofi, Al Ahly masih berdiri jauh di atas klub-klub lainnya dalam daftar juara Liga Champions Afrika. Zamalek dan TP Mazembe masing-masing memiliki lima gelar, disusul Espérance dengan empat dan Raja Casablanca dengan tiga. Rekor tersebut membuat Al Ahly bukan hanya klub tersukses di kompetisi ini, tetapi juga salah satu klub paling sukses dalam sejarah sepak bola antarklub dunia. Selama dominasi mereka belum terhenti, mengejar catatan 12 gelar tersebut akan menjadi tantangan besar bagi generasi klub Afrika berikutnya.

Daftar Klub dengan Gelar Liga Champions Afrika Terbanyak

  1. Al Ahly (Mesir) 12 kali
  2. Zamalek (Mesir) 5 kali
  3. TP Mazembe (RD Kongo) 5 kali
  4. Espérance de Tunis (Tunisia) 4 kali
  5. Raja Casablanca( (Maroko) 3 kali

(Yp/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...