Kongsuk Sitsarawatsuer: Sang “Muay Femur”

Piter Rudai 18/08/2026 4 min read
Kongsuk Sitsarawatsuer: Sang “Muay Femur”

Jakarta – Di dunia Muay Thai Thailand, perjalanan menuju level elite hampir selalu dimulai jauh sebelum seorang petarung dikenal publik. Begitu pula dengan Kongsuk Sitsarawatsuer, petarung asal Nakhon Ratchasima yang kini menjadi salah satu veteran paling berpengalaman di panggung ONE Championship. Lahir pada 22 Juni 2000, Kongsuk berusia 26 tahun pada 2026. Ia bertarung dengan gaya southpaw, memiliki tinggi sekitar 170 cm, dan dikenal sebagai seorang Muay Femur—tipe petarung yang mengandalkan kecerdasan, timing, teknik, serta kemampuan membaca lawan. Ia kini bernaung di Fairtex Training Center di Bangkok.

Kisah Kongsuk dengan Muay Thai bermula sangat dini. ONE Championship mencatat bahwa kakeknya memperkenalkannya kepada Muay Thai ketika berusia 10 tahun. Pertandingan pertamanya berakhir dengan kekalahan, tetapi pengalaman tersebut justru menjadi pemantik ambisinya. Alih-alih mundur, Kongsuk menjadikan kekalahan itu sebagai alasan untuk berlatih lebih keras. Dari seorang anak yang baru mengenal ring, ia berkembang menjadi petarung profesional yang kemudian menghabiskan bertahun-tahun berkompetisi di arena-arena paling bergengsi Thailand.

Perkembangannya berlangsung cepat. Kongsuk akhirnya menaklukkan level kompetisi domestik dan mencatat sejumlah pencapaian besar sebelum memasuki ONE. Ia menjadi juara Thailand dua kali, juara Lumpinee Stadium dua kali, serta pernah menjadi juara Channel 7 Stadium. Pada 2018, ia bahkan dinobatkan sebagai Lumpinee Stadium Fighter of the Year, penghargaan yang menunjukkan bahwa namanya sudah diperhitungkan di antara petarung terbaik generasinya. Catatan sejarahnya juga menunjukkan bahwa ia merebut gelar Lumpinee kelas bantamweight pada 2018 dan super bantamweight pada 2019.

Pintu menuju panggung internasional kemudian terbuka melalui ONE Championship. Debutnya di ONE Friday Fights terjadi pada 16 Juni 2023, ketika ia menghadapi Paidaeng Kiatsongrit di ONE Friday Fights 21 dan menang melalui keputusan. Kemenangan tersebut menjadi awal perjalanan panjangnya di Lumpinee Stadium bersama ONE. Enam kemenangan pertamanya di rangkaian ONE Friday Fights seluruhnya diperoleh melalui keputusan juri, menggambarkan karakter awalnya yang sangat berhitung dan cenderung mengurangi risiko. Ia bukan petarung yang terburu-buru mencari knockout; ia lebih suka mengumpulkan poin melalui teknik, kontrol jarak, dan konsistensi.

Salah satu periode penting terjadi pada 2023–2024. Kongsuk mengalahkan Paidaeng Kiatsongrit, Jawsuayai Sor.Dechaphan, dan kemudian menghadapi Dedduanglek Tded99, yang mengalahkannya melalui keputusan mutlak pada September 2023. Dua bulan kemudian ia kembali mengalami kekalahan, kali ini dari Pettonglor Sitluangpeenumfon melalui keputusan split. Namun Kongsuk menunjukkan ketahanan mental dengan bangkit dan mencatat kemenangan atas Phetsukumvit Boybangna pada Februari 2024 serta Joachim Ouraghi pada Juli tahun yang sama. Di sisi lain, laga melawan Muangthai PK Saenchai pada ONE Friday Fights 84 menjadi salah satu kekalahan paling berat ketika ia dihentikan hanya 14 detik memasuki ronde ketiga.

Yang menarik dari Kongsuk adalah evolusi gaya bertarungnya. Sebagai southpaw dan Muay Femur, ia memiliki kemampuan mengontrol jarak dengan footwork yang tajam serta tendangan kiri ke tubuh yang menjadi salah satu senjata khasnya. ONE menyebut kombinasi left body kick dan pergerakan kakinya sebagai bagian dari keunggulan teknisnya. Ia dapat menangkap tendangan lawan, membalas dengan serangan tubuh, lalu mengubah tempo ketika lawan mulai kehilangan keseimbangan. Pendekatan ini membutuhkan kesabaran dan disiplin tinggi karena setiap serangan harus dipilih berdasarkan situasi, bukan sekadar volume.

Namun, memasuki 2026, Kongsuk mulai memperlihatkan sisi yang berbeda. Ia menyadari bahwa gaya yang terlalu berhati-hati dapat membuatnya kehilangan peluang dalam pertandingan yang sangat ketat. Karena itu, ia mengubah mentalitasnya menjadi lebih agresif. Perubahan tersebut terlihat ketika ia menghadapi Babak Solouki di ONE Friday Fights 146 pada Maret 2026. Kongsuk mencetak kemenangan KO, yang menjadi kemenangan penghentian pertamanya setelah sekitar tiga tahun sekaligus memberinya bonus penampilan. Keberhasilan itu memperkuat keyakinannya bahwa teknik yang selama ini menjadi fondasinya dapat dipadukan dengan agresivitas yang lebih besar.

Puncak perubahan itu terlihat pada 29 Mei 2026, ketika Kongsuk menghadapi petarung Uzbekistan Khakimov Anisjon dalam partai utama ONE Friday Fights 156. Ia secara sistematis menyerang tubuh lawan dengan pukulan dan tendangan, menangkap beberapa tendangan Anisjon, lalu terus menggerogoti area yang sama. Pada ronde ketiga, tendangan kiri keras ke tubuh menghasilkan knockdown pertama. Setelah lawannya kembali berdiri, Kongsuk melanjutkan serangan tubuh hingga menghasilkan knockdown kedua dan penghentian pada menit 2:17. Kemenangan itu membuat rekor kariernya menjadi 70-21 dan memberinya dua kemenangan KO beruntun.

Catatan tersebut sekaligus menunjukkan mengapa angka 69 kemenangan dan 21 kekalahan yang sering muncul dalam profilnya perlu diperbarui. Setelah kemenangan atas Anisjon, ONE secara resmi mencatat rekor keseluruhannya menjadi 70-21. Rekor ONE-nya sendiri tercatat 8 kemenangan dan 4 kekalahan, dengan dua kemenangan melalui KO, lima melalui keputusan mutlak, dan satu melalui keputusan split. Ia tidak memiliki kemenangan submission karena seluruh kariernya dibangun dalam disiplin striking Muay Thai, bukan MMA.

Pada akhirnya, Kongsuk adalah gambaran menarik tentang bagaimana seorang petarung berpengalaman dapat terus berevolusi. Dari anak berusia 10 tahun yang kalah dalam pertandingan pertamanya, ia tumbuh menjadi juara di Lumpinee, juara Thailand, Fighter of the Year, dan kemudian veteran yang mampu bersaing di panggung global. Filosofinya kini tampak semakin lengkap: tetap menggunakan kecerdasan dan presisi seorang Muay Femur, tetapi dengan keberanian untuk mengambil risiko dan mengejar penyelesaian. Di usia 26 tahun, perjalanan Kongsuk belum menunjukkan tanda-tanda selesai—justru ia sedang membuktikan bahwa pengalaman panjang tidak harus membuat seorang petarung menjadi konservatif, melainkan dapat menjadi dasar untuk menemukan versi dirinya yang lebih berbahaya.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...