Jakarta – MotoGP telah melahirkan banyak juara dunia dengan karakter dan gaya balap yang berbeda. Namun, jika ukurannya adalah jumlah gelar di kelas utama, hanya segelintir pembalap yang benar-benar berada di puncak sejarah. Hingga saat ini, Giacomo Agostini masih memegang rekor dengan delapan gelar kelas premier, sementara Valentino Rossi dan Marc Márquez sama-sama telah mengoleksi tujuh gelar. Di bawah mereka terdapat legenda seperti Mick Doohan dengan lima titel serta sejumlah juara dengan empat mahkota.
Nama pertama sekaligus pemegang rekor adalah Giacomo Agostini. Legenda Italia tersebut memenangkan delapan gelar kelas utama, yakni tujuh secara beruntun bersama MV Agusta pada 1966–1972 dan satu lagi bersama Yamaha pada 1975. Dominasi Agostini pada era tersebut begitu luar biasa. MotoGP mencatat bahwa selama lima musim dari 1968 hingga 1972, Agostini memenangkan setiap balapan kelas utama yang berhasil ia selesaikan. Ia juga mengoleksi tujuh gelar kelas 350cc secara beruntun, sehingga total gelar dunia Agostini di seluruh kelas mencapai 15.
Di posisi berikutnya ada Valentino Rossi, salah satu ikon terbesar dalam sejarah olahraga motor. Rossi meraih tujuh gelar kelas utama, lima di antaranya secara beruntun pada 2001–2005. Dua gelar lainnya diraih pada 2008 dan 2009. Kehebatan Rossi tidak hanya terlihat dari jumlah titel, tetapi juga konsistensinya dalam persaingan selama lebih dari satu dekade. Ia tercatat mengoleksi 89 kemenangan dan 199 podium di kelas premier, sekaligus menjadi salah satu pembalap paling sukses lintas generasi. Secara keseluruhan, Rossi memiliki sembilan gelar dunia setelah menambahkan satu titel 250cc dan satu titel 125cc.
Menariknya, Marc Márquez kini berdiri sejajar dengan Rossi setelah memenangkan gelar MotoGP 2025. Gelar tersebut menjadi mahkota kelas utama ketujuh bagi pembalap Spanyol itu, sekaligus mengakhiri penantian selama enam tahun sejak gelar terakhirnya pada 2019. Márquez sebelumnya mendominasi MotoGP dengan enam titel dalam tujuh musim antara 2013 hingga 2019. Ia bahkan menjadi juara dunia kelas utama sebagai rookie pada 2013 dan kembali mempertahankannya pada 2014. Kesuksesan 2025 bersama Ducati juga membuat Márquez menjadi salah satu pembalap yang mampu memenangkan gelar kelas premier bersama lebih dari satu pabrikan.
Sebelum era Rossi dan Márquez, Mick Doohan menjadi penguasa utama MotoGP pada dekade 1990-an. Pembalap Australia tersebut memenangkan lima gelar kelas 500cc secara beruntun dari 1994 hingga 1998 bersama Honda. Dominasi Doohan sangat kuat, terutama berkat kemampuan mengendalikan motor di era 500cc yang terkenal liar dan menuntut fisik. Lima titel beruntun tersebut masih menempatkannya sebagai pembalap dengan gelar kelas utama terbanyak keempat sepanjang sejarah, hanya di belakang Agostini, Rossi, dan Márquez.
Di belakang kelompok tersebut terdapat beberapa legenda yang sama-sama mengoleksi empat gelar kelas utama. Mike Hailwood, John Surtees, Geoff Duke, dan Eddie Lawson merupakan nama-nama besar dari generasi berbeda yang berhasil mencapai prestasi tersebut. Hailwood bahkan memiliki sembilan gelar dunia jika seluruh kelas dihitung, sedangkan Surtees juga memiliki catatan unik karena pernah menjadi juara dunia Grand Prix dan kemudian meraih kesuksesan besar di Formula 1. Lawson sendiri menjadi salah satu penguasa era 1980-an dengan empat gelar kelas 500cc.
Persaingan daftar tersebut menjadi semakin menarik karena Márquez masih aktif dan pada 2025 telah menyamai Rossi dengan tujuh gelar kelas utama. Namun, jarak menuju rekor Agostini masih satu titel. Yang membuat pencapaian Márquez semakin istimewa adalah efisiensinya: hingga meraih titel ketujuh, ia mencatat 73 kemenangan dari 206 start kelas premier, sedangkan Rossi mengumpulkan 89 kemenangan dalam 372 start sepanjang karier kelas utamanya. Artinya, jika Márquez mampu menambah satu gelar lagi, pertarungan historisnya dengan Agostini akan menjadi salah satu cerita terbesar dalam sejarah MotoGP.
(Yp/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda