Jakarta – Joaquin “New Mansa” Buckley adalah salah satu petarung paling eksplosif yang muncul di kelas welterweight UFC dalam beberapa tahun terakhir. Lahir pada 27 April 1994 dan dibesarkan di St. Louis, Missouri, Buckley memiliki perjalanan hidup yang jauh lebih berat daripada sekadar cerita tentang seorang atlet berbakat. Ia tumbuh bersama ibunya dan sebagian besar masa kecilnya di rumah sang nenek. Ketika masih duduk di kelas enam, ibunya meninggal akibat masalah jantung. Kehilangan tersebut menjadi salah satu pengalaman paling membentuk dalam hidupnya. Namun, dari lingkungan yang tidak selalu mudah itulah Buckley membangun disiplin yang kemudian membawanya menuju dunia bela diri profesional.
Ketertarikannya terhadap pertarungan mulai mendapatkan bentuk ketika Buckley bersekolah di Marquette High School. Ia terlebih dahulu mengenal wrestling sebelum akhirnya semakin tertarik kepada mixed martial arts. Menurut profil resmi UFC, Buckley mulai berlatih bela diri pada 2012 karena memang sejak lama memiliki keinginan untuk bertarung. Dua tahun kemudian, ia memulai karier profesional MMA. Pada fase awal, Buckley menjalani pertandingan di berbagai organisasi, termasuk Shamrock FC, Bellator, dan Legacy Fighting Alliance (LFA). Ia membangun reputasi sebagai striker agresif dan mengakhiri banyak pertarungan sebelum bel berbunyi.
Perjalanan menuju panggung terbesar tidak berlangsung tanpa hambatan. Di Bellator, Buckley mencatat sejumlah kemenangan, tetapi juga mengalami kekalahan penting dari Logan Storley melalui keputusan mutlak pada Bellator 197 pada April 2018. Setelah itu, ia kembali bangkit dengan kemenangan atas Chris Harris dan Jackie Gosh di LFA. Dua kemenangan stoppage tersebut membawanya semakin dekat dengan UFC. Secara keseluruhan, sebelum memasuki UFC, Buckley telah mengumpulkan fondasi pengalaman yang cukup luas dari berbagai organisasi. Ia bukan prospek yang datang tanpa ujian, melainkan petarung yang sudah terbiasa menghadapi kemenangan sekaligus kemunduran.
Debut UFC-nya terjadi pada 8 Agustus 2020 melawan Kevin Holland. Buckley menerima kekalahan melalui TKO pada ronde ketiga, sebuah awal yang tentu jauh dari ideal. Namun, hanya dua bulan kemudian, ia menciptakan momen yang mengubah kariernya. Menghadapi Impa Kasanganay di Abu Dhabi, Buckley melepaskan tendangan kiri yang ditangkap lawan, lalu secara spontan memutar tubuh dan melontarkan jumping spinning back kick tepat ke wajah Kasanganay. Knockout pada ronde kedua itu menjadi salah satu KO paling ikonik dalam sejarah UFC, membuat namanya viral di seluruh dunia dan memberinya bonus Performance of the Night sebesar US$50.000.
Setelah kemenangan spektakuler tersebut, Buckley mulai membangun reputasi sebagai salah satu striker paling berbahaya di UFC. Ia mengalahkan Jordan Wright melalui KO, kemudian menghadapi periode karier yang naik-turun di kelas middleweight. Kekalahan dari Alessio Di Chirico, Antonio Arroyo, Chris Curtis, dan Nassourdine Imavov menunjukkan bahwa bakat eksplosif saja belum cukup untuk menembus papan atas. Buckley kemudian mengambil keputusan besar: turun ke welterweight. Langkah tersebut terbukti menjadi titik balik. Setelah debut di 170 pound dengan kemenangan atas André Fialho pada 2023, ia terus berkembang dan menunjukkan kemampuan bertarung selama tiga ronde, termasuk kemenangan dominan atas Alex Morono.
Tahun 2024 menjadi periode paling menentukan dalam kebangkitan Buckley. Ia menghentikan Vicente Luque, mengalahkan Nursulton Ruziboev melalui keputusan mutlak, kemudian menciptakan KO spektakuler atas legenda striking Stephen “Wonderboy” Thompson pada UFC 307. Dua bulan kemudian, ia menundukkan mantan juara interim Colby Covington melalui TKO akibat penghentian dokter pada ronde ketiga. Empat kemenangan dalam periode singkat tersebut membuat Buckley menjelma dari petarung berbahaya menjadi kandidat serius di papan atas kelas welter. UFC bahkan mencatat bahwa ia meraih empat kemenangan pada 2024, tiga di antaranya melalui knockout.
Di balik gaya bertarungnya yang eksplosif terdapat karakter kompetitif yang sangat percaya diri. Buckley dikenal dengan kombinasi pukulan keras jarak dekat, tendangan berbahaya, pertahanan takedown yang solid, serta kemampuan improvisasi yang membuat lawan sulit membaca serangannya. Data UFC mencatat sekitar 71 persen kemenangan profesionalnya datang melalui KO/TKO, sementara ia juga memiliki pertahanan takedown sekitar 70 persen. Ia berlatih di STL Boxing dan sebelumnya menghabiskan sebagian besar kariernya berlatih di Michigan bersama Murcielago MMA. Kepindahan kembali ke St. Louis bukan hanya persoalan latihan, tetapi juga upaya menyeimbangkan karier, keluarga, dan perannya sebagai ayah.
Filosofi Buckley tercermin dari julukannya, “New Mansa”. Ia mengambil inspirasi dari Mansa Musa, penguasa Kekaisaran Mali yang terkenal dalam sejarah karena kekayaan dan pengaruhnya. Bagi Buckley, nama tersebut merepresentasikan ambisi untuk menjadi pemimpin dan membangun versinya sendiri tentang kesuksesan. Ia juga percaya bahwa perubahan diperlukan agar seorang petarung terus berkembang. Prinsip itu terlihat jelas dalam kariernya: dari wrestling di St. Louis, berpindah-pindah organisasi, mengalami kekalahan di UFC, menciptakan salah satu KO paling viral dalam sejarah MMA, hingga menemukan kembali dirinya di kelas welterweight.
Hingga Agustus 2026, Buckley memiliki rekor profesional 21 kemenangan dan 8 kekalahan, dengan 15 kemenangan melalui KO/TKO dan enam melalui keputusan. Di UFC, ia mencatat 11 kemenangan dan enam kekalahan. Kekalahan terakhirnya terjadi pada 9 Mei 2026 ketika ia dikalahkan Sean Brady melalui keputusan mutlak di UFC 328. Setelah itu, Buckley masih berada di jajaran atas kelas welter dan dijadwalkan menghadapi Mike Malott pada 17 Oktober 2026. Terlepas dari hasil pertandingan terakhirnya, perjalanan Buckley menunjukkan bahwa dirinya bukan sekadar pemilik KO viral. Ia adalah petarung yang terus berevolusi—dan di usia 32 tahun, kisah “New Mansa” di kelas welter UFC masih jauh dari selesai.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget and