Jakarta – Erin Blanchfield bukan tipe petarung yang membutuhkan banyak kata untuk menjelaskan siapa dirinya. Di dalam oktagon, perempuan asal Amerika Serikat yang dikenal dengan julukan “Cold Blooded” ini membangun reputasinya lewat ketenangan, tekanan tanpa henti, dan kemampuan grappling yang sangat matang. Berkompetisi di divisi flyweight UFC, Blanchfield berkembang dari seorang atlet bela diri muda menjadi salah satu nama penting dalam persaingan kelas 125 pon.
Lahir pada 4 Mei 1999 dan dibesarkan di Elmwood Park, New Jersey, Blanchfield mengenal seni bela diri sejak usia tujuh tahun. Awalnya, ia hanya ingin mempelajari bela diri untuk mempertahankan diri, tetapi kompetisi segera mengubah rasa ingin tahunya menjadi obsesi. Ia mulai bertanding pada usia delapan tahun, lalu menerima pertandingan kickboxing pertamanya ketika berusia 14 tahun hanya dengan pemberitahuan sehari sebelumnya. Kemenangan angka dalam laga tersebut semakin meyakinkannya bahwa bertarung bukan sekadar hobi. Sejak usia 12 tahun, ia bahkan sudah membayangkan dirinya suatu hari tampil di UFC. Julukan “Cold Blooded” sendiri diberikan oleh ayahnya karena ekspresi Erin hampir tidak berubah ketika sedang berkompetisi—sebuah karakter yang kemudian benar-benar tercermin dalam cara ia bertarung.
Fondasi terbesar Blanchfield dibangun melalui grappling dan Brazilian jiu-jitsu. Ia menorehkan prestasi penting ketika menjadi juara flyweight perempuan pertama sekaligus juara termuda di Eddie Bravo Invitational pada usia 18 tahun. Pencapaian itu menjadi salah satu jembatan menuju MMA profesional. Blanchfield memulai karier profesionalnya pada 2018 dan kemudian mengasah kemampuannya di Invicta Fighting Championships, salah satu organisasi MMA perempuan paling penting di Amerika Serikat. Di sana ia membukukan rekor 4-1. Satu-satunya kekalahan pada fase awal kariernya datang melalui keputusan terbelah dari Tracy Cortez pada 2019, sebuah hasil yang kelak memberinya kesempatan untuk membalasnya di panggung UFC.
Debut UFC datang pada 18 September 2021 saat Blanchfield berusia 22 tahun. Ia mengalahkan Sarah Alpar melalui keputusan mutlak, sebelum kembali menunjukkan kematangannya saat menundukkan Miranda Maverick. Perjalanan berikutnya menjadi semakin meyakinkan. Blanchfield menaklukkan JJ Aldrich dengan guillotine choke, lalu mencuri perhatian besar di UFC 281 dengan mengunci Molly McCann melalui kimura pada ronde pertama. Kemenangan tersebut memperlihatkan ciri khasnya: ia tidak sekadar mencari takedown, tetapi mampu mengubah setiap posisi menjadi ancaman submission.
Titik ledak popularitasnya datang pada Februari 2023 ketika ia menghadapi mantan juara UFC, Jéssica Andrade. Andrade dikenal sebagai petarung kuat dan berbahaya, tetapi Blanchfield tetap tenang di bawah tekanan. Setelah melalui ronde pertama yang kompetitif, ia membawa pertarungan ke area yang menjadi wilayah kekuasaannya dan memaksakan rear-naked choke pada ronde kedua. Kemenangan itu langsung menempatkannya di antara penantang paling serius di kelas flyweight. Enam bulan kemudian, ia kembali membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar spesialis submission dengan mengalahkan Taila Santos lewat keputusan mutlak.
Perjalanan menuju gelar tidak selalu lurus. Pada Maret 2024, Blanchfield menghadapi Manon Fiorot dalam laga lima ronde dan kalah melalui keputusan mutlak. Kekalahan itu menjadi ujian besar karena untuk pertama kalinya sejak awal perjalanan UFC-nya, momentum Blanchfield benar-benar terhenti. Namun, responsnya menunjukkan mentalitas kompetitif yang menjadi bagian penting dari karakternya. Ia kembali pada November 2024 dan meraih kemenangan besar atas mantan juara strawweight UFC, Rose Namajunas, melalui keputusan mutlak setelah lima ronde. Kemudian, pada November 2025, ia menuntaskan kisah lama dengan menaklukkan Tracy Cortez melalui rear-naked choke pada ronde kedua—membalas kekalahan yang pernah dialaminya enam tahun sebelumnya.
Gaya bertarung Blanchfield berangkat dari grappling, tetapi akan terlalu sederhana jika hanya menyebutnya sebagai petarung jiu-jitsu. Ia memiliki striking yang terus berkembang, terutama untuk membuka jalan menuju clinch dan takedown. Begitu pertarungan memasuki jarak dekat, tekanan Blanchfield menjadi semakin berbahaya. Ia pandai mengontrol posisi, sabar membangun transisi, dan tidak terburu-buru mengejar submission. Kimura menjadi salah satu teknik favoritnya, tetapi rekornya juga menunjukkan variasi penyelesaian melalui guillotine, Americana, rear-naked choke, serta kemenangan KO/TKO dan keputusan. Filosofi bertarungnya terasa sederhana: tetap tenang, membaca situasi, lalu memanfaatkan kesalahan lawan dengan efisiensi.
Di balik ketenangan itu terdapat disiplin latihan yang keras. Dalam profil resminya, Blanchfield menyebut dirinya menjalani latihan dua kali sehari, enam hari dalam seminggu. Rutinitas tersebut menggambarkan pendekatannya terhadap karier: perkembangan tidak datang dari satu kemenangan besar, melainkan dari pekerjaan berulang yang dilakukan jauh dari sorotan. Ia juga pernah menempuh studi Television and Digital Media dengan konsentrasi sports media di Montclair State University dan menyatakan minat untuk terjun ke dunia komentator, menunjukkan bahwa pandangannya terhadap olahraga ini tidak hanya terbatas pada masa aktifnya sebagai petarung.
Per Agustus 2026, Blanchfield tetap menjadi salah satu kekuatan utama flyweight perempuan UFC. Rekor profesionalnya tercatat 14 kemenangan dan 2 kekalahan, dengan lima kemenangan submission dan dua kemenangan KO/TKO. Lebih dari sekadar angka, perjalanan “Cold Blooded” menggambarkan seorang atlet yang tumbuh melalui disiplin dan kesabaran. Kekalahan dari Cortez dan Fiorot tidak menghentikan langkahnya; justru keduanya menjadi bagian dari proses pembentukan seorang penantang elite. Dengan usia yang masih relatif muda dan kemampuan grappling yang telah teruji di level tertinggi, Erin Blanchfield masih berada dalam perjalanan panjang—dan ambisinya untuk mencapai puncak divisi flyweight tampaknya belum pernah sedingin ekspresinya ketika pintu oktagon tertutup.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda